
"Hai sayang," ucap Joanna saat melihat Gaby keluar dari ruang kelasnya.
"Tante siapa? Dimana Eyang? " tanya Gaby.
Hari itu menang Gaby tak diantar oleh Sarah karena wanita yang sudah tidak muda lagi itu merasa sedikit tidak enak badan, alhasil Kardi yang mengantar Gaby ke sekolah.
Karena Kardi harus menjemput Aryanti dari suatu tempat, dia meninggalkan Gaby tanpa meminta izin atau menitipkan Gaby terlebih dahulu kepada gurunya.
Dia berpikir dirinya hanya pergi sebentar dan akan kembali sebelum Gaby keluar kelas.
Tapi ternyata Gaby pulang lebih awal hari itu karena ada salah satu guru di sekolah itu yang meninggal dunia. Para guru akan pergi melayat dan akhirnya semua murid belajar hanya setengah pelajaran saja.
"Mama? Selama ini aku tidak punya Mama, aku hanya punya Papa," ucap Gaby pada Joanna.
Gaby memang tidak pernah Bertemu dengan Joanna bahkan Gaby tidak tahu rupa wajah Mamanya yang sudah melahirkan dirinya.
"Ini Mama sayang, ayo peluk Mama." Joanna merentangkan tangannya pada Gaby! Matanya berkaca-kaca, kesedihan mulai menghampirinya saat Gaby hanya diam mematung dan tak merespon dirinya.
"Maaf Tante, aku tidak bisa. Papa bilang aku tidak boleh terlalu dekat dengan orang asing." Gaby mundur dua langkah untuk menjauh dari Joanna.
Tapi Joanna tak pantang menyerah, dirinya terus berusaha agar Gaby mau ikut dengannya.
Setelah bertahun-tahun Joanna tidak muncul di kehidupan Darren dan Gaby, tiba-tiba dia datang dan ingin mengajak Gaby bermain.
Entah apa yang ada dalam pikiran Joanna tapi yang pasti, wanita itu tidak mungkin menginginkan Gaby.
Joanna memperlihatkan foto-foto dirinya saat sedang bersama dengan Darren dan keluarganya, tak lupa ia juga memperlihatkan foto dirinya saat sedang mengandung Gaby.
"Ini bukti bahwa Mama ini adalah Mamanya Gaby, Mama kandung Gaby."
Gaby menatap wajah Joanna lalu mulai mendekat pada wanita yang mengaku sebagai Mamanya itu.
Perlahan Gaby menyentuh pipi Joanna lalu mengelus pipi mulus itu dengan ibu jarinya!
"Ini beneran Mamaku?"
"Iya sayang, ayo kita pulang! Mama akan mengantarmu ke rumah Papamu tapi sebelum itu kita jalan-jalan dulu. Mama ingin sekali bermain bersama kamu maaf ya Mama baru bisa datang hari ini untuk menemui kamu."
"Gaby mau main sama Mama."
Joanna pun langsung membawa Gaby pergi dari area sekolah itu.
Tak lama setelah Joanna dan Gaby pergi, Kardi datang untuk menjemput Gaby namun sekolah itu terlihat sepi karena semua orang susah meninggalkan bangunan sekolah itu.
Saat itu hanya ada seorang satpam yang berjaga di sana.
"Pak, pada kemana murid di sini?" tanya Kardi pada Pak Satpam.
"Sudah pada pulang Pak, baru aja," sahut Pak Satpam.
"Pulang? Lalu Gaby?"
__ADS_1
"Tadi Gaby dijemput oleh seorang wanita katanya dia Mamanya Gaby."
Kardi terkejut mendengar perkataan Satpam itu, setahunya selama ini Gaby tidak pernah bertemu dengan Mamanya.
"Astaga, kemana perginya mereka Pak? Gaby tidak pernah mengenal Mamanya, jangan-jangan orang itu adalah penculik."
"Ke sana Pak!" Satpam itu menunjuk ke arah jalan yang berlawanan dengan arah jalan menuju rumah Gaby.
"Ya sudah, terimakasih ya Pak."
Kardi langsung pergi meninggalkan Pak Satpam itu, dia harus segera menemukan Gaby sebelum sesuatu yang tak diinginkan terjadi pada bocah itu.
Sambil menyetir, Kardi menelpon Darren untuk memberitahukan tentang menghilangnya Gaby.
*******
Di sebuah taman, Gaby menangis ingin pulang namun Joanna tak juga mengantarkannya pulang.
"Tante, aku ingin pulang," rengek Gaby.
"Gaby kenapa kamu ingin pulang terus, ini Mama, kamu sama Mama aja ya. Nanti kita temui Papa kamu di kantornya." Joanna terus membujuk Gaby agar bocah itu tidak menangis lagi.
Gaby yang tidak mengenali Joanna terus menangis karena ingin bersama dengan keluarga yang selama ini mengurusnya dan menemaninya.
"Aku ingin Nenek, aku ingin sama Nenek." Gaby terus merajuk pada Joanna.
"Diam! Diam Gaby!" Merasa tak sabar dengan Gaby yang terus menangis, akhirnya Joanna membentak gadis kecil itu hingga dia terperanjat.
Tangisan gadis kecil itu semakin deras dan suaranya pun semakin kencang, hal itu memicu perhatian dari orang-orang sekitar yang juga ada di taman itu.
Dari tempat yang tidak terlalu jauh, tanpa sengaja Mei mendengar suara tangisan seorang anak, dia pun merasa penasaran dengan apa yang terjadi dengan anak itu karena tangisnya sangat histeris.
Mei pun berjalan cepat menghampiri Gaby dan Joanna!
"Anaknya kenapa Mbak? Kok nangis sampai kayak gitu?" tanya Mei pada Joanna.
"Ini Mbak, anak saya minta coklat tapi saya gak kasih karena belum diperbolehkan oleh Dokter, anak saya menderita sakit dibagian giginya," ucap Joanna berbohong.
"Oh, saya pikir ada apa. Kalau gitu saya permisi deh ya." Mei pun kembali melanjutkan langkahnya untuk segera kembali ke pasar.
"Papa! Nenek! Kalian dimana? Aku mau Papa, aku mau Papa." Gaby berlari tanpa arah agar dia bisa pergi dari sana.
Mendengar teriakan Gaby Mei pun menghentikan langkahnya dan berbalik arah menjadi menatap Gaby.
Saat itu terlihat dengan jelas wanita yang bersama Gaby itu, mengejar Gaby lalu menarik tangan gadis kecil itu dengan kasar.
"Kamu jadi anak kecil gak bisa dibilangin banget ya, disuruh diam ya diam!" ucap Joanna dengan nada tinggi.
Mei yang melihat itu pun merasa ada yang salah dengan ibu dan anak itu. Dia pun kembali menghampiri Gaby dan Joanna!
"Maaf Mbak, bukannya saya ikut campur urusan Mbak tapi gak baik Mbak berteriak pada anak sekecil ini," ucap Mei.
__ADS_1
"Diam kamu, saya tahu apa yang harus saya lakukan pada anak saya ini." Joanna malah marah karena tak terima diingatkan oleh Mei.
"Aku gak kenal sama Tante, aku gak punya Mama, aku mau sama Papa, aku mau Papa."
"Kamu mau menculik anak ya? Siapa kamu?" Mei menatap Joanna dengan tatapan tajam.
*******
Darren sedang dilanda kepanikan yang tinggi setelah mendapat kabar bahwa Gaby ada yang membawa pergi, dia pun langsung keluar dari kantornya dan bergegas mencari Gaby.
"Sayang, kamu dimana?" tanya Darren pada dirinya sendiri.
Darren terus melajukan mobilnya tanpa tujuan, dia harus mencari Gaby sampai ketemu.
"Sayang, semoga kamu baik-baik saja."
*******
"Non Gaby kemana ya, saya sudah mencari dia di mana-mana tapi gak ketemu juga," gumam Kardi.
Saat itu, Kardi sudah berkeliling di tempat itu untuk mencari Gaby, sambil memperlihatkan foto Gaby, dia juga sudah bertanya pada semua orang yang dia temui apakah ada yang melihat Gaby namun semua orang di sana tidak ada yang melihat gadis kecil itu.
"Jangan sampai Non Gaby hilang beneran, bisa-bisa habis aku sama Ibu dan Bapak." Kardi semakin khawatir karena Gaby belum juga ditemukan.
Sudah hampir setengah hari dirinya mencari ke sana dan kemari namun dirinya tidak juga menemukan Gaby.
*******
"Dek, jangan nangis lagi orang itu sudah pergi," ucap Mei sembari menghapus air mata Gaby.
Saat itu Joanna langsung pergi setelah diancam akan dilaporkan pada Polisi oleh Mei.
"Sayang, dimana rumah kamu?" tanya Mei.
Gadis kecil itu menggelengkan kepalanya, dia tidak tahu dimana rumahnya berada.
"Gak tahu? Terus gimana kamu mau pulang?"
Gaby kembali menangis, gadis kecil itu sangat ketakutan, dia takut dirinya tidak bisa pulang dan tidak bisa bersama lagi dengan orang tuanya.
"Jangan nangis. Jangan nangis ya, kita cari rumah kamu dimana ya." Mei menggendong Gaby lalu membawanya pergi dari tempat itu!
"Kemana aye bawa nih anak kecil, gak mungkin aye bawa pulang ke rumah aye nanti yang ada ni bocah malah nangis kejer," ucap Mei didalam hatinya.
"Oh ya, kamu sekolah di mana?" Melihat Gaby yang masih menggunakan seragam sekolah, Mei pun bertanya pada Gaby dimana sekolahnya.
Dari sekolah lah, Gaby dibawa pergi oleh orang yang tidak dikenal itu dan dari sekolah lah, Mei akan mengetahui dimana tempat tinggal Gaby.
"Di sekolah xxx," sahut Gaby.
"Oke, kalau gitu kita ke sekolah kamu. Di sana pasti ada orang yang tahu dimana rumah kamu dan pastinya mereka juga punya nomor telepon orang tua kamu."
__ADS_1
"Kakak benar tapi aku gak tahu jalan menuju sekolah." Gaby kembali menangis, ketakutannya kembali muncul dalam hatinya.
Bersambung