
Setelah berusaha bertanya pada orang-orang terdekatnya Mei, tetapi tidak ada yang tahu di mana Mei saat ini. Darren langsung pergi ke kantor polisi untuk melaporkan tentang hilangnya Mei. Karen, Dion dan Joni juga ikut ke kantor polisi untuk menemani Darren. Mereka yang melihat Darren begitu khawatir pada Mei, merasa takut terjadi apa-apa pada Darren jika dia pergi sendirian. Mereka tahu benar kalau Darren akan sangat panik saat terjadi sesuatu pada Mei, karena itulah mereka harus mendampingi Darren saat berkendara.
Di dalam mobil yang dikemudikan oleh Dion. Darren terus berusaha menelpon Mei. Namun tak satu kali pun telponnya tersambung, dia semakin khawatir pada istrinya itu.
"Ya Allah, di mana istriku? Tolong lindungilah dia," gumam Darren.
*******
Di sebuah jalan.
Di dalam mobil milik Hengky.
Mei baru tersadar dari pingsannya. Dia merasa pusing dan sakit di kepalanya, perlahan dia membuka matanya dan mencoba mencerna penglihatannya yang buram. Dia melihat dirinya ternyata sedang berada dalam sebuah mobil dengan posisi meringkuk, dia pun melihat ke arah kaca mobil itu dan ternyata memang benar, dirinya sedang berada dalam mobil.
"Aye mau dibawa ke mana?" batin Mei.
Mei berusaha untuk duduk duduk tapi ternyata, dia baru sadar bahwa tangannya sudah diborgol dan kakinya juga terikat dengan rantai. Mei melihat ke depan mobil itu, dia melihat ada seorang sopir yang tengah mengendarai mobil itu.
"Siapa kamu? Kenapa aye diborgol? Aye bukan penjahat," ucap Mei sembari berusaha membuka borgol itu.
Laki-laki itu hanya diam sambil terus melajukan mobilnya. Dia tak berniat untuk menjawab pertanyaan Mei yang tidak terlalu penting itu. Mei ingin sekali melihat wajah si pengemudi itu, tapi sayangnya dia tidak bisa melihatnya karena sopir itu menggunakan topi dan juga masker yang menutupi sebagian wajahnya.
Mei meringis merasakan sakit pada pundaknya. Dia baru ingat bahwa tadi dia sempat diserang oleh sekelompok penjahat.
"Siapa kamu? Aye mau dibawa ke mana?" tanya Mei lagi akan tetapi tidak ada jawaban dari laki-laki itu.
*******
Di kantor polisi.
"Maaf, Pak. Kami tidak bisa memproses laporan, Anda karena orang kalian maksud baru pergi tadi pagi. Mungkin saja orang itu sedang pergi ke suatu tempat dan kebetulan handphonenya lowbat," jelas Pak Polisi yang menerima laporan dari Darren.
"Tapi, Pak. Tidak bisanya istri saya seperti ini. Dia tidak pernah pergi tanpa meminta izin dari saya," jelas Darren.
__ADS_1
"Tidak bisa, Pak. Setelah satu kali dua puluh empat jam istri, Anda belum ada kabar juga. Kami baru akan memproses laporan ini dan akan mulai melakukan pencarian terhadap istri, Anda," ucap Pak Polisi itu lagi.
Darren tak bisa berbuat apa-apa karena memang peraturannya seperti itu. Mereka pun segera pergi dari kantor polisi lalu berusaha lagi untuk mencari Mei.
"Di mana kamu, Mei?" gumam Darren.
"Gue ingat," ucap Karen.
"Apa? Kamu tahu di mana Mei?" tanya Darren.
"Bukan. Tadi ada orang yang datang ke pasar, dia mencari Mei, katanya dia pernah ditolong oleh Mei," ucap Karen.
"Lalu, apa hubungannya dengan hilangnya Mei?" tanya Dion.
"Kalian ingat gak, sih? Tempo hari Mei pernah menyelamatkan seorang ibu dari penculikan. Bisa jadi penjahat itu dendam pada Mei dan akhirnya mereka menculik Mei," jelas Karen.
"Nggak-nggak, jangan sampai itu terjadi. Tolong temukan dia, ayo kita cari Mei sekarang juga! Aku tidak bisa menunggu sampai dua puluh empat jam. Aku takut istriku itu kenapa-kenapa," ucap Darren.
"Sekarang kita ke pasar dulu deh. Biar kita cari Mei berpencar, gue akan cari Mei pakai motor gue aja," ucap Dion.
*******
Di kediaman Babeh Rojak.
"Ya Allah, Bang. Ke mana anak kita itu?" ucap Nyak Saroh yang saat itu sudah menangis deras karena khawatir pada Mei yang sudah tidak bisa dihubungi lagi.
"Apa yang terjadi sama anak itu. Kayaknya, babeh kudu pergi untuk mencari dia," ucap Babeh Rojak.
"Aye ikut," ucap Nyak Saroh.
"Kagak usah. Lu diam saja di rumah, biar gue yang cari anak kita sampai ketemu," ucap Babeh Rojak lalu pergi dari rumahnya.
Semua orang di rumah itu sangat mengkhawatirkan Mei termasuk Amel dan Alif. Niki dan Bayu tak bisa hanya menunggu di rumah, akhirnya mereka berpamitan pada Nyak Saroh untuk mencari Mei di tempat biasa Mei nongkrong.
__ADS_1
"Nyak ikut," ucap Nyak Saroh pada Bayu dan Niki.
"Jangan, Nyak. Kalau Nyak juga ikut, gak ada yang jagain Alif dan Amel," ucap Bayu.
"Iya, Nyak. Lagipula, Om Darren dan teman-temannya kak Mei sedang berusaha mencari dan lagi mereka juga sudah lapor polisi. Semoga Kak Mei segera ditemukan," ucap Niki.
*******
Di kediaman Bu Aryanti.
Semua orang rumah itu juga panik dan khawatir setengah mendengar kabar dari Darren yang katanya Mei tidak bisa dihubungi dan ternyata sedari pagi, Mei tidak pergi ke pasar. Mereka tahu Mei adalah perempuan tangguh yang pandai bela diri tapi karena kemampuannya itu yang semakin membuat mereka khawatir. Mereka takut ada seseorang yang dendam pada Mei hingga melakukan sesuatu yang buruk terhadap Mei.
"Kita doakan saja semoga, Mei selamat," ucap Bu Sarah.
"Semoga saja, Ma. Aku gak bisa membayangkan kalau sesuatu terjadi pada Mei. Apa yang akan terjadi pada Darren nantinya. Mama tahu, 'kan kalau dia sangat mencintai Mei," ucap Bu Aryanti.
"Mama, jangan berburuk sangka dulu. Siapa tahu Mei memang sedang pergi bersama temannya dan lupa izin sama Darren," ucap Pak Wiliam.
"Gimana, Mama gak berburuk sangka, Pa. Mei gak bisa ditelpon," ucap Bu Aryanti lagi.
*******
Malam sudah tiba tapi Darren dan yang lainnya belum juga menemukan Mei. Di jalan itu, Darren terus melaju tanpa arah dan tujuan, dia masih ingin mencari Mei meski hari sudah memasuki tengah malam. Dia sudah bertanya pada banyak orang apakah ada diantara mereka yang melihat Mei, tapi ternyata tak satu pun dari mereka yang melihat Mei di sana.
Ponsel Darren berdering, tanda adanya seseorang yang menelponnya. Dia melihat layar ponselnya dan terlihat nama Karen di sana. Darren pun langsung menerima telpon itu, dia berharap Karen atau yang lainnya sudah menemukan Mei.
[Kamu sudah menemukan Mei?] tanya Darren tanpa bersama lagi.
[Belum, tapi kita mau melanjutkan pencarian. Kamu pulang saja dan istirahat biar kita yang cari Mei.]
[Gak mungkin. Aku gak mungkin pulang tanpa Mei, aku akan tetap mencarinya.]
[Ya udah terserah. Hati-hati,jangan sampai kamu celaka dan bikin tambah masalah.] Karen langsung mematikan sambungan telponnya tanpa berkata lagi pada Darren.
__ADS_1
Bersambung