
"Mei kita mau makan dimana?" tanya Mario sambil terus fokus menyetir.
"Terserah kamu aja yang penting aye gak disuruh bayar."
"Kamu ini, bercanda aja." Mario tertawa renyah.
"Aye serius, eh ngomong-ngomong kamu gak benci dengan penampilan aye yang aslinya?"
"Penampilan yang mana? Aku rasa tidak ada yang perlu tidak disukai dari diri kamu."
"Kamu udah tahu kalau aye ini seorang preman."
"Nggak. Kamu kan gak bilang kalau kamu preman tapi kalau pun kamu seorang preman apa salahnya kita berteman kali aja jadi nyaman kan."
"Kamu bisa aja, preman kan selalu jelek dalam pandangan orang."
"Gak selalu begitu Mei, buktinya aku ... aku gak menilai kamu jelek, justru aku suka sama kamu."
"Suka yang bagaimana dulu nih."
"Suka dengan semua yang ada pada diri kamu."
Mei tersenyum lalu kembali fokus pada jalan yang sedang mereka lalui.
"Aye lebih suka makan di pinggir jalan yang harganya gak mahal tapi rasanya enak."
"Dimana tempatnya? Kita makan ditempat yang kamu suka aja."
"Udah kelewatan, kita makan di tempat pilihan kamu aja dah kan kamu yang ngajak."
"Ya udah, kita makan di restoran yang ada didepan sana aja."
**********
"Pa, Papa lagi ngapain duduk di sini sendirian lagi," ucap Gaby pada Darren.
Darren menoleh menatap sang putri yang sedang berdiri dibelakangnya. Sebuah senyuman manis tersuguh untuk Gaby yang imut itu.
"Sayang, Papa lagi pengen sendiri aja. Kenapa, kamu mau ditemenin tidur sama Papa ya?"
"Nggak, aku mau nanyain tentang janji Papa."
"Janji yang mana?"
"Tadi katanya pulang mau bawa Mama. Mana Mama nya kok gak ada?"
"Sayang, nyari Mama tuh susah banget kayak nyari jarum yang jatuh ke dalam tumpukan jerami jadi kamu sabar dulu ya."
__ADS_1
"Yah lama, aku gak sabar."
"Sebentar lagi ya sayang." Darren mengusap pipi Gaby dengan jempol tangannya.
*******
"Gimana? Kamu suka makanannya?" tanya Mario setelah Mei menyantap makanan yang dipesannya.
"Enak, aye suka." Mei kembali menikmati makanan itu.
"Boleh aku bertanya?"
"Tanya saja, kalau tahu pasti aku jawab tapi kalau gak tahu aku mau bilang apa."
"Kamu punya pacar?" Mario menatap Mei dengan mata yang tak berkedip sekalipun.
Mei tak langsung menjawab, dia balik menatap Mario dengan tatapan aneh.
"Jangan sampai kamu gak tahu kalau kamu punya pacar atau nggak nya."
"Ya tahu lah, aye belum punya pacar."
"Kenapa? Gak mungkin gak ada yang mau sama kamu."
"Aye gak minat pacaran lama-lama."
"Kok bisa?"
"Pekerjaan? Kok pekerjaan?"
"Iya soalnya dari tadi kamu nanya-nanya mulu kayak wartawan."
"Ya kan lagi pengenalan, aku tidak bekerja, aku ini pengangguran."
"Pengenalan kok nanyain pacar? Kalau pengenalan biasanya nanyanya apa yang disukai dan apa yang gak disukai deh."
"Itu terlalu pasaran, untuk mengenal kamu lebih jauh aku harus menggunakan cara yang langka yang jarang digunakan oleh orang lain."
"Ada-ada aja."
*******
"Kenapa kamu, kayak lagi pusing gitu?" tanya Jihan ~ temannya Joanna.
"Aku ingin kembali pada Darren, ternyata Zayyan tidak benar-benar mencintai aku," ucap Joanna.
"Maksudnya?" tanya Virnie ~ teman Joanna yang lainnya.
__ADS_1
"Sekarang dia pergi bersama wanita lain yang lebih kaya dari aku setelah perusahaan Papaku mulai turun."
"Bukankah kamu yang meminta perpisahan pada Darren dan dengan terang-terangan pada keluarganya kalau kamu ingin hidup bersama Zayyan. Apa yang akan dikatakan oleh mereka nantinya, apa kamu tidak malu dengan ucapanmu sendiri?"
"Mau bagaimana lagi, cuma Darren yang bisa menyelamatkan perusahaan Papaku. Papanya Darren pasti bersedia menyuntikkan dana untuk perusahaan Papaku."
"Coba saja Joo, aku dengan Darren juga belum menikah lagi, mungkin sebenarnya dia masih mencintai kamu."
*******
Di kamar Darren.
Setelah makan malam bersama dengan keluarganya Darren memilih segera masuk ke dalam kamarnya karena ada urusan pekerjaan yang harus dia selesaikan tapi setibanya di dalam kamarnya Darren malam sibuk main ponsel dan mencari sosial medianya Mei.
Entah kenapa dirinya terus teringat pada Mei apalagi saat pertama melihat Mei menggunakan gaun pesta dan saat Mei tersenyum padanya sungguh sangat sulit dilupakan.
Akhirnya Darren mencari Facebook Mei untuk mencuri beberapa foto yang diposting oleh Mei.
"Kok gak ada, gak mungkin anak muda zaman sekarang gak punya sosial media," gumam Darren.
Bosan dengan ponselnya, Darren merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya! Matanya melotot memandangi langit-langit kamarnya pikirannya melayang mengingat-ingat semua kejadian bersama dengan Mei.
"Preman pasar itu memang beda, dia cantik dan juga baik dia juga ramah pada semua orang dan yang paling penting dia selalu hormat pada orang tua." Tak terasa sebuah senyuman terukir di bibir Darren saat mengingat Mei yang sedang mengoceh padanya.
"Astaga, kenapa aku ini? Kenapa gak bisa lupa sama preman pasar itu?" Darren merubah posisinya menjadi tengkurap dan mencoba menutup matanya berharap dirinya bisa tidur di jam segini.
Setelah mencoba untuk tidur namun dirinya tetap tak bisa tidur malah dirinya ingin sekali bertemu dengan Mei.
Darren pun bangkit dari tidurnya, dia duduk lalu mengusap wajahnya kasar.
"Gak mungkin aku jatuh cinta sama preman itu?" Darren mencoba menyangkal perasaan yang terus mengganggu ketenangan jiwanya.
*******
"Makasih ya udah ngajak aye makan malam di luar, makasih juga karena udah nganterin aye pulang dengan selamat."
"Jangan berterimakasih, justru seharusnya aku yang berterimakasih karena kamu mau makan sama aku."
"Mario, terimakasih ya lu udah balikin anak gue dengan utuh tanpa kurang suatu apapun," ucap Rojak.
"Iya Om, anak Om masih utuh kok tadi aku mau gigit tapi anak Om lebih ganas dari aku jadinya gak jadi deh gigitnya," ucap Mario dengan senyum di bibirnya.
Selain tampan kayak artis India, Mario juga suka bercanda seperti Bang Haji Andre taulani sang pelawak Indonesia.
"Lu emang paling bisa bikin gue ketawa. Masuk dulu dah, kita ngobrol di dalam."
"Terimakasih Om lain kali aja, sekarang udah malam aku harus pulang."
__ADS_1
Bersambung