Duda Bucin VS Preman Cantik

Duda Bucin VS Preman Cantik
bab 65


__ADS_3

Keesokan harinya.


Pagi hari sekitar pukul sembilan pagi. Satya sudah pulih dan sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit, dua hari dirawat di sana membuat dirinya merasa seperti dipenjara. Hari ini dia sudah bisa pulang dan bisa melakukan kegiatannya seperti biasanya.


"Gadis itu sudah ketemu?" tanya Satya sembari berjalan ke luar dari ruangan rawat itu.


"Belum, tapi Anda tidak usah khawatir. Hari ini kami akan mengetahui siapa gadis itu dan di mana dia tinggal," jelas bodyguard Satya.


"Seyakin itu," ucap Satya lagi.


"Gadis itu bekerja di salah satu pasar yang berada di sekitar daerah tempat Anda diserang oleh orang-orang tak dikenal itu. Dia bukan gadis biasa, semua orang di pasar itu patuh pada perintahnya dan mereka juga patuh pada perintah ayahnya," jelas bodyguard itu lagi sambil terus berjalan berdampingan dengan Satya.


"Saya ingin ke pasar itu sekarang juga," ucap Satya.


"Tapi, Anda belum sepenuhnya pulih."


"Saya bisa lagipula di sana gak akan ada yang mengeroyok saya lagi," ucap Satya.


"Di sana ada tiga orang rekan gadis yang bernama Mei. Mereka juga tidak bisa diremehkan karena mereka mempunyai kemampuannya bela diri yang mumpuni," jelas bodyguard itu lagi.


"Petugas keamanan psar tradisional saja harus sehebat itu?" ucap Satya penuh tanya.


"Mei bukan petugas keamanan bisa. Menurut informasi yang kami dapat, gadis itu juga melindungi semua warga yang dikenal maupun yang tidak dikenal yang sedang dalam kesulitan. Dia banyak dikenal karena kebaikannya dan satu lagi kadang gadis itu narik angkot milik ayahnya saat sopirnya tidak narik," jelas bodyguard itu lagi.


"Gadis itu cukup membuat saya penasaran. Kita langsung ke pasar saja," ucap Satya.


"Baik, Pak tapi, Anda yakin? Anda masih belum pulih sepenuhnya."


"Saya yakin."


Bodyguard itu pun langsung melajukan mobilnya menuju pasar tempat Mei biasa bekerja. Dia tidak bisa menolak bosnya karena dirinya tidak ada hak untuk melarang sang bos meski sebenarnya dia bermaksud baik.

__ADS_1


*******


Di pasar.


Hengky sengaja datang ke pasar itu untuk menemui Mei dan mencoba mendekati Mei untuk selanjutnya dia mendapatkan Mei lagi tetapi dengan cara halus meski memerlukan waktu yang sedikit lama. Pemuda itu berjalan menghampiri Mei yang sedang nongkrong di warung kopi tempat biasa mereka berkumpul, dia membawa bolu talas kesukaan Mei pada saat mereka masih pacaran dulu. Sengaja dirinya membawa kue itu agar Mei mengingat masa indah bersamanya, dulu.


"Hai, Mei!" seru Hengky dengan senyuman yang terus mengembang di bibirnya.


Mei dan teman-temannya pun menoleh ke arah Hengky secara bersamaan dan tiga sahabat Mei itu langsung memasang wajah masam saat tahu Hengky yang datang ke sana. Bukan apa-apa, mereka tahu dua insan itu pernah saling mencintai dan mereka putus tanpa adanya kepastian. Mereka takut Mei kembali mengenang masa lalu bersama Hengky dan akhirnya keteguhan hati Mei untuk mencintai Darren akan goyah dan itu akan menjadi bencana dalam rumah tangga Mei dan Darren.


"Hengky? Kok, kamu ke sini, bukannya kamu harus kembali ke luar kota untuk mengurus pekerjaan?" tanya Mei penuh tanya.


"Aku gak jadi pulang minggu ini. Aku akan tinggal lebih lama lagi di sini," jelas Hengky.


"Untuk apa? Ada kerjaan lagi di mari?" tanya Dion.


"Gak ada," sahut Hengky.


Mei segera menerimanya, dia tersenyum ke arah Hengky karena ternyata mantan pacarnya itu masih ingat dengan makanan apa saja yang disukainya. "Makasih ya," ucapnya.


"Mei, aku datang bukan lagi sebagai pacar kamu. Sekarang kamu sudah menikah, sudah menjadi milik orang lain tapi apa aku boleh menjadi temanmu? Aku ingin kita berteman agar hubungan kita tidak terputus begitu saja," ucap Hengky sembari menghempaskan bolongnya ke kursi di sebelah Mei.


"Aye emang udah nikah tapi aye tidak membatasi pertemanan. Kita masih bisa berteman," ucap Mei.


"Serius lu, Mei? Laki, lu 'kan cemburuan," ucap Karen.


"Betul itu. Jangankan ama dia yang dulunya pernah menjadi pacar lu. Sama gue yang jelas-jelas teman seprofesi aja dia cemburu," ucap Joni.


"Gue rasa, sih, lu jangan terlalu banyak teman cowok kalau mau laki, lu panjang umur," ucap Dion.


"Eh, lu pada, kok ngomongnya gitu? Aye gak mau suami aye pendek umurnya. Nanti aye jadi janda muda. Ah nggak, kalian bercandanya horor," ucap Mei.

__ADS_1


"Darren emang cemburuan dan dia bucin akut. Lu gak nyadar kalau dia tuh, cinta banget sama lu," ucap Karen.


Setiap bertemu dengan Darren, Darren selalu menunjukkan rasa cemburunya dan rasa kekhawatiran yang berlebihan pada Mei. Karena itulah teman-teman Mei tahu betul bahwa Darren adalah tipe orang yang cemburuan saat melihat pasangannya dekat dengan lawan jenisnya.


"Iya, aye tahu dia tuh cemburuan tapi dia kayak gitu karena dia cinta banget sama aye," ucap Mei.


"Beruntung sekali suami kamu, Mei. Aku yang macarin dia yang nikahin," ucap Hengky.


"Itu namanya jodoh yang sudah ditakdirkan Tuhan," ucap Joni.


Setelah hampir setengah jam mengemudi, akhirnya mobil Satya tiba di pasar itu. Helmy ~ bodyguardnya Sayta langsung memasukkan mobilnya ke parkiran yang ada di dalam pasar agar mereka tidak terlalu jauh berjalan kaki untuk sampai pada tempat tongkrongannya Mei. Helmy langsung menghentikan mobilnya di parkiran samping lalu segera turun dari mobilnya.


"Itu dia gadis yang, Anda maksud." Helmy menunjuk ke arah Mei yang sedang asyik berbincang dengan teman-temannya.


"Iya, betul. Dia Mei yang waktu itu menolong saya," ucap Satya setelah melihat Mei di sana. Raut wajah penuh kekaguman pun terpancar di wajah Satya.


"Kita langsung ke sana?" tanya Helmy.


"Gak usah. Saya ingin melihatnya dari sini dulu, tunggu sampai orang-orang itu pergi dari sana," ucap Satya sembari terus menatap ke arah Mei.


Melihat wajahnya yang sedang tertawa lepas, membuat Satya semakin ingin mengenal Mei lebih dekat lagi. Penampilan perempuan itu yang berbeda dari gadis pada umumnya juga semakin menambah daya tarik seorang Satya. Satya memang sudah bosan bermain-main dengan para gadis, kini dia sedang mencari gadis impiannya yang akan dia nikahi dan akan dia jadikan sebagai nyonya besar di rumahnya.


"Pak, jangan terlalu mengaguminya. Bagaimana jika ternyata dia sudah menikah?" ucap Helmy mengingatkan.


Bukannya Helmy ingin ikut campur urusan pribadi bosnya itu apa lagi ini menyangkut tentang hati. Dirinya takut bosnya akan menelan kekecewaan setelah tahu siapa Mei yang sebenarnya. Bisa saja Mei sudah menikah, pikir Helmy.


"Saya tahu itu tapi saya sudah terlanjur menyukai gadis itu," ucap Satya dengan tatapan yang terus tertuju pada Mei.


Bersambung


__ADS_1


__ADS_2