Duda Bucin VS Preman Cantik

Duda Bucin VS Preman Cantik
bab 66


__ADS_3

Setelah lumayan lama Mei dan Hengky mengobrol, kini tibalah saatnya dia berkeliling untuk memastikan keamanan di pasar itu. Sebenarnya Joni, Karen dan Dion sudah berkeliling tapi Mei tetap ingin melakukan pekerjaannya dengan baik. Dia tidak ingin mengecewakan orang-orang yang sudah mempercayainya.


"Aye kerja dulu dah ya. Kamu kalau mau tetap di sini boleh kalau mau pulang juga bola, aye mau keliling dulu," ucap Mei pada Hengky.


"Aku boleh ikut keliling sama kamu? Aku masih ingin mengobrol banyak denganmu," ucap Hengky.


"Heh kampret, dia mau kerja jangan, lu ganggu. Cuma ngobrol doang, besok lu bisa balik lagi ke mari," ucap Joni.


"Ingat ya, kalian cuma mantan. Sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi diantara kalian jadi, jangan pernah mengorek masa lalu yang seharusnya memang tidak diingat lagi," ucap Karen yang tak ingin ada kesalahpahaman antara Darren dan Mei nantinya.


"Laki-laki itu mantan pacarnya Mei. Itu artinya saya masih mempunyai peluang untuk mendapatkan dia," ucap Satya yang sedari tadi terus memerhatikan mereka.


"Kalau gitu aku pergi sekarang. Mei, besok aku ke sini lagi ya," ucap Hengky pada Mei.


"Jangan tiap hari ke mari nanti kamu kena virus," ucap Dion.


"Virus apaan?" tanya Karen dan Joni secara bersamaan.


"Virus cintanya Mei , lah. Apa lagi," sahut Dion.


"Hengky, ada baiknya kita jangan ketemu sering-sering. Benar apa kata Karen, kita sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi. Gak baik buat aye kalau kita terlalu sering bertemu," ucap Mei lalu pergi meninggalkan Hengky.


Mei berjalan ke arah depan pasar, dia ingin melihat kondisi jalanan di sana karena akhir-akhir ini pencopetan dan perampasan sedang marak-maraknya di jalan depan bank di samping pasar itu. Mei memang tidak hanya bertanggungjawab atas keamanan pasar itu tapi juga di sekitaran sana juga.


Setibanya di depan sebuah bank tempat dulu Bu Aryanti kerampokan. Mei berjalan mendekati satpam bank itu lalu duduk di sampingnya.


"Apa kabar, Pak?" tanya Mei pada satpam itu.


"Gini lah, Mei. Eh kenapa kamu kerja lagi di sini? Udah punya suami kaya juga," ucap Pak Satpam itu.


"Pak, aye gak mungkin ninggalin tempat ini. Aye bisa lumutan dipingit di dalam rumah terus," ucap Mei.


Satya berjalan menghampiri Mei. Dia baru akan mulai melakukan aksinya dalam mencuri perhatian Mei.


"Pak, aye dengar akhir-akhir ini sering terjadi pencopotan atau orang merampas di jalanan sekitar sini. Pelakunya udah ketangkep belum?" tanya Mei.

__ADS_1


"Udah ada satu yang tertangkap tapi ada lagi, ada lagi pelaku lainnya. Mungkin bukan cuma satu dua tapi banyak orang yang melakukan pekerjaan haram itu," jelas satpam itu.


"Sekarang cari pekerjaan sulit, makanya mereka yang nganggur melakukannya cara yang salah demi memenuhi kebutuhan hidupnya," ucap Mei.


"Iy–"


"Mei!" seru Satya.


Baru satpam itu akan berucap tiba-tiba Satya memotong perkataannya hingga dirinya memilih tidak melanjutkan perkataannya. Satpam itu menatap Satya, dia tidak mengenal laki-laki itu seingatnya suaminya Mei bukan laki-laki yang kini berdiri di hadapannya.


"Siapa ya?" tanya Mei yang tidak ingat dengan Satya.


"Kamu lupa ya? Aku Satya, yang kemarin kamu tolong," jelas Satya.


"Oh, abang itu. Kok tahu aye di sini?" tanya Mei dengan senyum lebar selebar bibirnya.


"Kebetulan aku sedang lewat sini dan melihat kamu. Terima kasih ya, kamu sudah menolong aku," ucap Satya lagi.


"Gak usah berterima kasih. Aye ikhlas, kok nolongin kamu," ucap Mei.


"Hari ini ada apa ya? Dua laki-laki meminta pertemanan dengan aye. Pak, apa aye terlihat begitu istimewa sehingga mereka tanpa malu meminta berteman dengan aye?" tanya Mei pada pak satpam itu.


"Apa maksudnya, Mei? Kamu sangat istimewa," sahut pak satpam.


"Kamu tuh berjas, sepatunya mahal dan naik mobil mewah sedangkan aye, berpakaian ala preman bahkan tak jarang orang benci pada aye," ucap Mei pada Satya.


"Pak, kita harus pergi. Ada, masalah di kantor," ucap Helmy pada Satya.


"Masalah apa?" tanya Satya setelah menoleh ke arah Helmy.


"Ada penyerangan di kantor," jelas Helmy.


"Apa! Kita pergi sekarang!" Satya langsung mengajak Helmy pergi dari sana dan meluncur ke kantornya.


"Mei, kapan-kapan kita ketemu lagi ya," ucap Satya sembari berjalan pergi meninggalkan Mei.

__ADS_1


"Mereka siapa ya, Mei? Akhir-akhir ini banyak laki-laki kaya yang datang ke sini dan berusaha mendekati kamu," ucap pak satpam itu.


"Mereka siapa? Orang cuma Satya aja yang datang ke mari," ucap Mei.


*******


Di tempat lain.


Hengky sedang bertemu dengan beberapa preman di sebuah jalan. Dia memberikan foto Mei pada preman itu dan menyuruh mereka untuk menculik Mei. Hengky sengaja tidak kembali ke luar kota hari ini karena dia akan kembali ke luar kota dengan membawa Mei. Dia akan menculik Mei dan membawanya pergi ke kota tempatnya tinggal.


"Yang bener aja, Bang untuk menculik satu perempuan saja harus membayar dua kelopak preman sekaligus," ucap salah satu preman yang memegang foto Mei.


"Padahal kami saja mampu untuk menculik perempuan itu," ucap preman lain dengan penuh percaya diri.


Ya, Hengky memang menyewa dua kelompok preman sekaligus untuk menculik Mei yang masing-masing kelompok terdiri dari tiga sampai lima orang. Dirinya tak ingin gagal dalam rencananya, dalam pikirannya Mei hanyalah milik dia seorang.


"Mei bukan perempuan sembarangan. Dia jago berantem. Saya tidak ingin gagal dalam rencana ini. Saya ingin Mei berhasil saya bawa ke luar kota," jelas Hengky.


"Bang, kayak gak ada cewek lain aja. Noh si Riska juga pandai berantem dan penampilannya juga gak jauh beda dengan perempuan dalam foto ini, mending bawa Riska aja daripada membawa perempuan yang kagak mau sama abang," ucap salah satu preman itu pada Hengky.


"Gila lo, emang gue apaan? Main bawa-bawa aja," protes Riska. Riska adalah salah satu anggota kelopak preman jalanan yang biasa nongkrong di tempat itu. Wajahnya cantik dan berpenampilan tomboi, persis seperti gaya berpakaian Mei saat bekerja di pasar.


"Kalian ini ada-ada aja. Saya mau Mei yang jadi istri saya, bukan salah satu dari anggota geng kalian," ucap Hengky sembari tertawa kecil.


"Dih, lagian siapa juga yang mau sama, Anda," gumam Riska.


"Kalau gitu, kami akan bekerja sama dengan siapa dalam melakukan penculikan terhadap perempuan ini?" tanya ketua preman itu.


"Gue yang akan jadi partner kalian," ucap ketua kelopak preman yang sudah menerima bayaran dari Hengky.


"Jelas ya. Kerjakan tugas kalian lusa, karena saya akan pulang lusa sekitar jam lima sore. Sebelum waktu itu, kalian harus sudah berhasil menculik Mei lalu bawa dia ke tempat yang sudah kita sepakati tadi," jelas Hengky.


"Oke. Semua beres ditangan kita," ucap salah satu ketua preman itu.


Bersambung

__ADS_1



__ADS_2