Duda Bucin VS Preman Cantik

Duda Bucin VS Preman Cantik
bab 21


__ADS_3

Sore hari saat Mario tiba di rumahnya, seperti biasa saat tiba di rumahnya dia pasti langsung menuju aman belakang rumahnya untuk menemui binatang peliharaannya!


"Kebiasaan kamu ya, setiap hari si meong mulu yang diperhatiin kapan kamu ada yang merhatiin," ucap Warmi yang sedang menonton televisi.


"Mama tiap hari bicaranya itu-itu terus, apa gak bosan?" ucap Mario tanpa menghentikan langkahnya.


"Setiap dia pulang, Mama pasti ada aja yang diributin," ucap Romli.


"Bang, si Mario itu udah dewasa udah waktunya menikah."


"Iya, Abang tahu tapi mau gimana lagi, tuh anak belum punya calonnya."


"Gimana itu si Mei? Abang udah tanya belum sama Bang Rojak, anaknya mau kagak nikah sama anak kita?"


"Memangnya kamu setuju sama dia?"


"Ya, aye setuju-setuju aja kalau mereka nya sama-sama mau Bang. Kelihatannya di Maisya itu orangnya baik."


"Mama, Papa gak tahu aja Mei yang sebenarnya kayak apa, kalau kalian tahu meski aku suka sama dia, kalian pasti gak akan ngizinin aku nikah sama Mei," ucap Mario setelah melihat kucing peliharaannya.


"Memangnya dia bagaimana? Malam itu Mei biasa saja, sama seperti wanita pada umumnya," ucap Warmi.


"Dia itu preman jalanan Ma, Pa tapi aku suka sih sama dia biarpun dia berpakaian seperti laki-laki tapi tetap cantik kok."


"Kamu tahu dari mana kalau dia itu seorang preman?"


"Tadi mobil aku mogok dan dia yang bantuin, Mama, Papa tahu gak dia itu pandai sekali dalam urusan mesin mobil."


"Gak ada malu-malunya kamu ya, masa mobil mogok yang bantuin anak gadis," ucap Romli.


"Gimana lagi, aku kan emang gak ngerti soal mesin jangankan mesin mobil beneran mesin mobil mainan aja aku gak paham."


"Terus menurut kamu si Mei gimana? Kamu suka gak sama dia?"


"Jujur aku suka meski dia seorang preman, kebaikannya yang membuat aku suka sama dia."


"Ya udah Bang, sekarang Abang telpon dah tuh Babeh nya si Mei dan siapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk lamaran," ucap Warmi.


"Jangan, jangan Pa, Ma. Aku maunya aku sendiri yang mendapatkan cinta Mei, kalian jangan ikut campur.".


"Lah terus apa gunanya kalian berdua kami jodohkan."


"Aku gak mau dijodohin, aku maunya berjuang sendiri mendapatkan cinta seorang perempuan."


**********


Tin!


Tin!


Tin!


Darren membunyikan klakson mobilnya sampai berkali-kali saat Mei sedang bersiap untuk pulang ke rumahnya.


"Buset dah tuh orang, ngapain bunyiin klakson sampai segitunya," ucap Dion.


"Tahu tuh orang, mungkin dia ada perlu ama lu tuh Mei," ucap Karen.


"Sapa sih?" Mei melihat mobil yang ada tak jauh di belakangnya itu.


"Et dah duda nyebelin itu lagi. Ngapain dia kemari?" gumam Mei.


"Duda nyebelin? Emang lu punya teman seorang duda?"

__ADS_1


Mei tak menghiraukan Karen yang bertanya padanya, dia berjalan menghampiri mobil itu.


"Mau apa kamu ke sini?" tanya Mei yang berdiri di samping pintu depan mobil Darren.


"Mama mau aku jemput kamu dan bawa kamu ke rumah."


"Kagak bisa, aye sibuk."


"Kamu harus mau karena aku tidak menerima penolakan."


"Kalau aye tetap gak mau gimana? Apa yang mau kamu lakukan hah? Berantem? Ayo siapa takut."


"Dasar preman bisanya cuma berantem doang," ucap Darren sembari turun dari mobilnya.


Mei tak berucap lagi, dia meraih ponselnya dari dalam saku celananya lalu menelpon Aryanti.


[Halo Bu, maaf mengganggu. Apa benar Ibu meminta Darren menjemput aye?] tanya Mei setelah telponnya tersambung.


[Iya, kamu mau kan ke sini? Saya mau bicara sama kamu.]


[Maaf ya Bu, sekarang aye gak bisa karena ada sesuatu keperluan yang kagak bisa aye tinggalkan.]


[Oh gitu, kapan kamu ada waktu?]


[Besok sore sekitar jam lima sore.]


[Gitu ya, kalau gitu besok saya tunggu ya.]


[Iya Bu, InsyaAllah aye datang.]


Mei pun langsung mematikan telponnya lalu menatap Darren.


"Bu Aryanti tidak memaksa aye untuk datang hari ini jadi sekarang kamu pulang aja."


"Kamu gak dengar apa, tadi aye menelpon Bu Aryanti. Udah-udah pulang sana, aye juga mau pergi."


Mei memakai helmnya lalu segera menaiki motornya.


Darren masih berdiri ditempat semula sambil menatap kepergian Mei.


"Maaf kalau bisa Anda jangan terlalu datar jadi orang kayak kanebo kering tahu gak. Kaku," ucap Karen lalu dia juga pergi.


Darren tak menjawab perkataan Karen, dia lebih memilih masuk ke dalam mobilnya lalu mulai meninggalkan tempat itu.


*******


Di sebuah tempat dipinggir jalan.


"Tumben ya kak Mei belum datang? Padahal biasanya jam segini udah datang," ucap Amel.


"Iya, mungkin kena macet," ucap anak lainnya.


Total ada sepuluh orang anak di sana yang sedang menunggu kedatangan Mei dengan satu buah buku tulis dan pensil di tangan mereka.


"Hai anak-anak, maaf ya kakak terlambat," ucap Mei yang baru tiba di tempat itu.


"Gak apa-apa kak, kami pasti menunggu kakak meski berjam-jam lamanya," ucap salah satu anak itu.


Mei segera turun dari motornya dan tak lupa dia mengambil buku bacaan dari dalam bagasi motornya.


"Hari ini kita belajar menulis dan membaca ya."


"Iya kak."

__ADS_1


Semua anak-anak itu dengan antusiasnya mengikuti pelajaran hari itu, mereka duduk di tempat masing-masing dan menulis dengan fasilitas seadanya.


Mereka hanya duduk dengan beralaskan karpet dan tidak ada meja untuk mereka menulis.


Meski begitu mereka semua selalu bersemangat untuk mengikuti pelajaran yang Mei bawakan untuk mereka.


Mereka pun memulai pelajarannya dengan berdoa sebagai pembukaan dimulainya pelajaran hari itu.


Setelah itu mereka pun mulai menulis mengikuti tulisan yang Mei tulis di papan tulis kecil. Sambil menulis satu persatu mereka bergantian membaca buku bersama Mei.


Saat mereka sedang fokus belajar ternyata dari tadi Darren memperhatikan setiap kegiatan mereka.


"Jadi setiap jam segini dia mengajari anak-anak jalanan itu, pantas saja dia selalu menolak saat Mama memintanya bertemu di jam segini," ucap Darren didalam hatinya.


Darren sengaja membuntuti Mei karena ingin tahu dengan apa yang dilakukan gadis itu setelah pulang dari pasar, dirinya penasaran karena Mei selalu menolak untuk bertemu dengan Mamanya padahal jam segitu Mei sudah pulang dari tempat dia bekerja.


Darren terus memperhatikan mereka tak terasa ternyata dari tadi Darren terus memperhatikan wajah Mei yang memang cantik meski tanpa balutan make_up.


Sebuah senyuman pun terukir dari bibirnya saat melihat Mei tertawa bahagia bersama anak-anak jalanan itu.


Tak ingin ketahuan oleh Mei, setelah lumayan lama Darren pun segera meninggalkan tempat itu karena sepertinya kegiatan mereka akan selesai.


"Ayo siapa lagi yang belum membaca?" tanya Mei.


"Aku sudah!"


"Aku sudah!"


"Aku sudah!"


Seperti itulah seru anak-anak itu dengan wajah riang gembira. Mereka tak dapat bersekolah karena tak memiliki biaya dengan adanya Mei membuat mereka hidup mereka berwarna dan bahagia karena bisa belajar menulis dan membaca bahkan mereka mengetahui apa yang mereka tidak ketahui dari orang tua mereka.


"Kalau gitu kegiatan hari ini cukup sampai di sini kita lanjut besok lagi oke."


"Oke kak."


"Rapikan alat tulis kalian dengan baik ya jangan sampai hilang dan jangan lupa nanti baca lagi apa yang kalian tulis hari ini ya," ucap Mei panjang lebar.


*******


"Bang, gimana si Mei jadi gak dikawinin sama anaknya Bang Romli?" tanya Saroh pada Rojak.


"Kagak tahu, mereka belum ada ngabarin lagi," sahut Rojak.


"Jangan-jangan mereka kagak suka sama Mei?"


"Gak mungkin dari pandangan mereka saat pertama melihat anak kita terlihat dengan jelas kalau mereka suka sama Mei."


"Iya emang waktu malam itu mereka suka sama aye Beh tapi tahu dah nanti," ucap Mei yang tiba-tiba nyamber aja kayak api ketemu gas.


"Nyamber aja lu kayak setrum," ucap Rojak.


'Babeh sama Nyak pasti lagi ngomongin keluarganya Mario? Tadi aye ketemu sama Mario di jalan. Dia kaget banget pas lihat aye yang modelannya kayak begini."


"Apa lu kata? Terus si Mario bereaksi apa?"


"Melongo kayak orang bego."


"Astaghfirullah Bang kayaknya kita gagal punya mantu," ucap Warmi.


"Lah emang siapa yang mau nikah, aye gak mau ya sama Mario biarpun dianya mau sama aye meski sekarang udah pasti tuh anak bakalan lari dan gak mau ketemu lagi ama aye."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2