
Joni langsung berjalan menghampiri Karen. Kini mereka berjalan berdampingan menuju tempat biasa mereka nongkrong.
"Lu, gimana, sih. Gak tahu situasi dan kondisi banget," ucap Joni dengan sedikit kesal.
"Maksud, Lu apa?" tanya Karen yang tidak mengerti.
"Ya, lu ngapain bicara gitu, tadi? Gak liat apa, gue lagi sama cewek."
Karen tertawa kecil. Rupanya temannya itu sedang berusaha mencari cewek pengganti Mei di hatinya.
"Maaf. Gue gak tahu kalau ternyata lu menyimpan rasa sama tuh, cewek," ucap Karen.
"Lupakan dia yang udah hilang. Sekarang Mei udah tiba di rumahnya, gimana kita mau ke sana sedangkan nih pasar gak ada yang jaga?" ucap Joni setelah mereka duduk di kursi itu.
"Gimana lagi. Ni pasar sedang gak aman. Kita pergi menemui Mei nanti saja, setelah ni pasar sepi," jelas Karen.
*********
Di rumah Mei.
Kini, Mei dan keluarga besarnya sedang makan bersama. Mereka makan dengan lahap, makanan yang dimasak oleh Nyak Saroh itu memang sangat enak hingga membuat mereka merasa dimanjakan oleh rasa yang begitu nikmat itu.
"Nyak, ini makanan kedukaan aye semua," ucap Mei pada sang ibu.
"Nyak sengaja memasak ini semua buat, Lu Mei," ucap Nyak Saroh.
"Makasih, Nyak. Baru hilang dua hari aja, Nyak sampai repot gini pas aye pulang," ucap Mei.
"Diam, Lu. Lu tahu gak? Dua hari kemarin kita semua pada khawatir sama, Lu. Tuh Nyak nangis gak berhenti-henti," ucap Babeh Rojak.
"Maaf, Beh, Nyak, Mama dan semuanya. Aye udah bikin semua keluarga khawatir," ucap Mei dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya.
"Udah, semua sudah berakhir. Ayo makan, aku gak mau kamu kehabisan tenaga karena nangis terus," ucap Darren sambil mengusap punggung Mei.
__ADS_1
"Polisi sedang berusaha menangkap penjahat itu. Semoga secepatnya penjahat itu ditangkap," ucap Bu Aryanti.
"Amin," ucap semua orang yang berada di sana.
Gaby turun dari kursinya lalu berjalan menghampiri Mei. Gadis kecil itu tersenyum ke arah ibu sambungnya itu dan meletakkan piringnya di samping piring makan Mei. Dia menyendok nasi dan lauknya lalu menyodorkannya ke mulut Mei, hendak menyuapi Mei.
"Aku mau menyuapi, Mama. Boleh ya, Ma," ucap Gaby dengan senyum yang selalu berhasil membuat semua orang luluh padanya.
"Boleh, dong, Sayang," ucap Mei lalu melahap makanan itu.
Setelah itu, Mei menyendok makanannya lalu menyuapi Gaby. Dengan penuh kasih, dia merayu Gaby agar mau makan makanan dari tangannya itu.
"Sekarang mama yang menyuapi kamu," ucap Mei.
Dengan cepat, Gaby langsung melahap makanan itu dan mengunyahnya dengan semangat. Kebahagiaan terlihat dengan jelas di wajah gadis kecil berusia tujuh tahun itu. Keluarga itu pun makan bersama untuk merayakan kepulangan Mei setelah diculik oleh orang yang tidak mereka kenal.
********
Di kediaman Satya.
Dirinya memang belum tahu pastinya tentang Mei, tapi melihat Mei begitu sayang pada laki-laki dewasa yang menjemputnya itu, membuat dirinya sedikit ragu. Dalam pikirnya, mungkin laki-laki itu adalah kakaknya Mei tapi kata hatinya berkata lain, seperti ada hubungan yang lebih dari sekedar adik dan kakak yang membuat dirinya galau berat.
"Lupakan dia. Masih banyak perempuan yang seperti Mei atau mungkin lebih dari dia," ucap Helmy yang tiba-tiba berada di sana dan membuyarkan lamunan Satya.
Satya menoleh ke belakang dan langsung mendapati sosok Helmy yang tengah berdiri sembari menatapnya. "Kamu ... sejak kapan kamu di situ?" tanyanya.
"Sejak lima menit lalu," ucap Helmy sembari menatap jam di tangannya. Dia berjalan menghampiri Satya lalu menyandarkan pinggangnya di pagar pembatas balkon itu.
"Perempuan lagi yang membuat, Anda begini. Sulit untuk mencintai sekalinya ada yang disukai sudah ada yang punya. Mungkin sebenarnya Alliana adalah jodoh, Anda," ucap Helmy pada Satya.
Satya tertawa kecil menanggapi perkataan Helmy. Bagaimana bisa Helmy berkata seperti itu sedangkan Alliana adalah temannya dan hanya akan menjadi teman saja.
"Kenapa tertawa? Alliana cantik dan masih muda. Ya ... seusia Mei mungkin," ucap Helmy lagi.
__ADS_1
"Ngaco kamu. Kalau kamu mau, dekati saja dia. Alliana memang cantik, tapi dia bukan tipe saya," ucap Satya.
Helmy tersenyum dengan mata yang terus tertuju pada Satya. "Pak, pekerjaanmu hari ini tidak ada yang mengerjakan. Bu Widya tidak sempat mengecek berkas yang harus, Anda tandatangani," jelasnya.
"Besok saya ke kantor. Kamu jangan khawatir, oh ya, saya masih penasaran dengan Mei, tugaskan beberapa orang untuk mencari tahu tentang dirinya. Di mana dia tinggal dan apa sudah menikah atau belum, atau mungkin dia sudah memiliki pacar!" titah Satya.
"Kalau dia sudah punya pacar, gimana?" tanya Helmy.
"Saya akan merebutnya dari pacarnya," sahut Satya dengan raut wajah serius.
"Hmm, menarik. Kalau ternyata sudah punya suami?" tanya Helmy lagi.
"Saya akan membuat dia meninggalkan suaminya demi saya," jawab Satya.
Helmy terkejut dengan perkataan bosnya yang kedua ini. Dia tidak percaya dengan mudahnya Satya berkata seperti itu. Helmy menatap Satya dengan tatapan penuh keheranan.
"Kenapa? Ada yang salah?" tanya Satya.
"Tentu saja salah. Sudahlah, saya harus kembali ke kantor karena masih ada urusan lain. Saya ke sini hanya untuk memastikan bahwa, Anda baik-baik saja ... Bu Widya yang menyuruh saya," jelas Helmy.
"Pergilah dan jaga mama saya dengan baik! Jangan lupa lakukan perintah saya tadi," ucap Satya lagi.
Tanpa menjawab, Helmy langsung pergi dari sana dan membiarkan bosnya sendirian untuk berpikir lebih jernih lagi. "Dasar aneh, sudah jelas Mei sudah punya pasangan masih saja penasaran dan ingin diperjuangkan," batin Helmy sembari terus menuruni anak tangga.
*******
Di kediaman Joanna.
Saat ini dia sedang beristirahat di ruang televisi. Dia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi yang ia duduki, pandangannya lurus ke depan menatap televisi yang sedang menayangkan siaran berita. Tapi otaknya tak mencerna apa yang dia lihat dalam televisi, pikirannya terus berkelana memikirkan bagaimana cara dirinya membalas dendam pada Darren dan Mei.
"Kalian tidak boleh bahagia. Setelah apa yang kamu lakukan padaku, aku tidak akan pernah membiarkan kamu hidup tenang, Darren," batin Joanna.
Setelah bebas dari penjara, Joanna tak kapok untuk melakukan kejahatan terhadap Mei dan Darren. Kini dia berencana untuk memisahkan mereka berdua, ambisinya adalah, jika dirinya tidak bisa bersama Darren lagi, maka siapa pun tidak boleh bersamanya meski apa pun yang terjadi.
__ADS_1
Bersambung