Duda Bucin VS Preman Cantik

Duda Bucin VS Preman Cantik
bab 63


__ADS_3

"Ini ... pada gak menganggap aku ada ya? Padahal kalau aku gak ngizinin Mei, dia gak akan ke sini hari ini," ucap Darren yang mulai kesal karena dicuekin.


Mei tersenyum pada suaminya lalu mencium pipinya. "Maaf, My Husband. Istrimu ini terlalu bahagia jadi, lupa deh sama kamu," ucap Mei dengan senyuman manisnya.


"Dih, gayanya my Husband," celetuk Joni.


"Dia kagak mau dipanggil abang jadi ya udah yang gaul dikit," ucap Mei.


"Gitu dong. Aku emang bukan abang-abang," ucap Darren tersenyum.


"Hadeh, terus mulai kapan lu kerja di mari?" tanya Dion.


"Besok deh. Hari ini dia full sama aku," jawab Darren.


"Yang ditanya siapa yang jawab siapa," ucap Karen.


"Besok. Besok jam setengah sembilan aye kemari dan ingat ya, aye pulang lebih awal," jelas Mei.


"Lu, pan ketua di mari. Mau datang seminggu sekali aja bebas-bebas aja. Anak Babeh Rojak mah bebas," ucap Joni.


"Babeh Rojak yang punya kawasan," ucap salah satu pedagang yang kebetulan lewat di dekat mereka.


"Biasa aja lah, Bang. Babeh masih dibawah RT dan RW," ucap Mei.


"Pengantin baru. Udah kelayapan aja, Lu Mei. Emang udah berhasil menggali harta karunnya," ucap laki-laki itu.


"Ya pasti udah. Duda gitu lho," celetuk Joni.


"Apa hubungannya dengan duda. Ada-ada aja, lu Jon," ucap Karen.


"Udah ah kangen-kangenannya, kita pergi yuk! Aku mau ajak kamu ke suatu tempat," ucap Darren pada Mei.


"Udah ya, Teman-teman. Aye pergi dulu, nih ayang udah gak tahan pengen pacaran," ucap Mei pada teman-temannya.

__ADS_1


"Pergi, lu Mei. Pakai ayang-ayangan segala, gak ngertiin gue lu, mah," ucap Joni.


Mei dan Darren tertawa kecil melihat Joni yang sedikit merengut. "Iya-iya. Aye pergi nih," ucap Mei lalu segera berjalan keluar dari pasar itu.


"Beruntung ya tuh si Mei. Dinikahi orang kaya, biarpun duda anak satu tapi dia masih ganteng," ucap seorang ibu-ibu pemilik kios sayuran.


"Itulah nasib. Kita gak tahu apa yang akan kita dapatkan kalau dipikir-pikir siapa sih orang tua yang bakal menyetujui anaknya nikah sama preman pasar tapi ya itu dia balik lagi ke nasib orang itu. Mei emang baik dan nasibnya juga baik," sahut ibu yang lainnya.


********


Di jalanan tepatnya di sekitar tempat Satya dikeroyok oleh orang tak dikenal. Beberapa orang suruhannya Satya sedang menyebar untuk mencari tahu informasi tentang Mei. Mereka diperintahkan oleh Satya untuk mencari Mei.


"Mbak, kenal sama gadis yang namanya Mei?" tanya bodyguardnya Satya pada seorang wanita yang lewat.


"Tidak, Mas," ucapan.


"Oke. Terima kasih," ucap bodyguard itu yang hanya dibalas anggukan oleh wanita-wanita itu.


Di tempat lain yang masih termasuk wilayah sana. Bodyguard Satya yang lainnya masih berusaha mencari informasi mengenai Mei. Dia bertanya pada semua orang yang lewat di sana perihal Mei.


"Orangnya seperti apa? Banyak gadis bernama Mei di sini," sahut laki-laki yang tinggal di daerah sana.


"Nah itu dia, Mas masalahnya. Saya hanya punya petunjuk namanya Mei, aja," ucap bodyguard itu lagi.


"Ada Mei anaknya Babeh Rojak yang punya kawasan daerah sini, ada Mei anaknya koko Dani yang punya toko di sebrang jalan sana, ada pagi Mei yang udah ibu-ibu yang ngontrak di pinggir sana dan ada lagi Mey yang profesinya sebagai guru, tuh tinggalnya di dalam sana," jelas laki-laki itu.


"Itu dia yang punya kawasan sini. Mei yang dandanannya tomboi, yang rambutnya panjang, yang kulitnya putih dan juga jagoan," ucap salah satu bodyguard Satya sembari berjalan menghampiri mereka.


"Kalau Mei yang itu. Biasanya jam segini dia di pasar internasional yang ada tidak jauh dari sini. Dia emang jagoan, dia yang bertanggungjawab atas keamanan pasar itu dan sekitarannya," jelas laki-laki itu lagi.


"Abang punya fotonya gak ya? Boleh kita melihatnya? Kita tahu sama orangnya kalau melihat fotonya."


"Gak ada, Bang. Dia gak pernah mau difoto-foto," sahut laki-laki itu.

__ADS_1


"Ya udah. Terima kasih ya, Bang. Kita ke pasar sekarang," ucap salah satu bodyguard Satya itu.


Laki-laki itu mengangguk lalu segera pergi dari tempat itu. Dia penasaran dengan mereka yang mencari-cari Mei. Ada masalah apa dan jika tidak ada masalah, mau apa mereka mencari Mei. Meski begitu dirinya tidak bertanya langsung pada mereka, melihat tubuh mereka yang gede-gede membuat dirinya merasa ketakutan.


Setelah laki-laki itu pergi dari sana. Beberapa bodyguard itu langsung masuk ke dalam mobilnya dan melaju menuju pasar yang dimaksud oleh laki-laki tadi. Sebisa mungkin mereka harus menemukan Mei hari ini juga agar mereka bisa melanjutkan informasi penting lainnya tentang Mei esok hari.


*******


Di kolong jembatan tempat anak-anak asuh Mei tinggal.


Nyak Saroh dan Babeh Rojak sudah tiba di sana dan mereka sudah mengemasi barang-barang anak-anak itu untuk segera dibawa ke rumah mereka. Nyak Saroh dengan dibantu oleh Bayu dan Niki merapikan semua barang-barang mereka yang dibutuhkan dan yang diperlukan, selebihnya mereka meninggalkannya di sana.


"Nyak, serius ini kita mau tinggal di rumah Nyak sama Babeh?" tanya Bayu sembari memasukkan pakaiannya ke dalam tas.


"Ya serius lah. Kapan, sih Nyak bercanda?" sahut Nyak Saroh.


"Kemarin baru selesai bikin kamar buat kalian. Sekarang kamarnya udah rapi dan udah ada kasurnya makanya kita baru jemput kalian sekarang," jelas Babeh Rojak.


"Makasih ya, Nyak, Beh," ucap Niki.


"Ngapain berterima kasih. Seharusnya kalau Babeh mampu, dari dulu kalian tinggal di sana bateng Nyak sama Babeh," ucap Babeh Rojak lagi.


"Udah selesai. Kita langsung pergi aja nanti sampai rumah kita langsung makan siang," ucap Nyak Saroh.


"Asyik! Asyik! Asyik!" seru Amel dan Alif. Dua bocah kecil itu kegirangan saat Nyak Saroh membicarakan tentang makan siang. Mereka memang suka dengan masakan Nyak Saroh yang selalu enak.


Babeh Rojak menenteng dua tas berisi pakaian mereka sedangkan Nyak Saroh menggandeng Amel dan Alif. Niki dan Bayu berjalan mengikuti Nyak Saroh dan Babeh Rojak dari belakang dengan menenteng tas masing-masing.


Mereka pun langsung menuju mobil angkot milik Babeh Rojak dan langsung menaikinya. Setelah memastikan semua orang sudah masuk ke dalam mobilnya, Babeh Rojak langsung melajukan mobilnya menuju rumahnya.


Anak-anak itu tertawa gembira karena akan tinggal bersama orang tua yang selama ini sudah dianggapnya sebagai orang tua kandungnya. Dari dulu memang Babeh Rojak dan Nyak Saroh ingin mengajak mereka tinggal bersamanya tapi rumah mereka yang kecil dan sempit tidak memungkinkan anak-anak itu tinggal di rumah mereka hingga akhirnya setelah beberapa tahun, mereka baru bisa membeli lahan kosong di belakang rumahnya dan sekarang sudah dibangun menjadi kamar untuk anak-anak asuhnya.


Bersambung.

__ADS_1



__ADS_2