
"Jadi kamu mengakui Gaby sebagai anak kamu?" tanya Darren.
"Tentu saja, aku yang mengandungnya selama sembilan bulan dan aku yang melahirkannya dengan mempertaruhkan nyawa aku. Gaby adalah anak kandung aku," ujar Joanna.
"Kalau memang kamu menganggap Gaby sebagai anak kamu lalu kemana kamu selama ini? Kenapa kamu baru datang setelah Gaby sudah diusia sekarang?"ucap Sarah.
"Heh wanita gak tahu dari, lebih baik lu cepat pergi dari sini karena gak ada yang menginginkan kehadiran kamu di sini dan lagi lu gak lihat apa, Gaby ketakutan melihat lu," ucap Bella.
"Udah-udah, jangan pada ribut. Aye gak tahu perempuan ini siapa tapi karena dia udah datang ya udah terima aja jangan diusir," ucap Mei.
"Mama aku takut sama Tante jahat itu," ucap Gaby yang masih bersembunyi di belakang kaki Darren.
Mei berjongkok dihadapan Gaby untuk mensejajarkan wajahnya dengan wajah Gaby!
"Jangan takut sayang, ada Mama dan Papa kamu di sini dan lagi di sini kan udah ada penjaga jadi gak akan ada yang menyakiti kamu," ucap Mei dengan suara lembut.
"Nih cewek pinter juga ngambil hati anak gue. Lihat aja, sebentar lagi lo gak akan berani lagi untuk deketin Darren dan anak gue," ucap Joanna di dalam hatinya.
"Tapi Mei, dia itu tamu gak diundang jadi dia gak boleh hadir di sini dan lagi yang boleh ada di sini cuma keluarga aja sedangkan dia bukan siapa-siapa."
Mei tersenyum ke arah Bella dan menatapnya. "Tadi dia bilang dia adalah Ibunya Gaby. Apa salahnya dia ada di sini? Mungkin dia sudah menyadari kesalahannya dan sekarang ingin memperbaiki kesalahan itu dengan minta maaf sama Gaby, sama Darren dan keluarga kalian."
"Aku datang ingin menebus dosa aku pada Gaby, pada suamiku dan pada keluargaku. Aku ingin kembali seperti dulu lagi," ucap Joanna.
"Maaf Joanna, kamu datang terlambat. Aku sudah bersama Mei dan sebentar lagi aku mau menikah dengan dia."
"Gak bisa, gak boleh. Kamu cuma milik aku Darren."
"Ini hari bahagianya Gaby, Nenek harap tidak ada pembicaraan selain ulang tahun Gaby." Tak ingin ada keributan lebih lanjut , Sarah menengahi perdebatan mereka.
"Udah tiup lilin udah selesai potong kue juga udah tinggal bersenang-senang deh."
Mereka pun melanjutkan acara itu dengan menyantap hidangan yang tersedia dan bernyanyi bersama.
"Mama jangan jauh-jauh dari aku," ucap Gaby sembari meremas gaun Mei.
"Gak apa-apa sayang. Kamu mau minum?"
"Ini minuman buat kamu." Amel menyodorkan segelas air minum pada Gaby.
Gaby menatap Amel lalu tersenyum hangat, diambilnya minuman itu dari tangan Amel lalu diminum nya.
"Terimakasih," ucapnya.
__ADS_1
"Sama-sama."
"Kamu siapa? Aku Gaby."
"Aku Amel, oh ya aku bawa kado untuk kamu tapi harganya tidak mahal semoga kamu suka ya."
"Terimakasih, aku pasti suka kok."
"Gaby kenalin ini namanya Alif, yang ini Kak Niki dan yang ini Kak Bayu. Mereka semua adalah keluarga Mama Mama harap kamu bisa bersahabat dengan mereka."
"Oh mereka datang sama Mama. Terimakasih ya kalian udah mau datang ke acara pesta ulang tahun ku."
Di sudut ruangan itu.
"Darren aku ingin kembali sama kamu. Tolonglah mengertikan aku, mengertikan perasaan aku. Aku mohon kasih aku kesehatan satu kali lagi," ucap Joanna sembari menggenggam tangan Darren.
Darren menarik tangannya lalu berjalan beberapa langkah untuk memberi jarak antara dirinya dan Joanna. "Maaf Joanna, aku tidak bisa. Aku sudah tidak cinta lagi sama kamu."
"Coba dulu Darren, kita pernah memiliki hubungan, lama-lama perasaan cinta di hati kamu akan tumbuh lagi."
"Sudahlah Joanna, untuk apa dulu kamu pergi jika sekarang kamu ingin kembali. Jangan jadi pengemis cinta karena sampai kapanpun aku tidak akan memberikannya untuk wanita yang pernah mengkhianati aku."
Di tempat lain.
"Kayaknya dari tadi dua orang itu ngeliatin aye terus, dari tadi mereka terus mengikuti aye bahkan sampai ke sini," ucap Mei di dalam hatinya.
"Itu kan yang waktu itu datang ke rumah. Mereka yang melukai Nyak."
Mei mengambil ponselnya dari dalam tasnya untuk memastikan bahwa mereka adalah orang yang sama dengan yang ada di video rekaman CCTV milik tetangganya itu.
"Benar mereka orangnya." Mei segera menyimpan kembali ponselnya ke dalam tasnya.
"Anak-anak kalian tunggu di sini ya, kakak ada urusan sebentar."
"Mau kemana kak?"
"Mama jangan pergi, aku takut."
"Jangan takut Gaby kan ada aku dan juga kak Bayu dan kak Niki."
"Amel benar, kak Bayu dan kak Niki akan menjaga kamu dengan baik, lagian Mama gak lama kok."
"Ya udah tapi beneran gak lama kan?"
__ADS_1
"Iya sayang." Mei mengusap rambut Gaby dengan lembut.
"Bayu, Niki jagain adik-adik kalian ya," ucap Mei sebelum pergi.
Mei mulai berjalan ke luar restoran itu lalu duduk di kursi yang ada di taman kecil milik restoran itu.
Benar saja, dua laki-laki berseragam kebersihan itu mengikuti Mei sampai ke luar restoran itu.
"Kenapa kalian ngikutin aye? Ada masalah?" ucap Mei saat dua laki-laki itu sudah berada di hadapannya.
"Gue minta lu jauhi Darren!"
"Ada masalah apa kalian melarang aye dekat-dekat dengan orang yang sebentar lagi akan menjadi suami aye."
"Lu turuti aja apa yang gue mau atau gue–"
"Atau apa? Lu pada mau ngapain gue hah? Lu berdua kan yang datang ke rumah gue dan melukai nyokap gue!" Mei mulai mengeluarkan jiwa premannya.
"Kalau lu gak menjauhi Darren, lu akan bernasib sama dengan Nyokap lu!"
Mei tertawa kecil lalu menatap mereka dengan tatapan tajam dirinya tidak kuat menahan marah pada mereka saat mengingat apa yang mereka lakukan pada ibunya.
"Sebelum lu berdua bernasib lebih dari yang lu lakukan pada Nyokap gue lebih baik kalian katakan apa tujuan kalian melakukan ini?"
Satu laki-laki itu mendekati Mei lalu mencekik leher Mei!
Tak ada sedikitpun ketakutan di wajah Mei, dia membiarkan laki-laki itu mencekik lehernya untuk beberapa detik.
Dari dalam restoran itu, Joanna menatap mereka dengan senyuman licik. "Rasain lo, dasar gadis kampung," ucap Joanna di dalam hatinya.
"Jangan pernah membantah ucapan gue atau lu habis ditangan gue."
Mei mencekal pergelangan tangan laki-laki itu lalu menariknya agar terlepas dari lehernya!
"Lu pikir lu siapa? Gue gak akan mengampuni kalian karena kalian udah berani melukai orang yang gue sayangi."
Mei mulai melakukan perlawanan dan menyerang mereka tanpa henti.
Perkelahian antara Mei dan dua laki-laki itu pun tak dapat terhindarkan.
Mei yang terus mengingat luka pada wajah Saroh waktu itu, terus menyerang bagian wajah mereka.
"Kak Mei!" teriak anak-anak asuhnya Mei yang melihat perkelahian itu.
__ADS_1
Semua orang yang ada di sana berlarian ke luar untuk melihat apa yang terjadi di sana!
Bersambung