
Setelah selesai makan, Bella memanggil pelayan restoran itu untuk menanyakan tagihannya.
"Mbak jadi berapa semuanya?" tanya Bella.
"Semuanya ...." Wanita itu menggantung ucapannya lalu melirik Mario.
Mario menggelengkan kepalanya mengisyaratkan agar dia tidak meminta bayaran dari Bella.
"Semuanya gratis."
"Apa? Tapi saya mau bayar kenapa gratis?"
"Kamu suka kan sama semua makanan di sini?" tanya Mario.
"Iya, aku suka. Kenapa?"
Pelayan restoran itu langsung pergi meninggalkan Mario dan Bella!
"Mbak tunggu! Ini gimana, kok gratis?" Bella kebingungan kenapa tiba-tiba mendapatkan makan gratis padahal tidak ada promo ataupun perayaan apa pun di sana.
Bisanya memang saat restoran itu berulang tahun, restoran itu selalu mengadakan makan gratis.
Mario tersenyum sembari menatap Bella.
"Kenapa? Masnya kenapa senyum-senyum gitu?"
"Ini restoran milik aku jadi mereka gak akan minta bayaran selagi kamu makan sama aku."
"Apa, milik Mas? Astaga, untung aku gak ngomongin yang jelek-jelek tentang restoran ini."
"Emang restoran ini ada jeleknya? Kamu bisa kasih tahu saya agar saya bisa memperbaikinya."
__ADS_1
"Gak ada, gak ada kok. Ini kalau gini saya bukannya memberikan tanda terimakasih tapi merepotkan Mas sebanyak dua kali."
"Gak apa-apa, makan sama kamu aja udah cukup buat aku."
Bella tersenyum sembari menata Mario malu-malu.
"Ini cewek, cantik juga dan kayaknya sopan tapi kayaknya masih muda banget buat aku. Kira-kira berapa usianya, apa cocok buat aku yang udah usia dua puluh enam tahun?"
"Astaga apa yang aku pikirkan? belum tentu dianya mau sama aku. Sadar Mario sadar, kamu itu baru ketemu sama cewek ini." Mario terus berucap didalam hatinya.
"Mas, Mas kok malah bengong, ada apa?"
"Oh ya, gak ada apa-apa aku hanya sedikit melupakan sesuatu jadi aku mencoba mengingatnya."
*******
"Assalamu'alaikum!" ucap Karen dan Dion di luar rumah Mei.
"Nyak, Mei udah pulang dari rumah sakit ya?"
"Udah, dia lagi di kabarnya. Masuk aja."
"Terimakasih Nyak."
"Sama-sama."
Karen dan Dion pun masuk ke dalam rumah itu dan langsung menuju kamar Mei!
"Lu kok pada kemari, pasar siapa yang jaga?" tanya Mei.
"Ada Joni. Dia katanya mau jenguk lu belakangan jadi sekarang kita dulu yang kemari," sahut Karen.
__ADS_1
"Aye kagak apa-apa, kagak usah dijenguk segala."
"Kagak kenapa-kenapa tapi lu luka kayak gitu, mana di leher lagi lukanya," ucap Dion.
"Untung leher lu kagak kepisah dari pala lu Mei," celetuk Karen.
"Gila lu Ren, kalau pala aye putus artinya aye metong dong."
"Kagak usah dibahas. Sekarang gimana keadaan lu Mei? Maaf ya kita gak sempat jenguk ku ke rumah sakit."
"Aye baik-baik aja kok. Kalian gak usah khawatir."
"Syukur dah kalau gak kenapa-kenapa."
"Eh anak-anak aye udah pada dikasih makan belum?" Mei yang tak pernah lupa pada anak-anak asuhnya, tak lupa menanyakan mereka pada teman-temannya.
"Tadi gue udah ke sana dan membawa makan untuk mereka tapi pas gue tiba di sana mereka sudah sarapan dan siang ini gue gak perlu ke sana lagi karena udah ada orang yang mau ngasih mereka makan siang."
"Siapa yang ngasih makanan ke mereka?"
"Siapa lagi kalau bukan duda nyebelin itu. Aneh deh sekarang tuh duda berubah jadi bae banget."
Mei tersenyum lebar, rupanya saat dirinya tak bisa memperhatikan mereka, Darren mampu menggantikan posisi dirinya di hati anak-anak asuhnya.
"Ya Allah, ternyata Darren seperhatian itu sama mereka."
"Sepertinya lu kudu pertahanin tuh si Darren," ucap Karen.
"Ya aye, pan tergantung dianya kalau dianya udah gak mau sama aye, aye kudu berbuat apa? Aye gak bisa maksa orang yang udah gak mau sama aye."
"Dia itu pasti sayang banget sama lu Mei, buktinya dia bisa menerima mereka yang lu sayangi."
__ADS_1
Bersambung