Duda Bucin VS Preman Cantik

Duda Bucin VS Preman Cantik
Bab 7


__ADS_3

"Dah Mel, kita udah sampai ayo kita turun," ucap Mei.


"Gimana dengan Om ini?"


"Biarkan aja dulu, nanti kakak buang ke sungai sana."


"Kakak serius?"


"Ya nggak lah Mel, kita kan udah minjem mobilnya masa setelah ini orangnya dibuang."


"Kirain kakak sejahat itu."


"Bisa aja sih tapi gak sama dia juga kan. Dah lah, kita tinggalkan aja orang ini."


Mei langsung menggendong Amel dan membawanya ke tempat tinggalnya!


"Neng Mei, dari mana?" tanya seorang penghuni kolong jembatan itu.


"Ini Pak, abis dari klinik. Memeriksakan kesehatan Amel, tadi dia demam," sahut Mei.


"Oh, Amel lain kali kalau sakit malam-malam jangan telpon kak Mei, datang aja ke rumah Bapak."


"Iya Pak, terimakasih," ucap Amel.


Gadis kecil itu memang sudah diajarkan tata cara sopan santun dan bagaimana bersikap pada orang lain terlebih pada orang yang lebih tua.


Meski Mei tak bisa menyekolahkan mereka tapi dirinya mengajarkan segala yang dia ketahui pada anak-anak asuhnya.


Mei yang memiliki gelar sarjana tentunya memiliki banyak ilmu pengetahuan untuk dia ajarkan pada anak-anak jalanan yang tinggal di kolong jembatan itu.


Saat ini setidaknya ada sepuluh anak jalanan yang dia ajari menulis, membaca dan semua yang dia ketahui.


Enam diantara mereka mempunyai keluarga sedangkan empat lainnya tidak memiliki Ayah ataupun Ibu dan empat anak itulah yang menjadi anak asuhnya Mei.


"Kalau gitu aye permisi dulu ya Pak, mau nganterin Amel ke rumah."

__ADS_1


Mei pun langsung melanjutkan langkahnya!


Didalam mobil.


Darren mulai tersadar tapi dirinya masih merasa pusing dan sakit dikepala hingga dirinya tidak tahu saat ini sedang berada dimana dan bersama siapa.


Darren kembali menutup matanya dan tak memperdulikan dimana dirinya berada saat itu.


*******


"Ya ampun, Darren ini kemana? Udah tengah malam gini belum pulang juga," ucap Aryanti yang mulai khawatir.


Malam sudah semakin larut tapi Darren belum juga kembali, meski Aryanti tahu Darren sudah bukan anak kecil lagi tapi tetap saja dirinya khawatir.


"Ma, Darren bukan anak kecil lagi. Biarkan dia mau pergi kemana dan mau pulang kapan," ucap Wiliam.


"Tapi Pa, gak biasanya dia pulang se_larut ini."


"Mama jangan khawatir, istirahat yuk!"


*******


"Ini orang mau aye bawa kemana? Gak mungkin aye bawa pulang nanti yang ada malah aye dikawinin sama Nyak sama Babeh," gumam Mei.


Mei menatap lagi laki-laki yang tidak dia kenal itu.


"Elu tuh ya, tadi nyebelin banget sekarang lebih nyebelin lagi," ucapnya sembari menatap Darren.


Tiba-tiba, Mei melihat ponsel Darren yang terlibat sedikit menonjol di saku celananya.


"Aye telpon keluarganya dah, pasti ada di kontak keluarganya di ponselnya."


Mei mengambil ponsel itu lalu membuka kunci layarnya.


"Panggilan tak terjawab, banyak bener ampe puluhan," gumam Mei.

__ADS_1


Mei melihat siapa yang menelpon laki-laki itu sampai berkali-kali bahkan puluhan kali.


"Mama ... kebetulan aye lagi mau nyari nomor telpon keluarganya."


Mei langsung menelpon nomor kontak yang diberi nama Mama di ponsel Darren.


[Halo Darren, kamu dimana? Kenapa belum pulang juga?] ucap Aryanti dari sebrang telpon.


[Halo, maaf saya menelpon menggunakan ponsel ini, saya menemukan orang yang punya ponsel ini pingsan dipinggir jalan. Sebenarnya saya ingin mengantarkan orang ini pulang tapi saya tidak tahu harus mengantarkan kemana.] jelas Mei setelah terdengar suara seorang wanita dari sebrang telpon.


[Ini siapa? Dimana anak saya?]


[Anak Ibu, saya temukan di jalan xxx. Jadi gimana Bu? Apa saya bawa ke rumah sakit aja atau saya antar ke rumah Ibu. Sepertinya anak Ibu tidak sadarkan diri karena terlalu banyak menenggak minuman keras.]


[Saya akan menyuruh sopir saya untuk menjemput anak saya ke sana. Tolong jangan tinggalkan anak saya dulu ya.]


[Baik Bu tapi jangan lama-lama ya soalnya saya sudah telat banyak untuk pulang.]


[Ya, pasti. Saya akan langsung ke sana.]


Mei langsung menarik sambungan telponnya lalu meletakkan ponsel itu di tempat semula.


"Lu jadi orang ngerepotin orang mulu ya padahal kita baru ketemu hari ini tapi lu udah berhasil bikin gue kerepotan," ucap Mei setelah menaruh ponsel Darren di saku celana yang Darren kenakan.


Mei turun dari mobil itu untuk membenarkan posisi Darren yang hampir terjatuh!


Mei mulai memindahkan tubuh Darren ke tempat yang aman yang tidak mungkin tubuh laki-laki itu berguling lagi, tiba-tiba Darren menarik tangan Mei hingga tubuhnya terjatuh kepelukan Darren.


Mei terkejut dengan pergerakan Darren yang tiba-tiba, untuk beberapa detik, Mei menatap wajah Darren yang matanya hanya terbuka setengah.


Sepertinya Darren belum benar-benar sadar karena dia tidak melihat Mei dengan jelas.


Bersambung


__ADS_1


__ADS_2