
Perempuan yang menanyai Mei itu panik saat Mei tiba-tiba pingsan. Dia berteriak meminta tolong dan akhirnya dirinya dengan dibantu oleh beberapa warga, membawa Mei ke rumahnya. Dia memang tidak mengenal Mei, tapi melihatnya membutuhkan pertolongan, dirinya tidak bisa membiarkannya Mei begitu saja.
"Mbak Risya, ini siapa?" tanya seorang laki-laki yang membantu membawa Mei ke rumah perempuan bernama Risya itu.
"Ini saudara saya dari kampung, Mas. Tolong bantu ya!" pinta perempuan bernama Risya itu.
Beberapa warga itu pun langsung membawa Mei ke rumah Risya. Setibanya di rumah Risya, orang tuanya terkejut melihat mereka, orang tua Risya mengira bahwa Risya lah yang mereka gotong. Kedua orang tua Risya langsung mempersilahkan mereka masuk dan membukakan pintu kamar Risya agar mereka membaringkan Mei di kamar putrinya itu.
"Mas, terima kasih sudah membantu saya," ucap Risya setelah mereka menidurkan Mei di kamarnya.
Beberapa warga itu pun langsung pergi meninggalkan rumah Risya. Mereka tidak mungkin berlama-lama di sana karena tidak memiliki urusan di sana dan lagi mereka harus ronda malam ini.
"Siapa dia, Nak? Kenapa kamu membawanya ke sini?" tanya ibunya Risya.
"Saat aku pulang kerja, aku melihatnya duduk lemah di pos ronda. Aku menghampirinya untuk menanyakan apakah dia butuh bantuan, tapi pas aku menyapanya, dia tak menyahut malah langsung pingsan," jelas Risya.
"Siapa perempuan ini, kenapa tangannya diborgol? Apa mungkin dia seorang penjahat?" ucap ayahnya Risya.
"Siapa pun dia, kita harus menolongnya," ucap ibunda Risya lalu mengambil minyak angin.
Dia mengoleskan minyak angin itu pada telapak tangan dan kaki Mei setelah itu mendekatkan minyak angin itu ke hidung Mei, agar Mei merasakan aromanya dan sadar dari pingsannya. Risya pergi ke dapur, dia mengambil baskom kecil lalu mengisinya dengan air hangat. Setelah itu dia membawa baskom berisi air hangat itu ke kamarnya, tak lupa dia juga membawa handuk kecil.
Setibanya di kamarnya, tanpa merasa ragu atau pun jijik, dia membersihkan kaki Mei. Dia tak tega melihat kaki Mei yang kotor dan mengeluarkan darah dari beberapa titik. Risya yang pernah kehilangan kakak perempuannya, merasa tak tega melihat Mei seperti itu.
Tak lama, karena merasakan aroma minyak angin dan merasakan adanya yang menyentuh kakinya, Mei membuka matanya dan dia langsung terperanjat saat tahu dirinya tengah berada di atas sebuah tempat tidur. Mei berusaha duduk, meski kepalanya terasa pusing. Dia pikir saat ini dirinya sedang berada di rumah Hengky.
"Siapa kalian? Di mana ini?" tanya Mei setelah dia berhasil duduk.
"Mbak, tenang. Di sini aman, Mbak sekarang berada di rumah saya," ucap Risya.
__ADS_1
"Kamu ... siapa kalian?" tanya Mei sembari menatap Risya lalu menatap kedua orang tua Risya.
"Saya Risya dan mereka adalah orang tua saya. Mbak istirahat saja dulu di sini," sahut Risya.
"Boleh saya meminjam telpon? Saya ingin menelpon suami saya," ucap Mei.
"Boleh. Silakan," ucap Risya sembari mengambil ponselnya lalu memperlihatkan ponselnya pada Mei.
"Sebutkan saja nomornya biar saya yang mengetiknya," ucap Risya karena melihat keadaan tangan Mei yang terborgol.
Baru hendak mengucapkan sesuatu, tiba-tiba, Mei kembali merasa pusing. Dia menutup matanya untuk menahan rasa pusing dan sakit di kepalanya. "Mbak, saya haus. Boleh saya minta minum?" tanya Mei.
"Astaghfirullah, sampai lupa memberi kamu minum. Maaf ya, Ibu panik jadinya gini deh," ucap ibunya Risya lalu segera keluar dari kamar itu untuk mengambil air minum.
Tak sampai lima menit, ibunya Risya datang lagi dengan membawa segelas air putih dengan piring berisi nasi di tangan kanannya. Dia langsung memberi Mei minum lalu menyuapinya makan. Sebagai seorang ibu, dirinya tak tega melihat Mei hingga dirinya memperlakukan Mei seperti anaknya sendiri, dia menyuapi Mei dengan hati-hati.
"Terima kasih, Bu, Pak, Mbak, kalian sudah menolong saya," ucap Mei pada mereka.
Risya dan kedua orang tuanya, tersenyum ke arah Mei. "Istirahatlah, Mbak," ucap Risya.
Saat mereka tidak mengeluarkan suara, mereka mendengar berita di televisi tentang orang hilang. Kebetulan saat Risya tiba di rumahnya, kedua orang tuanya sedang menonton televisi dan tidak sempat mematikannya.
"Itu nama saya. Maisya Melanie," ucap Mei yang mendengar namanya disebut oleh seorang pembawa acara berita.
"Mbak, tolong telpon suami saya!" pinta Mei.
Risya pun kembali mengeluarkan ponselnya lalu mengetik sebuah nomor ponsel yang diberitahukan oleh Mei. Setelah itu, dia langsung menelpon nomor tersebut. Tak lama Darren langsung menerima panggilan darinya.
[Halo.] kata Darren dari sebrang telpon.
__ADS_1
"Mbak, ini. Sudah ada yang menerima telponnya," ucap Risya sembari mendekatkan ponselnya pada mulut Mei, takut dia menekan pengeras suaranya.
"Mas, ini aku," ucap Mei yang mulai menangis.
[Mei. Ini kamu, kamu di mana, Sayang. Aku sudah mencarimu ke mana-mana, katakan sekarang kamu di mana?] kata Darren pada Mei. Terdengar dia sangat bahagia mendapatkan telpon dari Mei.
"Aku tidak tahu. Aku di mana," ucap Mei.
"Mas, nanti saya share_lock ya. Mbak ini sekarang aman di rumah saya," ucap Risya setelah tahu ternyata Mei tidak tahu dirinya berada di mana.
[Ya. Tolong jangan biarkan istri saya pergi dengan siap pun!] Darren segera mematikan telponnya secara sepihak.
Risya meletakkan ponselnya di atas meja setelah dia mengirim lokasi dirinya berada pada Darren. Dia menatap Mei yang wajahnya terlihat pucat.
"Mbak, sepertinya ada luka di pundakmu," ucap Risya yang melihat ada noda darah di pundak Mei.
Luka yang belum mengering itu memang terus mengeluarkan darah karena dari kemarin Mei terus memberontak hingga lukanya berdarah lagi. Mei tak lagi merasakan sakit pada fisiknya, yang ada dalam pikirannya saat itu hanyalah bagaimana cara agar dirinya terlepas dari Hengky. Tapi sekarang dirinya sudah tenang karena dirinya sudah bebas dari Hengky dan sebentar lagi suaminya akan datang untuk menjemputnya.
"Iya. Saya memang terluka. Penculik itu menikam saya dan inilah luka yang saya dapatkan," jelas Mei.
"Maaf, Mbak. Kalau boleh tahu, apa penculik itu menculik, Mbak dari hari pernikahan Mbak?" tanya Risya yang melihat Mei menggunakan kebaya pengantin.
"Tidak. Saya sudah menikah sejak beberapa bulan lalu. Penculik itu memakaikan kebaya ini karena dia ingin menikahi saya. Dia memaksa saya untuk menikah dengannya," jelas Mei.
"Terus ini gimana. Borgolnya gak bisa dibuka," ucap ibunda Risya.
"Tidak apa-apa, Bu. Biar nanti suami saya meminta tolong pada orang yang bisa membuka borgol ini. Terima kasih, ibu dan keluarga sudah menolong saya," ucap Mei lagi.
Bersambung
__ADS_1