Duda Bucin VS Preman Cantik

Duda Bucin VS Preman Cantik
bab 34


__ADS_3

"Assalamu'alaikum!" ucap Darren dari depan pintu rumah Mei.


"Waalaikumsalam. Eh dud– Darren." Mei nyengir kuda kala dia hampir saja salah berucap didepan Darren.


Ingin berkata duda tapi diurungkan nya karena takut menyinggung perasaan Darren meski kenyataannya menang Darren adalah seorang duda.


"Mau bilang duda? Bilang aja aku gak apa-apa kok toh emang benar aku ini duda."


"Nggak gitu Darren tadi aye mau bercanda dikit tapi gak jadi. Duduk deh, aye bikin minum dulu buat kamu."


Darren duduk di kursi yang ada di teras rumah Mei dan menunggu Mei kembali lagi ke sana.


"Nak Darren, kenapa di luar? Masuk ke dalam," ucap Saroh.


"Gak usah Tante, di sini aja," sahut Darren lalu dia mencium punggung tangan Saroh.


"Mei nya mana? Mau ketemu Mei kan?"


"Iya Tante, Mei lagi ke dalam sebentar katanya."


Tak lama Mei datang dengan membawa secangkir teh untuk Darren, dia tahu laki-laki yang menyandang status duda itu tidak suka kopi karena itulah dia membawakan teh tawar untuk Darren.


"Ini minumnya silahkan diminum," ucap Mei seraya meletakkan cangkir itu di atas meja.


"Nyak ada tamu nih, aye boleh kan nongkrong di mari sama tamu aye?"


"Kenapa lu kudu izin, lu kan gak mau pergi ke mana-mana kan."


"Nggak tapi tetap aja aye harus izin Nyak."


"Iya boleh, ada-ada aja lu ah," ucap Saroh sembari melangkah pergi meninggalkan mereka berdua.


"Ada apa datang gak bilang-bilang?"


"Mei aku rindu sama kamu, boleh kan aku rindu?"


"Ya gimana lagi, aye gak bisa ngelarang itukan hak kamu."


Darren tersenyum sambil menatap Mei.


"Ngeliatin nya jangan kayak gitu napa."


"Hmm, kenapa?"


"Nanti kamu susah ngelupain aye."


"Emang udah terjadi makanya aku ke sini sekarang."


"Dih bercandanya nyambung ya."


"Aku gak bercanda. Kita nikah yuk."


"Et dah nikah?"


"Iya lah apa lagi."


"Kamu gak salah minum obat kan? Tiba-tiba ngajak nikah."

__ADS_1


"Aku serius Mei."


"Nggak mau, aye belum siap nikah. Masih ada suatu urusan yang belum aye selesaikan."


"Apa?"


"Gak bisa aye jelaskan."


"Kenapa?"


"Ya aye gak mau aja ngejelasinnya."


"Bayu, Niki, Amel dan Alif. Apa mereka alasannya?"


Mei menatap Darren dengan tatapan aneh, dirinya tak pernah bercerita tentang mereka pada siapapun tapi kenapa Darren mengenal mereka.


"Aku tahu mereka alasannya."


"Nggak kok, siapa mereka? Aye gak kenal."


"Jangan bohong Maisya Meylanie. Aku tahu kamu mengkhawatirkan mereka kamu tenang aja setelah kita nikah aku gak akan melarang kamu untuk meninggalkan mereka. Kita akan ajak mereka tinggal bersama kita di rumah kita dan kita akan menyekolahkan mereka sampai kuliah."


"Kamu tuh lagi ngomongin apa sih?"


"Noh udah ada laki yang mau ngertiin kemauan lu Mei, kenapa musti mikir-mikir lagi?" ucap Rojak yang tak sengaja mendengar perkataan Darren.


"Babeh nguping pembicaraan kita? Pamali Beh," ucap Mei.


"Siapa yang nguping, Babeh mau ngambil kunci angkot yang masih ngegantung di dalam takutnya ada yang gondol lagi tuh angkot."


"Boleh. Boleh kalau gitu lu berdua masuk dah duluan, Babeh mau ngambil kunci mobil dulu." Rojak pun langsung menghampiri angkot-angkot nya yang terparkir didepan rumahnya!


"Kamu apaan sih. Ngaco deh."


"Aku serius Mei."


*******


"Papa kemana Nek?" tanya Gaby pada Aryanti yang sedang menonton televisi.


"Eh kamu belum tidur? Tadi Papamu pergi ke luar."


"Mau kemana?"


"Nenek gak tahu emang kamu mau apa?"


"Pengen nelpon Mama Mei."


"Sekarang udah malam, besok pagi kita telpon Mama Mei ya. Sekarang kamu tidur sana, besok kan kamu harus sekolah."


**********


"Om, Tante sebenarnya saya ingin menikahi Mei," ucap Darren.


"Menikahi Mei? Kamu yakin?" ucap Saroh.


"Saya yakin, saya janji saya tidak akan mengecewakan Mei dan saya akan selalu membuat dia bahagia."

__ADS_1


"Ya kalau Mei nya mau silahkan kami sebagai orang tua cuma bisa merestui," ucap Rojak.


"Gimana Mei, lu mau gak sama Darren?" tanya Saroh.


"Aye butuh waktu Nyak lagian aye masih punya tanggungjawab terhadap anak-anak."


"Pan tadi Babeh dengar, Darren mau mengurus mereka."


"Beh, Nyak, mereka itu gak sedikit ada empat orang lho mereka tuh."


"Aku sanggup Mei, jangankan empat orang, sepuluh orang pun aku sanggup membiayai mereka jika itu keinginan kamu."


"Itu kamu, belum tentu orang tua kamu."


"Mereka gak akan ikut campur urusan aku, kamu tenang aja."


"Gini aja Mei, kalau elu belum siap lu kasih kejelasan sama Darren kalau lu mau bilang mau tapi lu minta waktu untuk meyakinkan hati lu, kalau gak mau lu bilang kagak biar Darren bisa cari yang lain, biar Darren gak ngarepin elu terus," ucap Rojak.


Darren hanya menganggukkan kepalanya, menyetujui semua perkataan Rojak.


Sementara Mei hanya diam sembari menundukkan kepalanya.


"Kenapa aye kudu ada di posisi seperti ini sih? Aye gak tahu harus bilang apa," ucap Mei di dalam hatinya.


"Ini anak, dibilangin malah diem-diem bae," ucap Saroh.


"Gimana Mei, kamu mau gak nikah sama aku? Seperti yang Papa kamu bilang kalau kamu belum siap nikah dalam waktu dekat, aku bersedia memberikan kamu waktu sampai kamu siap. Aku akan menunggu kamu meski sampai beberapa tahun kedepan."


"Maaf, aye gak bisa jawab sekarang. Aye, harus berpikir dulu biar gak salah mengambil keputusan."


"Tapi jangan lama-lama, jangan bikin orang menunggu sesuatu yang gak pasti. Babeh gak mau Darren kecewa karena lu yang jawabnya lama malah gak mau sama dia."


"Beh, tolonglah ngertiin aye. Aye tuh gak pernah kayak gini."


"Gak papa Om, aku akan menunggu. Kecewa itu hal biasa dalam semua hubungan termasuk hubungan yang seperti ini."


"Maaf ya Darren, satu kali dua puluh empat jam aja kok. Besok malam kamu ke sini aja lagi."


Sebenarnya saat itu juga Mei ingin mengatakan ya pada Darren tapi dirinya takut perasaannya belum benar-benar mantap pada Darren.


Mei memang sudah merasa nyaman dan terbiasa bersama dengan Darren tapi dirinya belum menyadari adanya cinta untuk Darren.


"Lebih dari dua puluh empat jam juga gak apa-apa Mei. Aku siap."


"Nah kalau gitu kan enak, berarti besok malam kalian bicarakan lagi masalah ini. Jangan bawa-bawa Nyak sama Babeh lagi ya nanti kalau kalian udah mantap buat kawin baru dah libatkan Babeh sama Nyak," ucap Rojak.


"Nikah Beh bukan kawin."


"Sama aja Mei."


"Ya kagak lah, nikah dulu baru kawin."


Darren cuma tersenyum mendengar perdebatan Mei deng Rojak.


Akhirnya setelah berada dalam keadaan yang menegangkan, mereka berbincang lagi dengan topik yang lain yang tidak berhubung dengan perasaan Darren pada Mei.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2