Duda Bucin VS Preman Cantik

Duda Bucin VS Preman Cantik
bab 81


__ADS_3

"Mei! Maisya Melanie!" seru Hengky di sekitar tepi jalan yang masih di sekitaran tempat dia tinggal.


Hengky berjalan sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling, berharap dia dapat menemukan kekasih hatinya itu. Dalam hati yang penuh amarah, dia terus menyusuri jalanan itu bahkan dia memasuki gang-gang sempit yang tidak dapat dilalui mobil. Dirinya berpikir mungkin Mei bersembunyi di rumah-rumah yang ada di dalam gang itu.


"Mas, ada yang melihat orang ini di sekitar sini?" tanya Hengky sembari memperlihatkan foto Mei pada beberapa orang yang sedang berkumpul di sebuah pos ronda.


"Nggak, Mas."


"Gak liat."


"Gak ada, gak pernah liat."


"Kami sudah hampir setengah hari berkumpul di sini, tapi tidak melihat ada perempuan ini lewat sini," jelas orang-orang yang ditanyai oleh Hengky.


"Baik, terima kasih ya, Mas. Kalau ada yang melihat perempuan ini, tolong kabari saya atau anterin dia ke rumah saya ya. Ini istri saya, dia baru pertama ke kota ini," jelas Hengky.


"Baik, Mas. Nanti kalau kami melihat istrinya Mas Hengky, akan kami kabari," sahut salah satu laki-laki itu.


"Terima kasih, Mas. Nanti ada kalau buat ongkos ke rumah saya atau uang pulsa buat menelpon saya," ucap Hengky lalu segera pergi dari sana.


Di lingkungannya. Hengky adalah pendatang, tapi dia selalu bersikap ramah pada pemuda di sekitar sana. Dia memang jarang berkumpul dengan warga di sana tapi dia pernah beberapa kali nongkrong bersama para pemuda seusianya dan sering menghadiri perkumpulan yang diadakan oleh RT setempat misalnya sesekali mereka mengadakan gotong royong membersihkan lingkungan sana.


********

__ADS_1


Sore hari mulai menyapa bahkan saat ini sudah menjelang mau maghrib. Di tempat yang sama sekali tidak dia kenali, Mei duduk di sudut pertokoan yang sudah tutup. Dia tidak tahu harus pergi ke mana, dari siang dirinya mencari kantor polisi, tapi tidak menemukannya.


Di sana, di tempat itu, dengan tanpa alas apa pun dia duduk sambil berusaha membuka borgol yang terpasang kuat di tangannya. Pergelangan tangannya sudah berdarah karena terus dipaksa keluar dari lubang borgol itu, tapi sedikit pun Mei tak mengeluh kesakitan. Saat ini yang ada dalam pikirannya adalah, bagaimana dia bisa terbebas dari borgol itu.


"Ya Allah, tolong aye. Aye tidak tahu harus ke mana, tidak tahu harus apa dan tidak tahu pada siapa aye minta tolong. Aye tidak punya satu orang pun yang aye kenal di sini," batin Mei.


Sekitar setengah jam sudah Mei di tempat-tempat itu, kini adzan maghrib sudah terdengar berkumandang bersahut-sahutan dari mesjid satu dengan yang lainnya. Mei menatap sekelilingnya yang mulai gelap, dia mulai merasa sedikit ketakutan. Takut, dirinya bertemu lagi dengan Hengky, takut dirinya tidak bisa kembali pada keluarganya, takut tidak ada orang yang menolongnya.


*******


Di tempat lain.


Darren sudah tiba di tempat itu dan dia langsung mencari hotel untuk dirinya istirahat malam ini, sedangkan para polisi itu mengurus urusannya masing-masing. Setelah menemukan sebuah hotel, dia langsung memesan satu kamar untuknya dan langsung memasuki kamarnya.


Di dalam kamar itu, Darren duduk sembari menatap foto Mei. Dia mengusap wajah Mei dalam foto itu dengan ibu jarinya. Betapa dirinya khawatir pada sang istri, dirinya tidak bisa tenang sebelum mengetahui di mana keberadaan istrinya itu.


Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan belas malam, tapi dia belum mersa lapar padahal dari pagi dirinya belum memakan apa pun. Sudah dua hari ini, sejak Mei menghilang, dia merasa tidak nafsu makan bahkan semangat hidupnya hilang karena separuh jiwanya, kini sedang berada di tempat yang entah di mana. Tidak adanya Mei di sisinya mrngawa pengaruh besar dalam kehidupannya.


"Aku tidak tenang terus diam di sini. Kenapa polisi itu tidak juga menemukan kamu, Mei. Di mana kamu, siapa yang sudah mebculikmu?" Darren tidak bisa hanya berdiam diri. Akhirnya dia keluar dari kamar hotelnya dan bergegas untuk mencari Mei.


********


Di tempat lain.

__ADS_1


Satya dan rombongannya baru tiba di kota itu. Mereka tak mengistirahatkan tubuhnya walau sejenak, setibanya di kota tersebut, mereka langsung menyebar ke seluruh sudut kota itu. Satya tak ingin membuang waktu lebih lama lagi karena takut tidak ada kesempatan untuk menyelesaikan gadis yang sebenarnya dirinya tidak mengetahuinya. Siapa dia, apakah sudah menikah atau belum? Tapi dirinya tak memikirkan hal itu, cintanya terlanjur hadir untuk gadis bernama Mei itu.


"Keluarganya Mei pasti sudah melapor polisi, tapi tetap lakukan yang terbaik. Siapa pun yang lebih dahulu menemukan dia, tidak akan menjadi masalah untuk saya yang penting dia ditemukan," ucap Satya pada anak buahnya.


"Siap, Pak. Kami langsung menyebar, kita berpisah di sini dan akan bertemu lagi di hotel tempat, Anda beristirahat malam ini," jelas Helmy.


"Tidak, Hel. Saya juga akan mencari dia. Kita akan mencari dia sampai dapat," ucap Satya.


Helmy tak berucap lagi. Dia tahu dirinya tak akan bisa mencegah keinginan bosnya itu. Dia hanya mengangguk pelan lalu segera memerintahkan rekannya untuk segera berpencar. Tanpa perlu dijelaskan lagi, rekan-rekan Helmy itu pun langsung masuk ke dalam mobilnya masing-masing dan langsung menyebar.


"Baik, Pak. Ayo kita mulai pencarian kita!" ucap Helmy lalu masuk ke dalam mobil.


Helmy pun langsung melajukan mobilnya setelah Satya masuk ke dalam mobilnya. Dia mengambil jalur yang tidak dilewati rekan-rekannya. Dengan kecepatan sedang, dia terus melaju sembari memerhatikan kiri dan kanannya, siapa tahu dirinya melihat Mei di sekitar sana.


*******


Setelah lama di depan toko itu, kini Mei berpindah tempat ke tempat yang mungkin lebih aman. Dia berjalan memasuki pemukiman yang ramai penduduk, dia melewati rumah-rumah yang pintunya sudah tertutup rapat itu. Tak ada tujuan yang ingin didatanginya, dia berjalan terus sampai akhirnya dia menemukan sebuah pos ronda.


Mei menghampiri pos ronda itu lalu duduk di sana. Rasa haus dan lapar sudah menyiksanya sejak dari pagi tadi, tapi dirinya tak dapat berbuat apa-apa dengan kondisi tangannya yang terborgol. Tubuhnya mulai melemah, karena berjalan tanpa menggunakan alas kaki, telapak kaki Mei pun terluka bahkan di beberapa mengalami pendarahan.


Dari arah depan pos ronda itu, seseorang berjalan menghampiri Mei. Dia perempuan, kira-kira seusia Mei. Perempuan itu langsung menghampiri Mei karena melihat Mei yang sudah lemah.


"Astagfirullah, Mbak. Mbak kenapa?" tanya perempuan itu.

__ADS_1


Mei menatap wajah perempuan itu, dia ingin sekali meminta tolong tapi tak bisa karena tiba-tiba dirinya merasa pusing dan pandangannya berubah menjadi buram, lalu beberapa saat kemudian pandangannya menjadi hitam pekat. Dirinya tak dapat melihat apa-apa lagi, Mei pingsan di tempat itu.


Bersambung


__ADS_2