Duda Bucin VS Preman Cantik

Duda Bucin VS Preman Cantik
bab 71


__ADS_3

Keesokan harinya, di kediaman Darren dan keluarga.


Pagi hari sebelum Darren dan Mei beranjak dari tempat tidurnya. Pasangan suami istri itu sudah terbangun tapi mereka memilih tetap terdiam di tempat tidur karena waktu baru menunjukkan pukul setengah lima pagi.


Darren terbaring dengan posisi terlentang sedangkan Mei memilih posisi telungkup menindih dada Darren. Dia memainkan bibir, dagu hingga pipi suaminya, dia berusaha merayu Darren agar mengizinkannya pergi ke pasar hari itu.


"My Husband, cintaku, sayangku, boleh ya aye ke pasar hari ini," ucapnya penuh permohonan.


"Gak boleh," sahut Darren.


"Aye udah gak apa-apa, kok. Ya ... ya, please, Cintaku," ucap Mei lagi.


"Sekali gak boleh tetap gak boleh. Kamu nurut aja apa kata suami, lagian gak ingat dengan resep dari dokter Gaby, semalam?" tanya Darren.


"Semalam 'kan cuma main-main kenapa kamu jadi serius." Mei cemberut lalu mengubah posisinya menjadi menyamping membelakangi Darren.


Tak ada lagi permohonannya dari Mei. Perempuan itu marah pada suaminya tapi tak berani membantah apalagi sampai memberinya bogem mentah. Dia hanya bisa menangis untuk melampiaskan kekesalannya.


Tak mendengar suara Mei lagi, Darren menatap Mei. Karena dia tak dapat melihat wajahnya, akhirnya Darren memposting dirinya menyamping menghadap Mei lalu menarik bagi Mei agar dia menghadap ke arahnya. Dia melihat mata sang istri berair dan dia pun langsung terkejut. Kenapa istrinya itu menangis.


"Hey, kenapa menangis?" tanya Darren yang sudah merasakan kekhawatiran terhadap Mei.


"Aye ingin pergi ke pasar," sahut Mei.


Darren terdiam. Dirinya tidak mungkin mengizinkan Mei pergi dengan keadaan seperti itu tapi dirinya juga tidak tega melihat Mei yang sampai menangis karena ingin pergi ke pasar.


"Boleh ya," ucap Mei lagi.


Darren menarik napasnya berat lalu mengeluarkannya kasar. Dia tidak tega melihat Mei menangis. "Boleh, tapi ada syaratnya," ucapnya.


"Beneran? Apa syaratnya pasti aye kabulkan," ucap Mei dengan senyum sumringah.


"Cium dulu di sini baru aku beritahu syaratnya," ucap Darren sembari menempelkan jari telunjuknya di bibirnya.


Mei mengerucutkan bibirnya tapi beberapa detik kemudian, dia segera mencium bibir Darren dengan lembut. "Udah, tuh," ucap Mei.

__ADS_1


Darren tersenyum tipis. "Syaratnya nanti malam jatah ya," ucap Darren tanpa berlama-lama.


"Hah, jatah?" Mei nampak tak mengerti dengan ucapan Darren tapi sedetik kemudian dia mulai paham.


"Oh itu ya. Eum, gimana ya ...." Mei nampak berpikir sesuatu. Selama dua bulan mereka menikah, memang mereka baru melakukannya dua kali saja, itu pun karena Darren yang terus memohon hingga Mei merasa tidak tega pada suaminya itu.


"Gimana?" tanya Darren. "Masa kamu tega sama aku? Aku udah gak pernah minta lagi lho," sambung Darren.


"Ya udah deh. Malam nanti aye kasih bonus dua kali," ucap Mei.


"Hah, yang benar? Jadi tiga kali dong," ucap Darren penuh semangat.


"Dua kali, dong," ucap Mei.


"Tadi kamu bilang bonusnya dua kali berarti yang satu kali 'kan permintaan aku dan yang dua kali, bonus dari kamu," ucap Darren.


Mei menggaruk bagian belakang kepalanya. Dia merasa dirinya sudah terkena jebakan suaminya, dia senyum pada Darren lalu berkata. "Iya, tapi kalau kuat."


Darren langsung memeluk Mei lalu menciumnya berkali-kali. "Akhirnya. Semoga kamu udah dibukakan pintu hatinya untuk menawarkan diri setelah ini," ucap Darren.


Sekitar pukul sembilan pagi.


Di sepanjang jalan menuju pasar tempat Mei kerja. Abeth dan anak buahnya dengan dibantu oleh kelompok Erlan, memantau kondisi jalanan itu hingga ke pasar tempat Mei biasa bekerja.


Sehari sebelum melakukan penculikan, mereka sengaja melakukan survei di tempat-tempat yang nantinya akan mereka lewati dan tempat mereka akan melakukan aksinya. Di sebuah jalan yang menikung, Abeth menunjuk tempat itu sebagai tempat untuk mereka menghentikan Mei dan langsung menculiknya sedangkan di jalanan lain yang selalu sepi dari pengendara yang lewat. Erlan menjadikan tempat itu sebagian tempat cadangan jika di tempat pertama Mei berhasil lolos.


Mendengar pernyataan Hengky yang mengatakan bahwa perempuan yang akan diculik oleh mereka bukanlah perempuan biasa, mereka lebih berhati-hati dan memilih menyiapkan rencana lebih dari satu. Sementara itu beberapa orang memantau dan memerhatikan beberapa kendaraan bermotor, mereka memastikan bahwa Mei memang benar-benar sering melewati jalan itu.


Setelah hampir satu jam menunggu, akhirnya salah satu dari mereka melihat Mei melewati jalan itu. Dia pun langsung menginformasikan pada ketua geng mereka.


"Kita ikuti dia," ucap Erlan.


Erlan dan Abet mengikuti motor yang dikendarai oleh Mei dari belakang sedangkan anak buah mereka melaju lebih dahulu menuju pasar itu agar tak menimbulkan kecurigaan. Erlan terus memerhatikan Mei, dari gaya berpakaiannya, dia sudah dapat menyimpulkan baru Mei adalah perempuan tomboi yang mungkin bisa dibilang preman.


"Cewek ini bikin gue penasaran. Sehebat apa dia, apa dia bisa menandingi Riska," batin Abeth sambil terus mengikuti Mei.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama, akhirnya Mei berbelok ke area pasar sedangkan Abeth dan Erlan terus melaju lurus ke depan agar Mei tidak curiga pada mereka. Setelah melewati belokan pasar itu mereka berdua memutar arah dan masuk ke dalam pasar itu.


Di tempat tongkrongan, Mei dan teman-temannya.


"Nyampe juga, lu ke mari, Mei," ucap Dion.


"Maaf ya, telat dikit," ucap Mei.


"Eh. Kenapa tuh muka? Pada luka gitu," tanya Karen yang selalu memerhatikan Mei.


"Ini. Gara-gara ini, aye jadi telat ke mari. Darren melarang aye ke mari gara-gara ini. Kemarin tuh ada ibu-ibu yang disekap di dalam mobil, aye tolongin dia dan akhirnya ini yang aye dapat," jelas Mei.


"Lagian, Lu ikut campur urusan orang aja," ucap Joni.


"Lu kayak gak tahu Mei aja. Dia 'kan gak pernah membiarkan orang kesulitan," ucap Karen.


"Iya juga ya. Sampai, lu gak mikirin keselamatan sendiri," ucap Dion.


"Udahlah, lagian aye baik-baik saja sampai detik ini," ucap Mei sembari meraih kopi yang entah milik siapa lalu menyeruputnya.


"Eh! Kopi gue, tuh," ucap Joni.


"Bisanya juga join satu gelas berempat. Ya udahlah, ikhlaskan aja," ucap Dion.


"Pesan aja lagi nanti aye yang bayar," ucap Mei yang sudah terlanjur meminum kopi yang ternyata milik Joni itu.


Dari jarak yang tidak terlalu jauh dari Mei dan teman-temannya. Abeth dan Erlan terus memerhatikan Mei bahkan mereka mendengarkan setiap perbincangan mereka.


"Tidak ada yang lebih menakutkan dari perempuan itu. Dari perbincangannya terdengar biasa saja, besok kita lancarkan aksi kita saat Mei baru berangkat ke pasar ini," ucapan Erlan.


"Oke. Sekarang kita pergi, cukup untuk hari ini, kita siapkan tenaga untuk besok," ucap Abeth.


Mereka pun segera mengkonfirmasi anak buahnya untuk segera pergi dari sana karena mereka sudah cukup tahu tentang Mei. Setelah itu Abeth dan Erlan langsung pergi tanpa menunggu anak buahnya berkumpul di satu titik.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2