Duda Bucin VS Preman Cantik

Duda Bucin VS Preman Cantik
bab 51


__ADS_3

Siang itu di kediaman orang tuanya Mei.


Mei masih dalam masa pemulihan setelah mengalami penusukan oleh orang-orang suruhannya Joanna.


"Bu, aye bosan di rumah terus. Aye mau ke pasar ya," ucap Mei.


"Gak boleh Mei, lu kan masih sakit."


"Udah sembuh kok Nyak. Udah gak berdarah lagi."


"Gak boleh, kalau Babeh lu tahu Nyak yang dimarahi nanti."


"Iya deh aye nurut aja apa kata Nyak dan Babeh."


"Nah gitu dong, nurut sama Nyak." Saroh tersenyum lalu duduk di samping Mei.


Tak lama ponsel Mei bergetar tanda ada pesan masuk. Mei pun beranjak dari duduknya u untuk mengambil ponselnya yang terletak di atas meja dekat televisi!


Mei pun langsung membaca pesan dari Darren itu.


"Nyak, ini Darren kirim pesan katanya dia mau ke mari sama keluarganya."


"Hah kapan?"


"Nanti sore katanya."


"Udah jam berapa ini, kita harus siapin segala sesuatunya buat nyambut mereka."


"Siapin apa sih Nyak, suguhin aja apa yang ada di rumah lagian Darren ngasih tahunnya juga mendadak gini."


"Tapikan sekarang masih ada waktu. Nyak belanja dulu deh ke pasar."


"Ya udah ayo aye yang anterin Nyak ke pasar," ucap Mei penuh semangat.


Sedari kemarin Mei memang sudah gak betah di rumah, dirinya ingin segera ke pasar untuk melakukan aktivitasnya.


"Giliran ke pasar aja semangatnya gede banget."


"Kan tadi aye udah bilang kalau aye suntuk di rumah."


*******


Di kediaman Darren dan keluarganya.

__ADS_1


"Darren Papa mau bicara sebentar sama kamu," ucap Wiliam.


"Iya Pak, bicara apa?" ucap Darren yang masih berdiri di dekat tangga.


"Sini, duduk dulu!" Wiliam mengusap kursi yang ada di sampingnya.


Darren pun berjalan menghampiri Papanya lalu duduk di sampingnya.


"Kamu serius mau sama Mei?" tanya Wiliam setelah Darren duduk di sebelahnya.


"Iya Pa, aku yakin kalau Mei itu bisa menjadi Ibu yang baik untuk Gaby. Papa kenapa tanya begini, apa Papa ragu sama Mei?"


"Tidak, Papa hanya ingin memastikan saja. Papa gak mau kalau nanti kamu salah pilih dan menyesal dikemudian hari."


"Sama Mei kayaknya nggak deh Pa, aku yakin dia itu wanita yang baik. Buktinya dia mengurus anak-anak jalanan itu dan juga dia menolak beberapa pekerjaannya yang Mama tawarkan karena dia lebih memilih menjadi penjaga pasar agar bisa membantu orang banyak."


"Semoga pilihan kamu yang ini benar-benar tepat ya, Papa tidak ingin kejadian enam tahun lalu terulang lagi."


"Semoga saja ya Pa."


**********


"Mario, katanya ada yang ingin kamu bicarakan sama aku, mau bicara apa?" tanya Bella.


"Aku mau ... aku ...."


"Sejujurnya aku jatuh cinta sama kamu dan aku mau kamu bertanggungjawab atas apa yang aku rasakan ini."


"Apa, tanggungjawab? Aku harus apa lagian aku gak berbuat apa-apa."


"Karena aku sudah jatuh cinta sama kamu, aku mau kamu jadi pacar aku."


"Hah." Bella menatap Mario dengan mulut yang terbuka lebar.


"Harus banget ya?" sambung Bella.


"Ya gak harus juga sih. Kalau kamu gak mau, aku gak bisa maksa."


Bella terdiam lalu menggigit roti yang dia pegang itu.


"Jadi gimana, kamu mau gak jadi pacar aku?"


"Eumm, gimana ya. Harus jawab sekarang nih?"

__ADS_1


"Gak harus, pikirkan aja dulu kalau mau, aku mau langsung nikahin kamu."


"Secepat itu?"


"Aku gak mau pacaran lama-lama karena kalau udah bosan pacaran biasanya suka putus ditengah jalan."


"Bagus gitu dong, nanti kalau udah nikah terus bosan gimana? Jadi Janda dan duda dong."


"Biasanya kalau sudah menikah akan sulit untuk berusaha karena hubungan yang terikat dengan pernikahan biasanya lebih kuat daripada hanya sebatas pacar saja."


"Sok tahu, kayak yang udah pernah nikah aja."


"Aku memang belum pernah menikah tapi kebanyakan orang kalau sudah menikah pasti sulit untuk berpisah."


Bella menatap Mario dengan senyuman tipis di bibirnya.


**********


"Mei ayo pulang! Jangan ngobrol terus sama temen-temen lu," ucap Saroh yang menenteng banyak belanjaan.


"Nyak ngapain bawa belanjaan sebanyak ini, sini Joni bantu ya," ucap Joni sembari mengambil alih belanjaan yang Saroh pegang.


"Nyak udah mau pulang kok ini, tinggal masuk ke angkot aja."


"Siapa yang bawa angkot Nyak?" tanya Dion.


"Ya aye lah, emang lu pikir Nyak bisa bawa tuh angkot," ujar Mei.


"Lu masih sakit udah bawa angkot, kalau lu kenapa-kenapa gimana?" ucap Karen.


"Abis gimana lagi, gak ada yang nganter Nyak belanja."


––––––– ––––––––


Hari berjalan begitu cepat, kini waktu sudah memasuki sore hari.


Saat itu jam menunjukkan pukul enam belas lewat dua puluh lima menit.


Keluarga Darren sudah tiba di rumah keluarga Rojak dan mereka juga sudah dihidangkan jamuan oleh Mei dan keluarganya.


"Pak, Bu jadi maksud kedatangan kami ke sini, kami mau melamar Mei untuk menjadi istri Darren, anak kami," ucap Wiliam.


"Kalau kami terserah bagaimana anaknya aja, kalau Mei nya mau kami pasti mengizinkannya tapi kalau tidak kami tidak bisa berbuat apa-apa karena kami tidak bisa memaksakan perasaan Mei," ucap Rojak.

__ADS_1


"Mei, kamu mau kan menikah sama Darren?" tanya Aryanti pada Mei.


Bersambung


__ADS_2