
Di kantor Satya.
Pemuda itu terlihat sangat murung. Tidak seperti biasanya yang selalu terlihat gagah dan berwibawa. Di kursinya, dia duduk sembari menatap foto Mei, dia tak pernah mengalihkannya pandangannya sedikit pun dari foto yang dia dapat dari Karen, itu.
"Jika dia kekasihmu, rasanya tidak mungkin karena dia terlihat sudah berumur dan tidak pantas untuk kamu, tapi tidak mungkin hanya seorang kakak. Dia terlihat begitu sayang padamu Mei," batin Satya.
Bu Widya menatap Satya dari ambang pintu. Dia merasa tidak tega melihatnya, perlahan dia berjalan mendekati Satya yang hanya diam tanpa melakukan sesuatu apa pun. Dia berjalan ke belakang kursi yang diduduki Satya untuk melihat apa yang sebenarnya sedang ditatap oleh anaknya itu.
Bu Widya menghela napas panjang lalu membuangnya kasar. Dia menyentuh pundak Satya lalu mengusapnya lembut.
"Dari awal Mama sudah mengingatkan kamu, tapi kamu tidak mau mendengar. Sekarang kamu sendiri yang harus menanggung akibatnya," ucap Bu Widya pada Satya.
"Aku terlanjur menaruh hati pada dia. Aku tidak tahu bahwa ternyata dia sudah ada yang punya," sahut Satya.
"Dia sudah menikah?" tanya Bu Widya.
Satu meletakkan foto Mei di mejanya lalu dia menatap sang ibu. Dia menarik napas berat lalu membuangnya kasar. "Aku tidak tahu, Ma. Laki-laki itu sangat dewasa itu terlihat sangat menyayangi Mei," jelasnya.
"Itu artinya kamu belum tahu siapa laki-laki itu dalam hidup Mei?" tanya Bu mega lagi yang hanya dibalas anggukan oleh Satya.
"Lupakan dia! Cari perempuan lain yang masih sendiri. Kamu bilang, Mei sulit didekati, itu artinya dia tidak membuka dirinya untuk kamu. Mungkin dia sudah memiliki kekasih atau bahkan sudah menikah. Bisa jadi laki-laki dewasa yang kamu maksud itu, adalah suaminya," jelas Bu Widya.
"Sepertinya aku harus mencari tahu tentang dia. Mama, tahu 'kan kalau aku tidak pernah sembarangan menyukai perempuan. Selama ini hanya beberapa wanita saja yang pernah berhasil menerjang hatiku dan satu pun diantara mereka, tidak ada yang berhasil kunikahi," ucap Satya.
Ya, di ususnya sekarang ini. Satya hanya memiliki dua mantan kekasih yang dua-duanya pernah sangat dia sayangi, tapi tak sampai dinikahinya. Yang pertama karena kekasihnya sakit keras dan akhirnya meninggal sebelum pernikahan mereka dilangsungkan
Yang kedua, perempuan itu ternyata berbeda keyakinan dengannya. Tidak ada yang mau mengalah akhirnya hubungan mereka pun kandas.
__ADS_1
Satya tidak ingin pindah agama, mengikuti keyakinan kekasihnya dan begitu juga sebalik. Kekasihnya itu tidak mau menjadi mualaf yang akhirnya hubungan mereka berakhir karena hal tersebut. Setelah putus dengan kejadian, baru ini lagi, Satya merasakan jatuh cinta dan itu terjadi pada wanita yang sama sekali tidak dia ketahui asal-usulnya dan latar belakangnya.
*******
Di kediaman Darren.
Bu Aryanti dan keluarganya baru akan pergi ke rumah orang tua Mei. Mereka baru mendapat telpon dari Darren bahwa mereka sudah masuk ke dalam kota tapi masih memerlukan beberapa jam perjalanan lagi untuk sampai di rumah orang tua Mei.
"Nenek, mama beneran pulang 'kan? Aku udah kangen sama mama," ucap Gaby.
"Iya, Sayang. Mama pulang sekarang. Ayo kita berangkat sekarang. Kita akan menyambut mama kamu di rumah kakek dan nenek kamu," jelas Bu Aryanti.
"Aku udah siap dari tadi. Ayo kita pergi sekarang saja! Aku udah gak sabar ingin bertemu mama," ucap Gaby lagi.
"Ayo. Kita pergi sekarang!" Bella menggandeng tangan Gaby lalu mereka mulai berjalan ke luar rumahnya.
Selama perjalanan menuju rumah besan mereka. Di dalam mobil yang dikemudikan oleh Bella itu terus dihiasi oleh kebahagiaan yang dirasakan oleh semua orang. Bu Aryanti tak kalah bahagianya hari ini, bagaimana tidak, dua hari kemarin dia melihat Darren yang terus dibayangi kekhawatiran dan ketakutan akan kehilangan Mei. Sebagai seorang ibu, dia ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Darren, hingga dirinya juga merasa ketakutan. Dirinya takut Darren kenapa-kenapa jika saja Mei tidak ditemukan.
Setelah mlakukan perjalanan selama tiga puluh menit, akhirnya mereka tiba di depan rumah orang tuanya Mei. Bella baru menghentikan mobilnya tapi Babeh Rojak dan keluarganya sudah menyambut kedatangan mereka.
Babeh Rojak dan Nyak Saroh berdiri di teras rumah mereka, sedangkan Alif dan Amel memilih lebih banya mendekat pada mobil itu. Mereka langsung memeluk Gaby setelah Gaby keluar dari mobil itu.
"Alhamdulillah, akhirnya tiba juga. Gimana perjalanan menuju ke mari? Macet gak?" tanya Nyak Saroh pada keluarga Darren.
"Alhamdulillah, senggang. Bukan waktunya pulang kerja, jadi jalanan lumayan sepi," jelas Bella yang tadi mengemudikan mobil mereka.
"Masuk dulu dah. Pasti pada capek," ucap Babeh Rojak.
__ADS_1
Mereka pun segera masuk ke dalam rumah itu dan menunggu kedatangan Mei dan Darren bersama-sama. Mereka semua tidak sabar ingin melihat kondisi Mei. Mendengar Mei yang menderita luka tisuk benda tajam, membuat mereka khawatir dan ingin segera memastikan kesehatan Mei.
*******
Di pasar.
Karen, Dion dan Joni sudah tak sabar ingin bertemu dengan Mei. Mereka terus saja melihat jam dan melihat ponsel mereka, berharap Babeh Rojak atau siapa pun menelponnya dan memberitahu bahwa Mei sudah tiba.
"Ya sallam. Kapan Mei datang?" ucap Joni yang sudah tak sabar menunggu kedatangan Mei.
"Iya. Lama banget padahal tadi, Nyak bilang, mereka sudah dalam perjalanan pulang," ucap Karen.
"Gue gak sabar pengen tahu siapa yang menculik Mei. Kalau sampai orang itu ketemu, beuh abis, tuh orang," ucap Dion.
"Hmm. Benar, Lu. Pokoknya gue gak akan kasih ampun, tuh penculik," sambung Joni.
Tiga sahabat Mei itu memang sangat menyayangi Mei. Meski sekarang Mei sudah menikah dan kadang suka melupakan mereka, tapi mereka semua tetap menyayangi Mei seperti dulu. Mereka selalu menganggap Mei, adalah Mei yang dulu. Mei yang hanya milik mereka.
Dari arah depan pasar. Satya berjalan menghampiri mereka, dia ingin sekali bertanya tentang Mei pada mereka. Dengan langkah cepat dan tegak, dia terus menghampiri Karen dan teman-temannya.
Saat dirinya sudah dekat dengan mereka, tiba-tiba seseorang berteriak maling. "Maling! Maling! Tolong! Dia membawa tas saya!" teriak seorang perempuan pengunjung pasar itu.
Dion, Karen dan Joni pun langsung bergegas untuk menangkap pencuri itu. Mereka berlarian, berpencar untuk mencehat si maling dari jalan keluar di depan dan di belakang pasar itu. Satya yang tak dapat mencegah mereka, hanya bisa diam dan memilih mengurungkan niatnya untuk bertanya-tanya pada Karen.
"Gagal lagi. Kenapa setiap aku ingin mengetahui lebih banyak tentang Mei, selalu saja ada gangguan," batin Satya.
Bersambung
__ADS_1