Duda Bucin VS Preman Cantik

Duda Bucin VS Preman Cantik
bab 18


__ADS_3

Pagi hari, Mei tidak sarapan bersama dengan keluarganya, dirinya memilih untuk cepat pergi ke tempat tinggal anak-anak asuhnya.


"Mei, sarapan dulu," ucap Saroh.


"Kagak Nyak, aye mau sarapan sama anak-anak aja," sahut Mei sembari terus berjalan keluar dari rumahnya.


"Tuh anak, orang tua lagi ngomong main tinggal-tinggal aja."


"Kemarin katanya Amel sakit, udah sembuh belum ya?" ucap Rojak.


"Aye kagak tahu Bang. Bang mending kita cepat renovasi rumah ini biar mereka bisa tinggal di sini."


"Gue juga maunya gitu tapi gimana lagi, uang kita kan belum cukup buat renovasi rumah."


"Kasian Mei, Bang tiap hari dia kudu bolak balik ke tempat tinggal mereka. Kadang aye sendiri bingung sama tuh anak, kenapa dia begitu perduli sama mereka padahal mereka bukan siapa-siapa kita."


"Gue juga kasian tapi mau gimana lagi, kita gak bisa buat apa-apa. Gak usah heran, itu kan karena didikan kita. Kita yang sering bilang sama dia kalau kita kudu membantu orang yang susah dan kita kudu menyayangi anak-anak yang kurang beruntung. Harusnya kita bersyukur karena punya anak yang peduli banget sama orang lain ya meski anak kita gak kayak perempuan pada umumnya."


"Gak kayak perempuan kayak gimana?"


"Lah itu gaya berpakaiannya. Sekalinya berpakaian kayak perempuan lain pas pulang eh ngedumel."


"Aye lupa nanya kenapa dia ngedumel pas pulang."


*******


"Mei gimana keadaan kamu?" tanya Mei saat tiba di tempat tinggal mereka.


"Sekarang udah mendingan kak tapi semalam badannya panas tinggi," jelas Niki.


"Kenapa lu kagak telpon gue?"


"Gak berani kak, takut mengganggu."


"Lain kali kalau ada apa-apa telpon gue mau pagi, siang, malam atau tengah malam atau dinihari pun lu jangan takut gue gak datang."


"Kak, kami ini gak punya orang tua dan kakak bukanlah siapa-siapa kami. Kita tidak punya hubungan darah ataupun kerabat tapi kami harus membayar dengan apa semua kebaikan kakak."


"Kamu bicara apa hmm. Kakak di sini sebagai kakak kalian jadi kalian tidak perlu merasa sungkan dan kalian tidak harus membayar semua jasa kakak untuk kalian cukup kalian bahagia kakak udah bahagia."


"Sebenarnya orang tua kami ada di mana kak? Kenapa mereka meninggalkan kami?" tanya Alif.


Bocah yang masih berusia sekitar lima atau enam tahun itu kembali menanyakan tentang orang tuanya pada Mei.


"Alif, orang tua kamu ada tapi kakak gak tahu mereka di mana. Kamu doakan saja semoga mereka baik-baik saja dimana pun mereka berada."


Sudah sering Alif menanyakan tentang mereka tapi sampai saat ini Mei selalu memberikan jawaban yang sama dengan sebelumnya.


"Tapi aku ingin bermain bersama dengan Ayah dan Ibuku, aku ingin main kuda-kudaan dengan Ayah dan ingin sekali dipeluk dan dimanja sama Ibu."


Tak terasa mata Mei mulai berkaca-kaca, mendengar perkataan bocah itu membuat Mei merasa sedih. Walaupun dirinya tidak pernah kekurangan kasih sayang orang tuanya tapi Mei dapat merasakan apa yang Alif rasakan.


"Alif, kamu sabar ya. Jika orang tua kamu masih hidup semoga kamu dapat bertemu dengan mereka dan jika orang tua kamu sudah meninggal, semoga kamu bisa berziarah ke makam mereka."


"Kak aku ingin mencari orang tuaku juga," ucap Amel.


"Kakak akan berusaha menemukan orang tua kalian sekarang kita sarapan yuk! Kalian pasti belum pada sarapan."


"Kak tadi aku udah beli nasi uduk untuk sarapan," ucap Niki.

__ADS_1


"Dari mana kalian punya uang?"


"Kemarin aku dan Bayu ngamen di jalanan."


"Ngamen? Gue pan udah bilang, kalian jangan ngamen lagi, emang uang dari gue gak cukup buat lu pada makan sehari-hari?"


"Kak kami gak mau terus bergantung pada kakak, kami ingin mendapatkan uang untuk menyekolahkan Alif dan Amel. Kami ingin mereka jadi orang berhasil."


Mei merasa tersentak mendengar perkataan Bayu, dirinya memang tidak bisa menyekolahkan mereka. Dengan uang yang dia dapatkan dari menjaga keamanan dan kebersihan di pasar hanya cukup untuk memberi makan mereka saja sedangkan untuk sekolah dirinya hanya bisa mengajari mereka sendiri. Terlalu mahal untuk biaya sekolah di Ibu Kota, Mei tak mampu jika harus menyekolahkan mereka semua.


"Maafin gue ya, sebagai kakak, gue gak bisa menyekolahkan lu pada," ucap Mei dengan nada lirih.


"Kenapa harus minta maaf? Kakak gak salah. Sekarang aku dan Bayu sudah besar kak, tolong izinkan kami mengamen agar bisa dapat uang untuk menyekolahkan Alif dan Amel. Aku gak mau mereka seperti kami," ucap Niki.


"Tapi siapa nanti yang menjaga Amel dan Alif di sini."


"Kemarin kami titipkan mereka ke tetangga."


Mei terdiam, ada rasa yang mengganggunya saat ini. Dirinya sangat ingin memberikan mereka pendidikan yang layak namun dirinya sendiri tidak mampu untuk itu.


*******


"Darren, kamu kok gak ke kantor?" tanya Sarah.


"Aku ke kantor agak siangan Nek."


"Kenapa, tumben banget?"


"Aku disuruh Mama buat nganterin uang Mei."


"Uang apa?"


"Oh, ya udah pergi sana."


"Ini juga lagi siap-siap."


"Mamamu dan Gaby sudah berangkat ke sekolah?"


"Sudah. Nenek jangan khawatir, mereka tidak akan terlambat."


"Kak, aku ikut ke rumah Mei ya," ucap Bella.


"Mau ngapain? Emang kamu gak kuliah?"


"Ya mau ketemu sama Mei lah masa mau ketemu sama Papanya Mei."


"Kuliah?"


"Nggak. Hari ini gak ada kelas."


"Nanti kamu buat masalah gak? Aku gak mau ya kalau ujung-ujungnya kamu berulah."


"Nggak kak, yakin. Janji deh."


"Ya udah ayo cepat."


*******


"Kenapa tuh muka kayak kanebo kering aja. Kaku," ucap Dion.

__ADS_1


"Anak gue sakit," sahut Mei.


"Siapa, sakit apa?"


"Si Amel demam tinggi. Apa mungkin dia sakit gara-gara pengen ketemu sama orang tuanya ya."


"Emang kamu tahu dia ingin bertemu dengan orang tuanya?"


"Dia bilang sendiri ke gue kayanya dia pengen bertemu dengan orang tuanya."


"Terus gimana?"


"Ya gue kagak tahu lah, gue sendiri gak kenal dan gak tahu siapa orang tua Amel."


"Kasian mereka. Andai gue bisa bantu mereka."


"Kita akan bantu mereka bersama-sama," ucap Karen.


"Gimana caranya?" tanya Joni.


"Caranya, kita datangi tempat pertama kali lu nemuin mereka Mei."


"Terus? Gue udah datang ke tempat itu tapi tidak menemukan apa pun."


"Di sana pasti ada petunjuk."


"Gak ada Ren, gue udah cari petunjuk di sana dan kalaupun ada pasti sudah hilang karena gue nemuin mereka kan udah berapa tahun yang lalu."


"Gue heran kok ada orang tua yang tega buang anaknya kayak gitu."


"Orang tua Bayu dan Niki jelas meninggal sedangkan orang tua Amel dan Alif gak jelas dimana mereka berada," ucap Karen.


"Dah lah jangan pikirkan mereka dulu. Lu pada udah keliling belum?"


"Udah dari pagi kali, ini kita baru aja selesai," ucap Dion.


"Sukur dah, maaf ya aye datang telat."


"Kagak apa-apa lagian lu gak datang pun gak ada yang berani marah sama lu Mei," ucap Karen.


"Apa lu kata? Kalau gue gak datang lu-lu pada pasti ngoceh kayak burung beo."


Saat mereka sedang ngobrol, Darren datang dan menghampiri Mei di sana.


"Maisya Melanie," ucap Darren.


Semua orang yang ada di sana menatap Darren.


"Mei semalam calon laki lu bukan dia dah kenapa sekarang dia yang datang?" ucap Joni.


"Ngomong apa sih lu," ucap Mei sembari beranjak dari duduknya!


"Ada apa, ngapain kamu ke sini?" tanya Mei pada Darren.


"Aku disuruh Mama nganterin ini." Darren memberikan sebuah amplop yang isinya lumayan tebal.


Bersambung


__ADS_1


__ADS_2