Duda Bucin VS Preman Cantik

Duda Bucin VS Preman Cantik
bab 76


__ADS_3

Waktu sudah memasuki dinihari. Sekitar pukul dua, Mei sudah berada di dalam sebuah rumah mewah milik Hengky. Di dalam sebuah kamar yang luas dan mewah. Mei terbaring dengan tangan dan kaki yang masih terkunci rapi, dia tak dapat membuka borgol yang terpasang di tangannya dan juga tak bisa membuka rantai yang membelit kuat di kakinya.


"Tolong!" seru Mei sembari terus berusaha membuka borgol itu.


Hengky datang ke kamar itu lalu duduk di samping Mei. Dia meraih pipi Mei dan membelainya dengan lembut. "Jangan berteriak, Sayang karena teriakanmu akan sia-sia," ucap Hengky dengan suara lembut.


"Aaa! Lepasin aye. Siapa kamu?" seru Mei sembari berusaha menghindar dari sentuhan Hengky.


Hengky membuka penutup kepalanya dan juga maskernya. Dia menatap Mei dengan senyuman penuh arti.


"Hengky!" Mei terkejut ternyata Hengky yang sudah menculiknya.


"Kurang ajar. Apa yang kamu mau? Kenapa kamu melakukan ini pada aye!" Mei berteriak sambil berusaha menendang Hengky. Namun pergerakannya sangat terbatas karena kakinya terikat kuat.


"Aku ingin hanya aku yang memiliki kamu. Tidak boleh ada orang lain yang memiliki kamu. Kita akan menikah, besok," jelas Hengky tanpa adanya kemarahan meski sedari tadi Mei terus berteriak padanya.


"Gila, kamu ya. Aye sudah menikah, aye sudah punya suami, kamu gak bisa menikahi aye." Mei terus berteriak memberi pengertian pada mantan kekasihnya itu.


Semua terjadi bukanlah kesalahannya. Dulu Hengky pergi tanpa pamit dan tak pernah ada kabar selama bertahun-tahun hingga akhirnya Mei membuka hati untuk laki-laki lain karena mengira Hengky sudah melupakannya. Namun ternyata, laki-laki yang pernah meninggalkannya tanpa kata itu, sampai saat ini masih menyimpan cinta untuknya dan sekarang sudah berbuat gila.


"Aku memang gila. Gila karena cintamu, Maisya Melanie," ucap Hengky.


Hengky meraih bagian dada Mei lalu mengelusnya dengan sedikit menekannya hingga membuat Mei marah. "Kamu akan menjadi milikku. Semua ini akan menjadi milikku," ucapnya dengan senyuman penuh misteri.


"Kurang ajar, Lo Hengky! Lepasin!" Mei menggeser tubuhnya untuk menjauhi Hengky.


"Jangan pernah sentuh aye dengan tangan kotormu itu. Aye gak nyangka, kamu bisa sejahat ini pada aye," sambung Mei.


"Jahat di mananya, Mei? Aku tidak pernah menyakiti kamu. Kamu terluka seperti ini karena perbuatan preman-preman bodoh itu, bukan aku. Aku menyuruh mereka untuk tidak melukai kamu tapi karena mereka bodoh, mereka tidak mendengarkan perintah aku," jelas Hengky yang kini sudah menindih tubuh Mei.

__ADS_1


Mei murka dengan perlakuan Hengky. Dia pun berusaha menghindar dari laki-laki itu dengan cara menggeliatkan tubuhnya dan setelah itu menggerakkan kedua kakinya untuk menendang Hengky. Kini Mei sudah berada di tepi ranjang itu dengan posisi duduk, dia bersiaga kalau-kalau Hengky kembali mendekatinya.


Hengky yang baru terkena tendangan di bagian pundak pun, meraung kesakitan sembari memegangi pundak kanannya. Meski begitu, dia tidak berencana untuk memukul atau menyakiti Mei. Dia tahu, dalam kondisi seperti itu Mei, tidak akan bisa melawan apalagi sampai kabur darinya.


"Dalam kondisi seperti ini saja kamu masih galak, Mei. Aku jadi tidak sabar ingin menikahi dirimu. Bagaimana permainan ranjangmu, apa sehebat permainanmu saat berduel dengan para penjahat?" ucap Hengky dengan tawa mengejek Mei.


"Kurang ajar, kamu Hengky! Lepasin aye!" teriak Mei lagi.


Hengky mendekati Mei lalu mencengkeram leher belakangnya. Tangan satunya memegang bahu Mei lalu dia mencumbu Mei dengan begitu rakus.


Mei berusaha menolak. Dia menggerakkan tubuhnya dan juga menggerakkan kepalanya meski Hengky mencengkeram kuat lehernya, tapi dirinya tak mau menyerah begitu saja. Dalam hatinya, ingin sekali dia memukul, menendang bahkan sampai membuangnya ke jurang, tapi apalah daya. Saat ini dirinya tak dapat melakukan semua itu. Tangannya yang diborgol di belakang dan kakinya yang terikat kuat, membuatnya tidak bisa berbuat banyak.


Mei memang terkenal sebagai wanita tangguh, tapi dia tidak pernah bermain dengan borgol dan gembok. Dia tidak bisa membuka borgol itu sendiri dan tidak bisa membuka gembok yang mengunci rapat rantai yang mengikat kakinya.


"Kamu akan menjadi milikku. Kamu akan menjadi milikku seutuhnya," bisik Hengky setelah puas mencumbu Mei.


"Istirahatlah, Sayang. Besok kita akan menikah!" Hengky langsung pergi meninggalkan Mei di dalam kamar itu. Tak lupa sebelum pergi, dia melempar senyuman pada Mei.


*******


Di sebuah jalanan di ibu kota.


Darren masih melaju menyusuri jalanan yang entah di mana ujungnya. Dia masih berusaha mencari Mei meski sudah hampir semalaman penuh dia menjelajahi luasnya ibu kota. Dia tak ingin menyerah begitu saja, dalam hatinya, ia masih yakin bahwa Mei bisa ditemukan olehnya.


"Di mana, kamu sayang? Kamu wanita kuat, kamu wanita hebat. Kenapa kamu membuatku khawatir seperti ini," batin Darren sambil terus melaju.


*******


Di sebuah tempat.

__ADS_1


Babeh Rojak mulai lelah setelah hampir semalaman penuh dia ke sana ke mari mencari Mei, akan tetapi tidak ada titik terang di mana putrinya itu berada. Meski begitu, Babeh Rojak terus berusaha mencari Mei, dirinya khawatir terjadi sesuatu pada putrinya itu.


"Babeh! Babeh ngapain di mari?" tanya Joni yang juga ada di tempat itu.


Babeh Rojak menoleh ke arah suara dan dia langsung mendapati Joni di tempat itu. Laki-laki tua itu langsung bergegas menghampiri Joni yang berada tal jauh darinya.


"Jon! Lu udah menemukan anak gue? Di mana dia sekarang?" tanya Babeh Rojak pada Joni.


"Aye masih mencarinya, Beh. Anak-anak juga tidak bisa menemukan Mei. Semoga Darren menemukan Mei," ucap Joni.


"Astaghfirullah. Di mana anak gue berada. Jon, tolong lu cari anak gue. Mei anak gue satu-satunya," ucap Babeh Rojak yang mulai kehilangan kepercayaan dirinya.


"Kita akan menemukan Mei, Beh. Hanya saja, kita butuh waktu untuk itu," ucap Joni.


"Gue mau cari anak gue lagi. Lu mau ke mana?" tanya Babeh Rojak.


"Babeh pulang saja. Biar aye dan yang lainnya yang mencari Mei," ucap Joni.


*******


Di luar kota.


Mei tak dapat memejamkan matanya. Di kamar itu, dia merasa ketakutan yang amat sangat. Ini pertama kalinya rasa takut menghampiri hidupnya, bukan takut mati, tapi Mei takut dirinya benar-benar dinikahi oleh Hengky dan tidak bisa kembali pada keluarganya.


"Ya Allah, tolong keluarkan aye dari sini. Aye tidak mau di sini, aye tidak mau membuat keluarga aye khawatir," batin Mei.


Mei terus menangis. Selama ini durinya tak pernah menangis meski sesakit apa pun luka yang dideritanya, tapi kali ini dia begitu sedih karena tak bisa membebaskan dirinya sendiri dari bahaya yang mengintai. Dirinya sering menolong orang tapi saat dirinya dalam kesulitan, tak satu pun orang datang untuk menolongnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2