Duda Bucin VS Preman Cantik

Duda Bucin VS Preman Cantik
bab 56


__ADS_3

Satu minggu setelah pernikahan Mei dan Darren. Pagi ini Mei akan mengantarkan Gaby sekolah dan setelah itu dia akan pergi ke pasar untuk menemui teman-temannya dan melihat kondisi pasar yang sudah satu minggu dia tinggalkan.


Mei sangat bersemangat karena akan pergi ke tempat yang sangat dia rindukan. Sebenarnya bukan pasar dan teman-temannya yang dia rindukan, yang utama dan yang sangat menyiksa dirinya adalah rindu pada kedua orang tuanya dan anak-anak asuhnya yang belum sempat dia temui.


Selama satu minggu ini Nyak dan Babehnya yang mengurus semua keperluan anak-anak itu. Bukan tanpa alasan, setelah menikah Mei mempunyai kesibukan pribadi bersama suaminya, hari ini aja sebenarnya dirinya masih lelah setelah beberapa hari kemarin mereka berlibur untuk bulan madu ke luar kota.


Setelah selesai sarapan. Semua orang rumah itu mulai mengerjakan tugas masing-masing, Mei berangkat mengantar Gaby ke sekolah sedangkan Darren dan Bella pergi ke kantor.


Mereka berjalan beriringan ke luar dari rumah itu. Setibanya di halaman rumah, Darren menghentikan langkahnya dan menarik tangan Mei agar menghentikan langkahnya juga.


"Ada apa lagi, Bang?" tanya Mei pada Darren.


"Jangan panggil aku dengan sebutan Abang. Aku gak suka, panggil aku dengan sebutan Ayang," ucap Darren.


"Udah ah, jangan bercanda. Ada apa?" tanya Mei lagi.


"Kamu pergi ke sekolah mau bawa mobil yang mana?" tanya Darren sambil menatap Mei.


"Mobil? Aye mau naik angkot aja."


"Bawa mobil sendiri saja," ucap Darren.


"Aye kagak bisa bawa mobil bagus. Pan aye, biasnya bawa angkot butut," sahut Mei.


"Sama saja kali. Bawa mobil aja biar kamu gak kepanasan dan gak ribet turun naik angkutan umum," ucap Darren.


"Ya udah kalau gitu aye pakai mobil yang paling murah aja. Yang mana mobilnya?"


"Orang mau pakai yang mahal tapi kamu mau pakai yang murah. Ada-ada saja," ucap Bu Sarah.


"Bukannya apa-apa, Nek. Aye takut sawan bawa mobil mahal," ucap Mei pada Bu Sarah.


"Ya udah berarti kamu bawa mobil yang itu saja," ucap Bu Aryanti sembari mengarahkan jari telunjuknya pada sebuah mobil miliknya yang jarang sekali dipakai.


"Nih, kuncinya!" Darren memberikan kunci mobil yang dimaksud oleh Bu Aryanti pada Mei.

__ADS_1


"Ini ya, ya udah deh. Aye pakai mobil," ucap Mei sembari meraih kunci mobil itu dari tangan Darren.


Karena arah sekolah Gaby dan kantor Darren tidak searah, akhirnya mereka pun memilih berangkat sendiri-sendiri. Darren dengan mobilnya sementara Mei dengan mobil lain. Mei yang biasa menggantikan Babehnya narik angkot, tentunya dia sudah mahir dalam mengendarai mobil. Orang tuanya Mei memang terkenal sebagai juragan angkot, tidak aneh jika Mei bisa membawa mobil meski dirinya bukan terlahir dari keluarga kaya.


"Gaby, cium tangan, Nenek dulu, Sayang," ucap Mei pada Gaby.


Gaby pun mencium punggung tangan Bu Aryanti dan setelah itu baru Mei mencium punggung tangan ibu mertuanya itu. Mereka pun langsung memasuki mobil masing-masing dan mulai meninggalkan rumah itu. Dengan senyuman yang terus mengembang di bibirnya, Bu Aryanti terus menatap kepergian anak-anaknya.


Di dalam rumah.


"Semoga saja Mei adalah istri yang tepat untuk Darren," ucap Bu Sarah pada Bu Aryanti.


"Aku yakin Mei itu perempuan paling tepat untuk Darren. Perempuan yang terlahir dari keluarga sederhana tidak akan mendewakan uang seperti Joanna. Mei tidak akan meninggalkan Darren hanya karena laki-laki yang lebih kaya dari kita," ucap Bu Aryanti penuh keyakinan.


"Semoga saja apa yang kamu ucapkan ini benar. Mama hanya tidak ingin kejadian enam tahun lalu terulang lagi," ucap Bu Sarah lagi.


**********


Di tempat lain.


Setelah beberapa menit menempuh perjalanan, akhirnya Mei tiba di depan rumahnya. Dia memarkirkan mobilnya dan langsung turun dari mobilnya! Dengan membawa kunci mobil ditangannya, dia terus berjalan menuju pintu utama rumahnya. Dia langsung mengetuk pintu rumah itu sembari mengucapkan salam.


"Nyak! Babeh! Aye pulang," seru Mei sembari mengetuk pintu rumahnya.


Tak lama, pintu itu pun langsung terbuka dan langsung menapakkan sodok wanita paruh baya yang kini tersenyum ke arahnya. Nyak Saroh, ya ibunya Mei yang membukakan pintu itu. Mei langsung berhamburan memeluk ibunya untuk menghilangkan rasa rindunya.


"Nyak, aye kangen sama Enyak dan Babeh," ucap Mei.


"Nyak juga kangen sama lu, Mei. Masuk dah lu!" titah Nyak Saroh pada Mei.


Mei pun langsung memasuki rumah orang tuanya dengan perasaan bahagia. "Babeh mana, Nyak?" tanya Mei.


"Udah pergi tadi. Angkot buyutnya minta ganti oli," jelas Bu Saroh.


"Lah, bengkel pan di depan. Kenape kudu pergi jauh cuma buat ganti oli?" tanya Mei.

__ADS_1


"Pergi buat beli oli. Stok di rumah udah pada habis jadi, babeh lu beli dulu di toko koh Hendrik," jelas Nyak Saroh.


"Oh, begitu," ucap Mei mengerti.


"Aye mau ke pasar, Nyak. Nyak mau ikut kagak?" sambung Mei lagi.


"Kagak. Ngapain ke pasar mulu, tadi Nyak udah ke pasar buat beli kebutuhan masak selama satu minggu."


"Ya udah, kalau gitu aye ke pasar dulu dah. Aye juga kangen sama tuh pasar," ucap Mei sembari nyengir.


"Baru juga datang lu di rumah masa udah pergi lagi aja."


"Bukan ape-ape, Nyak. Aye udah gak tahan pengen ketemu Karena ma yang lainnya," ucap Mei.


"Nanti lu mau ke mari lagi gak? Kalau mau, Nyak masak masakan kesukaan lu nih."


"Aye pasti ke mari lagi, Nyak. Pan aye belum ketemu ma Babeh," sahut Mei.


Mei pun langsung pergi meninggalkan rumah itu tak lupa sebelum pergi dia mencium punggung sang ibu dengan sangat sopan. Dia pun mulai mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Nyak Saroh langsung masuk ke dalam rumah untuk segera memasak makanan kesukaan anak satu-satunya itu.


Setelah menempuh perjalanan selama sepuluh menit, Mei tiba di pasar. Dia langsung turun dari mobilnya dan langsung berjalan ke tempat tongkrongannya bersama teman-temannya. Beberapa pedagang di sana menyapa Mei dengan senyuman, mereka yang sudah akrab dengan Mei langsung menyunggingkan senyuman pada Mei.


"Hai semuanya! Apa kabar lu semua?" tanya Mei pada Karen, Dion dan Joni.


"Hey, Mei. Lu di mari?" tanya Karen sambil beranjak dari duduknya dan langsung memeluk Mei.


"Aye kangen sama kalian," ucap Mei.


"Sini-sini, duduk Mei. Kita ngopi bareng," ucap Dion sembari menepuk bangku kayu di sebelahnya.


"Gimana keadaan pasar selama aye gak ada, aman 'kan?" tanya Mei.


Mereka pun langsung berbincang ria untuk melepaskan rindu setelah satu minggu tidak bertemu. Mei langsung duduk bersama mereka dan bercerita tentang yang dia lakukan selama satu minggu kemarin dan tentunya Mei juga bertanya tentang mereka dan semua yang terjadi di pasar tempatnya bekerja.


Bersambung

__ADS_1



__ADS_2