Duda Bucin VS Preman Cantik

Duda Bucin VS Preman Cantik
bab 54


__ADS_3

Baru jam tiga dinihari Mei sudah terbangun dari tidurnya, dia memang terbiasa bangun dijam segitu karena tugasnya mengamankan pasar dimulai pukul setelah empat dinihari.


"Jam berapa ini? Kenapa kamu sudah bangun?" tanya Darren yang merasakan pergerakan Mei yang berusaha melepaskan pelukannya.


"Aye, kagak bisa tidur. Biasanya jam segini aye udah berangkat ke pasar," sahut Mei.


"Mau kopi?" tanya Darren.


"Malah nawarin kopi?" Mei menatap Darren penuh tanya. Dirinya mengatakan bahwa dirinya tidak bisa tidur tapi suaminya itu malah menawarkan kopi padanya, sungguh aneh tapi nyatanya.


"Kali aja kamu kebiasaan ngopi sebelum ke pasar," jawab Darren.


"Aye emang suka ngopi tapi gak jam segini juga."


"Sini, tidur lagi!" Darren menarik tangan Mei agar terbaring lagi di sampingnya.


Mei menurut saja apa kata Darren karena mau melakukan sesuatu pun dirinya tidak bisa. Di rumah itu dirinya belum tahu harus melakukan apa di jam yang seharusnya masih enak-enaknya tidur itu. Mei membaringkan tubuhnya di samping Darren dan langsung menutup tubuhnya dengan selimut.


Di dalam selimut itu. Tangan Darren mulai nakal, dia mulai merayap memasuki baju yang dikenakan oleh Mei. Mei menatap Darren sementara Darren hanya tersenyum menanggapi tatapan Mei.


Sebelumnya Darren sangat takut pada Mei karena tahu kemampuan Mei yang luar biasa yang tak mungkin dirinya menandingi kekuatan perempuan itu. Sekarang setelah dirinya menikahi Mei, rasa takut itu pun mulai hilang karena apa pun yang dia lakukan pada Mei. Mei tidak akan bisa menolak apa lagi marah.


Setelah mereka menikah, semua yang ada dalam tubuh Mei adalah milik Darren. Darren berhak sepenuhnya atas apa yang dimiliki oleh Mei. Begitulah pikir Darren.


"Selain jago gombal ternyata kamu juga ahlinya meraba," ucap Mei sembari mencekal tangan Darren yang kala itu sudah merayap di dadanya.


"Ini salah satu hobi aku. Mulai sekarang kamu harus terbiasa dengan hobi aku ini," ucap Darren sembari menekan pelan mahkota kembar milik Mei itu.


"Ahh, jangan ditekan gitu," ucap Mei yang merasa sedikit terkejut karena perlakuan suaminya itu.


"Kamu merasakan sesuatu ya? Aku juga. Boleh lagi?" tanya Darren sembari menatap Mei.

__ADS_1


"Aduh jangan dulu, dong. Ampun, aye masih sakit," ucap Mei menolak permintaan Darren.


"Waktu itu lehernya luka sampai berdarah bahkan sampai dirawat di rumah sakit, gak apa-apa, tuh kenapa sekarang minta ampun padahal yang aku minta ini gak bikin kamu berdarah," ucap Darren dengan sedikit bercanda.


Sebenarnya dirinya tahu saat itu Mei pasti kesakitan akibat perbuatannya semalam. Sekuat apa pun seorang wanita, pasti dia merasa kesakitan saat pertama kali melakukan hubungan suami istri.


Mei yang sebelumnya masih tersegel ketat pasti merasa tersakiti saat ada sesuatu yang menerobos segel itu meski benda yang masuk bukanlah benda tajam. Sebagai seorang yang sudah pernah menikah, Darren tahu betul akan hal itu karena saat menikah yang pertama pun dirinya menikah dengan seorang yang masih gadis.


"Besok lagi aja ya. Maaf, bukannya aye mau menolak tapi beneran deh yang ini bikin aye nyerah. Punyamu terlalu besar kayaknya," ucap Mei tanpa merasa malu sedikit pun.


"Gak besar, hanya saja kamu yang terlalu sempit." Darren merayap ke bawah dan menyapa apa yang ada di sana.


Hal itu membuat Mei sedikit terkejut dan ketakutan. Ini kali pertama ada orang lain yang datang ke sana dan tiba-tiba mengelusnya.


"Jangan bermain di sana. Aye ngeri," ucap Mei.


"Iya deh. Ayo tidur lagi! Masih lama menuju pagi," ucap Darren. Darren pun memeluk memeluk Mei lalu segera menutup matanya lagi.


Sementara itu karena terbiasa terbangun di jam segitu, Mei tak dapat tertidur lagi. Dia menutup matanya tapi hati dan pikirannya terus saja berkelana ke mana-mana.


Merasakan istrinya sudah tidak ada di tempat. Darren membuka matanya lalu mencari-cari sosok istrinya itu di sekeliling kamarnya. Sudah mencari di semua sudut ruangan kamarnya tapi tak melihat adanya Mei di sana, Darren pun bangkit dari tidurnya dan berjalan ke arah kamar mandi.


Tok!


Tok!


"Mei! Kamu di dalam?" tanya Darren.


"Iya. Aye lagi mandi!" sahut Mei dari dalam kamar mandi.


"Lagi menjadi, kok gak kedengaran suara air. Dia tahu gak cara mandi di rumah ini?" batin Darren. Di dalam kamar mandi Darren memang tidak ada bak mandi dan gayung, di sana mereka mandi menggunakan bathtub untuk berendam dan shower untuk menyiram tubuh dan membersihkannya dari busa sabun.

__ADS_1


Mei terlahir dari keluarga sederhana dan di rumahnya juga hanya ada satu kamar mandi yang digunakan oleh semua keluarga. Di rumah Mei tidak ada kamar mandi mewah seperti di rumah Darren karena itulah dia bertanya-tanya apakah Mei bisa mandi di rumahnya.


Perlahan Darren membuka pintu kamar mandi dan langsung melihat Mei yang berendam dalam bathtub. Dia pun langsung menghampiri Mei karena merasa aneh pada istrinya itu.


"Kamu ngapain ke mari? Aye masih lama," ucap Mei yang melihat Darren menghampiri dirinya.


Darren tak menyahut, dia langsung menyentuh air itu untuk mengetahui Mei berendam dengan air hangat atau dingin. Dia pun langsung terheran-heran karena ternyata Mei anteng berendam dengan menggunakan air dingin saat jam segini.


"Kamu gak salah berendam dengan air dingin?" tanya Darren.


"Tidak. Kenapa memang?" tanya Mei.


"Masih subuh. Dingin, dong nanti kamu masuk angin," ucap Darren.


"Mana ada. Aye biasa mandi setelah tiga dinihari," sahut Mei santai.


"Aneh, nih orang. Ini 'kan bisa air hangat kenapa gak pakai air hangat berendamnya?"


"Ih apa, sih ribet bener. Aye lebih suka air dingin, pergi sana kalau gak mau mandi kalau mau mandi boleh sini gabung," ucap Mei.


"Serius kamu?" Darren menatap Mei dengan tatapan misterius.


"Seriuslah. Sini aja tapi awas kalau macam-macam."


"Nggak, kok paling satu macam." Darren langsung membuka pakaiannya dengan semangat lalu segera menaiki bathtub itu.


"Dingin-dingin enak kali ya kalau main serang-serangan?" ucap Darren yang mulai nakal didalam air.


"Jangan. Aye masih sakit," ucap Mei.


"Nggak. Aku hanya main-main sedikit biar gak terlalu kedinginan," ucap Darren. Tangan Darren yang nakal itu pun mulai menjalar kemana-mana, menyusuri tubuh sang istri.

__ADS_1


Bersambung



__ADS_2