
Keesokan harinya, di kediaman Babeh Rojak dan keluarga.
Pagi itu di rumah Babeh Rojak, semua orang sudah sibuk dengan urusan masing-masing. Niki dan Bayu sibuk menyiapkan kebutuhan sekolahnya dan juga kebutuhan Alif dan Amel sedangkan Nyak Saroh sibuk menyiapkan sarapan untuk mereka.
Di depan rumah, Babeh Rojak juga sibuk memanaskan beberapa angkot miliknya yang sebentar lagi akan dipakai narik oleh masing-masing sopirnya. Baru jam lima pagi tapi semua orang fi rumah itu sudah sibuk dengan urusan masing-masing. Babeh Rojak dsn Nyak Saroh memang terbiasa bangun sebelum adzan subuh.
Di dapur. Nyak Saroh baru selesai masak dan kini, dia sedang menata masakannya di atas meja makan. Tanpa sengaja tangannya menyenggol sebuah gelas dan menyebabkan gelas itu terjatuh dan pecah menjadi beberapa bagian.
"Astaghfirullahaladzim," ucap Nyak Saroh lalu segera membereskan pecahan gelas itu.
"Ada apa, Nyak?" tanya Bayu yang dengan sigap segera berlari menghampiri Nyak Saroh ke dapur.
"Ya Allah, Nyak. Kenapa bisa begini?" Niki langsung membantu Nyak Saroh membersihkan pecahan gelas itu.
"Ah." Jari tangan Nyak Saroh tertusuk pecahan gelas itu hingga berdarah.
"Astaghfirullah, Nyak. Udah Nyak, biar Niki aja yang beresin ini," ucap Niki.
Bayu langsung mengarahkan Nyak Saroh untuk duduk di kursi lalu dia segera mengambil lap untuk mengelap darah yang keluar dari jari Nyak Saroh. Dengan telaten, Bayu membersihkan luka itu dan terakhir dia meneteskan obat luka agar luka itu cepat mengering.
"Ya Allah, kenapa perasaan aye jadi gak enak gini? Semoga tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada keluarga aye," batin Nyak Saroh.
"Nyak, kenapa? Gak enak badan?" tanya Niki sembari menuang air putih ke dalam gelas lalu memberikannya pada Nyak Saroh.
"Nggak. Nyak baik-baik saja tadi Nyak kaget karena ada cicak yang tiba-tiba jatuh ke tangan Nyak," ucap Nyak Saroh yang tak ingin membuat mereka khawatir padanya.
********
Di kediaman Darren dan keluarga.
"Sayang, aku, kok kayak gak enak hati gini ya?" ucap Darren yang saat itu baru selesai mandi.
"Gak enak gimana?" tanya Mei yang sedang mengeringkan rambutnya.
"Gak tahu. Kayak ada yang mengganjal tapi aku sendiri tidak tahu itu apa," jelas Darren.
__ADS_1
"Mungkin itu hanya perasaan kamu saja. Oh ya, itu pakaianmu, aye udah menyiapkannya tadi," jelas Mei.
"Terima kasih, sayang. Maaf ya, semalam beneran tiga kali." Darren menatap Mei dengan tawa kecilnya.
"Ngapain minta maaf. Udah terjadi juga," ucap Mei sembari memukul Darren dengan handuk kecil bekas penutup kepalanya.
"Maaf, Sayang. Jangan marah," ucap Darren sembari meraih pakaiannya.
"Siapa yang marah? My Husband," sahut Mei lalu memeluk Darren dari belakang.
Darren menghentikan pergerakan tangannya, dia meraih tangan Mei yang melingkar di perutnya lalu menariknya agar Mei berpindah ke depan dan memeluknya dari depan. Dia tersenyum lalu membelai pipi Mei dengan lembut.
"Tumben meluk tanpa diminta. Biasanya harus aku yang duluan," ucap Darren.
"Aye pengen berbakti pada suami. Emang gak boleh?"
"Boleh banget, aku heran aja gitu," ucap Darren.
Setelah beberapa menit berbincang akhirnya mereka berdua sudah selesai dengan semua urusan pribadinya. Mereka langsung ke luar dan langsung berjalan menuju ruang makan karena mereka akan sarapan bersama.
Sepuluh menit mereka menghabiskan waktu untuk sarapan, akhirnya mereka selesai dan kini, mereka mulai meninggalkan meja makan untuk segera melakukan aktivitas masing-masing. Pak Wiliam dan Bella sudah lebih dahulu meninggalkan rumah dan disusul oleh Darren yang juga mulai pergi.
"Nene, Eyang, aku pamit sekolah dulu ya," ucap Gaby pada Bu Aryanti dan Bu Sarah.
"Iya, Sayang. Belajar yang pintar ya dan hati-hati saat di sekolah," ucap Bu Aryanti.
"Siap, Nek," sahut Gaby.
"Ma, Nek, Mei antar Gaby dulu ya dan seperti biasa setelah itu aye langsung ke pasar," ucap Mei.
"Hati-hati di jalan ya dan ingat kalau ada apa-apa telpon polisi jangan membahayakan diri sendiri," ucap Bu Sarah.
"Iya, Mei. Darren itu sayangnya sama kamu berlebihan banget, jangan bikin dia jantungan terus saat melihat luka di wajah kamu," tambah Bu Aryanti.
"Iya, Ma. Maaf sudah membuat kalian khawatir," ucap Mei lalu segera menyalami Bu Aryanti dan Bu Sarah secara bergantian.
__ADS_1
Setelah itu, Mei langsung menggandeng tangan Gaby dan mulai melakukan ke luar dari rumah. Mei memakai helm pada Gaby lalu setelah itu menyalakan mesin motornya.
"Sudah siap?" tanya Mei setelah Gaby naik ke atas motornya.
"Siap," sahut Gaby.
Mei pun mulai melaju menuju sekolah Gaby. Tak sampai sepuluh menit, mereka pun tiba di sekolah. Gaby langsung turun dari motor dan langsung masuk ke sekolahnya sedangkan Mei melanjutkan perjalanannya menuju tempat kerja.
Setelah setengah perjalanan, Mei melihat seseorang yang tergeletak di tengah jalan. Dia pun memelankan laju motornya dan akhirnya dia menepi tepat di samping orang itu. Mei memerhatikan sekeliling, di sana sangat sepi tapi orang itu tergeletak dengan bercak darah di sekitarnya. Dia berpikir mungkin perempuan itu korban tabrak lari.
Tanpa pikir panjang. Mei turun dari motornya dan langsung menghampiri perempuan itu. Dia berjongkok di samping orang itu lalu mencoba membangunkan orang itu.
"Mbak, Mbak!" ucap Mei sembari menggoyangkan tangan perempuan itu.
Riska membuka matanya lalu mencengkeram tangan Mei dengan kuat. Dia mencoba menangkap Mei seorang diri karena teman-temannya tak juga keluar dari tempat persembunyiannya.
Riska. Ya, Riska lah yang terbaring di sana, dia sengaja menjadi umpan agar Mei menghentikan laju kendaraannya dan masuk dalam perangkap yang sudah mereka rencanakan dari awal.
Di sana, terjadi perkelahian antara Riska dan Mei. Tak sampai lima menit, Riska sudah tumbang dan beberapa rekan Riska pun mulai keluar dari tempat persembunyiannya. Mereka langsung menyerang Mei dan berusaha melumpuhkan targetnya itu.
"Ternyata benar perempuan itu bukan perempuan biasa. Kita bergerak sekarang!" Abeth dan Erlan pun langsung keluar dari tempat persembunyiannya karena anak-anak buahnya terlihat kewalahan menghadapi Mei.
Sementara itu, Riska yang tidak terluka begitu parah, langsung bangkit lagi dan mulai menyerang Mei. Perkelahian satu lawan tujuh itu terjadi selama hampir lima belas menit.
Karena Mei tidak kunjung dapat dikalahkan, salah satu dari mereka mengeluarkan pisau kecil lalu menyerang Mei dan berhasil melukai preman pasar itu di bagian pundak. Mei mudur beberapa langkah sembari memegangi lukanya yang mengeluarkan darah. Sakit yang dirasakannya begitu terasa saat dirinya menggerakkan tubuhnya demi membela diri dari serangan orang-orang yang tidak dia kenal itu.
"Gila, Lu. Kita diperintahkan untuk tidak melukainya!" seru Riska.
"Gue terpaksa. Kalau gak gini, kita yang mati di tangan dia," ucap laki-laki rekan Riska itu.
Sementara itu, Mei mulai kelelahan dan sudah kehabisan tenaganya. Abeth membiusnya hingga akhirnya Mei tak sadarkan diri. Setelah itu mereka membawa Mei ke dalam mobilnya.
"Gimana nih? perempuan ini terluka," ucap Erlan.
"Gimana lagi, kita bawa dia ke rumah sakit dulu setelah itu bawa menghadap Bang Hengky," ucap Abeth.
__ADS_1
"Gimana kalau Bang Hengky marah?" tanya anak buah Abeth.
Bersambung