Duda Bucin VS Preman Cantik

Duda Bucin VS Preman Cantik
bab 83


__ADS_3

Di sebuah tempat.


Anak buah Satya sudah menemukan di mana Mei berada, mereka yang sudah terlatih tidak begitu kesulitan untuk mencari seseorang. Dari hasil rekaman CCTV yang terpasang di setiap jalan dan pertokoan maupun rumah-rumah warga.


Kini Satya sedang dalam perjalanan menuju rumah Risya. Anak buahnya memang sangat andal, tak sia-sia dia membayar mereka dengan harga yang tidak sedikit.


Bersamaan dengan Satya. Mobil Darren melaju tepat di belakang mobil Satya, mereka satu arah, satu tujuan tapi tak saling mengenal. Namun keduanya memiliki perasaan yang sama, yaitu khawatir terhadap Mei.


Setibanya di depan pintu rumah Risya.


Baik Darren mau pun Satya langsung menghentikan mobilnya lalu turun dari mobil masing-masing. Dari sana mereka melihat polisi sedang berusaha membuka borgol yang terpasang di tangan Mei. Pintu yang terbuka lebar membuat mereka dapat melihat Mei dan orang-orang yang ada di dalam rumah itu dengan jelas.


Darren tersenyum lega. Polisi itu bertindak sangat cepat bahkan sebelum dirinya tiba di rumah itu, para polisi sudah berada di sana. Darren menatap Mei yang saat itu masih berdiri di depan polisi itu dan akhirnya tangannya dapat terlepas dari borgol itu berkat bantuan polisi.


Darren berjalan dengan langkah panjangnya menuju rumah itu. Di depannya ada Satya yang juga tengah berjalan menuju rumah tersebut. Setelah tangannya terlepas dari borgol itu, Mei melihat suaminya tengah berjalan ke arahnya. Dia pun tersenyum lebar, dia berlari pelan untuk segera memeluk suaminya.


Satya yang sedang berjalan ke arah Mei pun mengira Mei sedang tersenyum ke arahnya dan berlari menghampirinya. Dia membalas senyum Mei dengan penuh kebahagiaan. Namun senyumnya seketika menghilang saat ternyata Mei melewatinya begitu saja.


Mei langsung memeluk Darren dengan erat saat dirinya tiba di depan suami terciptanya itu. Mei menangis bahagia akhirnya dia bisa bertemu dengan Darren lagi. Sementara itu, di tempat Satya berdiri, dia harus menelan kekecewaan karena ternyata Mei bukan tersenyum untuknya dan bukan berlari padanya.


"Kamu tidak apa-apa. Di mana penculik itu?" tanya Darren sembari terus memeluk Mei, sesekali dia mencium pucuk kepala Mei.


Mei hanya diam dalam pelukan suaminya. Dia terus menangis di sana, dia tak perduli banyak orang yang melihat mereka, saat ini yang dia rasakan adalah kebahagiaan yang begitu besar.


Setelah beberapa saat berpelukan. Mei melerai pelukannya lalu mengajak Darren menemui orang yang menolongnya. Perlahan Mei berjalan ke arah rumah itu, telapak kakinya yang terluka mulai terasa sakit hingga dirinya harus berjalan perlahan.


Melihat istrinya yang kesakitan, Darren pun langsung memangku tubuh Mei ala bridal style. Dia membawa istrinya itu menghampiri polisi dan pemilik rumah yang sedang berbicara di dalam sana. Sementara itu, Satya memilih pergi tanpa menanyakan siapa laki-laki yang dipeluk oleh Mei tadi, dia tak ingin membuat suasana menjadi kacau hingga akhir dirinya memilih pergi.

__ADS_1


Di dalam rumah itu. Polisi sudah selesai melakukan penyelidikan dan sudah memberikan beberapa pertanyaan pada Risya dan keluarganya. Mereka pun segera kembali dan menyudahi pencarian malam ini. Mereka akan melanjutkan besok tetapi bukan mencari Mei lagi, tapi penjahat yang sudah menculik Mei.


Sementara itu, Darren dan Mei masih di rumah itu. Darren ingin berterima kasih pada orang yang sudah menyelamatkan istrinya itu.


"Kaki kamu terluka, yang mana lagi yang sakit, apa ada luka lainnya? Kamu sudah makan atau belum, apa kamu haus? Katakan padaku," ucap Darren setelah polisi itu pergi dari rumah itu.


"Aku sudah makan. Tadi ibu ini sudah menyuapiku. Aku kelaparan sejak pagi," jelas Mei.


"Terima kasih, Bu, Pak. Kalian sudah menolong istri saya," ucap Darren.


**********


Di tempat lain.


Malam ini, di sebuah taman.


Satya duduk di kursi taman itu dengan pikirannya yang melayang memikirkan tentang Mei. Dia ingin tahu siapa laki-laki yang sangat menyayangi Mei itu.


"Pak. Sudah malam, baiknya kita cari hotel untuk beristirahat. Saya sudah memerintahkan bodyguard lain untuk mencari tempat penginapan dan besok pagi sebelum adzan subuh, mereka akan langsung pulang tanpa menunggu kita," jelas Helmy.


"Kamu pergi saja sama mereka. Tinggalkan mobil di sana," ucap Satya yang pikirannya sedang kacau


"Tapi, Pak. Mei sudah ditemukan, apa lagi yang mengganggu pikiran, Anda. Istirahatlah, Pak. Seharian ini, Anda tidak beristirahat," ucap Helmy lagi.


"Tinggalkan saya sendiri di sini, Hel. Saya ingin sendiri dulu," ucap Satya tanpa menatap Helmy sedikit pun.


Helmy yang tak ingin memancing kemarahan Satya. Dia pun langsung pergi dari sana, tapi dia tidak benar-benar meninggalkan bosnya sendirian. Dia menunggu sang bos di dalam mobilnya.

__ADS_1


********


Di rumah Risya.


Darren mengeluarkan cek kosong lalu menulis nominal sebanyak seratus juta dan langsung dia tandatangani. Sesuai janjinya, siapa pun yang memberitahukan keberadaan istrinya, maka akan mendapatkan seratus juta darinya. Setelah selesai dengan urusan cek itu, dia memberikan cek itu pada ibunya Risya.


"Bu, terima ini. Ini ada sedikit uang sebagai tanda terima kasih saya dan istri saya pada keluarga ibu," ucap Darren sembari memberikan cek itu.


Ibunda Risya menerima cek itu dari Darren lalu mengembalikannya tanpa melihat betapa nominal dari cek yang diberikan oleh Darren itu. "Ibu ikhlas. Bawa lagi cek ini," ucap ibunda Risya.


"Iya, Mas. Kami ikhlas," sambung Risya.


"Kami menolong, Mbak ini ikhlas karena Allah, bukan karena uang atau pun mengharapkan imbalan. Bawa saja uang ini!" jelas ayahnya Risya.


"Iya, Mas. Tidak perlu memberikan kami sesuatu apa pun," tambah Risya.


"Saya sudah berjanji pada diri saya sendiri dan Tuhan saya, bahwa siapa pun yang menolong istri saya, saya akan memberikan uang senilai yang saya tulis ini," ucap Darren.


"Saya minta agar, Bapak sekeluarga untuk menerima ini," jelas Darren.


"Kalau gitu, kami akan menerimanya. Terima kasih." Ibunda Risya mengambil cek yang tergeletak terbalik di atas meja itu lalu melihat berapa jumlahnya. Dia langsung terkejut saat melihat nomor yang ditulis Darren dalam cek itu.


"Allahuakbar! Nak, apa tidak kebanyakan?" tanya ibunda Risya.


"Tidak. Istri saya lebih berharga dibanding uang senilai seratus juta itu," ucap Darren.


Seketika ayahnya Risya dan Risya juga terkejut saat mendengar perkataan Darren. Risya menatap Darren dan Mei dengan tatapan tidak percaya. Jangankan untuk memiliki uang sebanyak itu, bermimpi mempunyainya saja, dirinya tidak pernah.

__ADS_1


Mei menatap suaminya. Dia tidak tahu bahwa sebanyak itu yang dia keluarkan demi dirinya, sebuah senyuman tipis terukir di bibirnya lalu dia menyandarkan kepalanya di pundak sang suami. Betapa dia bersyukur memiliki susmi seperti Darren.


Bersambung


__ADS_2