Duda Bucin VS Preman Cantik

Duda Bucin VS Preman Cantik
bab 94


__ADS_3

Sore hari, di kediaman Darren dan Mei.


"Hei, Sayang," ucap Darren saat Gaby keluar dari kamarnya.


Gadis kecil itu berjalan menghampiri sang ayah. Dia duduk di pangkuan sang ayah dan bergelayut manja di sana.


"Pa," ucap Gaby sembari merapikan rambut sang ayah.


"Apa. Ada apa hm?" sahut Darren dengan tangannya yang melingkar di punggung sang anak.


"Aku mau adik. Masa udah gede gak punya adik, teman-temanku pada pamer adik," ucap Gaby dengan nada manja.


Mei yang baru tiba dari dapur, hanya mengulas senyum di bibirnya. Dia meletakkan teh hangat milik sang suami lalu duduk di sampingnya. Dia mengusap kepala Gaby dengan lembut.


"Kamu mau adik?" tanya Mei pada Gaby.


"Iya, Ma. Boleh 'kan aku minta adik?" ucap Gaby.


"Boleh, dong," sahut Mei dengan senyuman lebar di bibirnya.


"Kalau gitu cepat buat dede bayinya! Papa harus rajin bantuin mama bikin dede bayinya. Pokoknya mama dan papa harus kompak biar dede bayinya cepat jadi," ucap Gaby yang sukses membuat Darren dan Mei terkejut.


Bagaimana tidak terkejut. Anak sekecil Gaby menyuruh orang tuanya mencetak seorang bayi bahkan dia meminta sang ayah untuk membantu ibunya dalam proses pembuatan seorang bayi. Dalam hatinya, Mei bertanya dari mana Gaby mengetahui hal itu sedangkan di usianya saat ini belum cukup untuk mengerti ke arah sana.


Darren dan Mei saling menatap. Mereka berdua sama-sama terkejut dan sama-sama tak tahu harus bilang apa. Hening ... tak ada yang membuka suara diantara mereka. Darren sendiri tidak tahu mengapa putrinya mengetahui hal seperti itu.


"Papa, Mama mau gak bikin dede bayi untuk aku?" tanya Gaby karena kedua orang tuanya terdiam dan tak menanggapi perkataannya.


"Emm ... Sayang, memang kamu tahu dari mana kalau bikin dede bayi itu harus mama sama papa?" tanya Mei dengan suara pelan.


"Temanku bilang, mamanya suka bikin dede bayi dari adonan kue, terus papanya bantuin dan lama-lama tumbuh deh dede bayi dalam perut mamanya karena katanya kue dede bayi itu dimakan sama mamanya. Masa, Papa sama Mama gak tahu cara bikin dede bayi. Pantas aku gak punya adik," jelas Gaby.


Seketika Darren dan Mei tertawa, mereka lega karena apa yang mereka pikirkan salah, bahkan salah besar. Awalnya mereka takut, takut ada seseorang yang jahat yang memberitahu Gaby tentang hubungan orang dewasa terutama hubungan antara malam antara suami dan istri.


"Tadi pada diam, sekarang malah tertawa. Mama sama Papa kenapa, sih sebenarnya?" tanya gadis kecil itu yang keheranan dengan sikap orang tuanya.

__ADS_1


"Kalau gitu kita bikin dede bayi sekarang. Kita kerja sama biar dede bayinya cepat tumbuh," ucap Mei pada Gaby.


"Serius, Ma?" tanya Gaby semangat.


"Serius, dong," ucap Mei pada Gaby.


"Papa mau bantu gak?" tanya Mei pada Darren.


"Tentu saja. Memang, Mama bisa bikin kue?" Darren nampak meragukan kemampuan sang istri untuk membuat kue.


"Akan diusahakan. Kita bisa liat tutorial cara bikin kue di YouTube," sahut Mei. Mereka pun segera bergegas ke dapur.


*******


Di kediaman orang tua Mei.


Niki sedang duduk di depan rumah sembari memerhatikan Babeh Rojak yang sedang membersihkan angkotnya dari debu-debu yang menempel setelah seharian mobil itu dipakai narik olehnya. Bayu keluar dari rumah dan langsung menghampiri Babeh Rojak. Dia berniat untuk membantu Babeh Rojak untuk membersihkan mobilnya.


"Biar Bayu yang melakukannya, Beh," ucap Bayu.


"Assalamu'alaikum!" seru seseorang.


Saat Bayu dan Babeh Rojak mengobrol. Seseorang datang dan langsung mengucapkan salam pada mereka. Babeh Rojak dan Bayu menoleh ke arah suara lalu mereka menjawab salam darinya.


"Waalaikumsalam," ucap mereka secara berbarengan.


Niki yang sedari tadi hanya duduk di kursi sembari menikmati camilan, dia beranjak dari duduknya dan langsung menghampiri pemuda itu. "Gilang," ucap Niki sembari berjalan mendekati Gilang.


"Siapa dia?" tanya Babeh Rojak pada Bayu.


"Dia, teman sekelas Niki. Namanya Gilang," jelas Bayu.


"Pacar atau teman?" tanya Babeh Rojak, memastikan.


"Bayu gak tahu, Beh," sahut Bayu yang memang tidak tahu apa hubungan mereka sebenarnya.

__ADS_1


Gilang berjalan menghampiri Babeh Rojak lalu mencium punggung tangannya. "Om, saya temannya Niki," ucapnya memperkenalkan diri.


"Teman atau teman? Kalian masih pada kecil. Jangan main cinta-cintaan," ucap Babeh Rojak yang takut mereka salah mengartikan kata pacaran yang akhirnya menghancurkan hidup mereka yang masih panjang.


"Nggak, Om. Kita cuma teman. Saya datang untuk mengantarkan buku milik Niki yang saya pinjam dan lupa mengembalikan," jelas Gilang.


"Oh, ya udah duduk deh di sana! Ngobrol dah berdua sama anak Babeh. Awas aja jangan macam-macam," ucap Babeh Rojak lagi.


Gilang tersenyum lalu mengangguk pelan. Dia langsung berjalan kembali menghampiri Niki. Bayu segera bergegas menghampiri Gilang dan Niki. Hidup bersama dengan Niki sejak mereka kecil membuat Bayu selalu menginginkan yang terbaik untuk Niki.


*******


Di kediaman Satya.


Satya duduk di kursi di pinggir kolam renang yang terdapat di samping rumahnya. Dia duduk, melamun sambil senyum-senyum sendiri, dia membayangkan masa dimana dirinya bersama Mei. Hanya yang indah-indah saja yang dia bayangkan, dirinya tak pernah memikirkan akibat dari perbuatannya yang kini sedang dijalankan.


"Duh, anak mama lagi jatuh cinta kayaknya. Sampai senyum-senyum sendiri gitu," ucap Bu Widya yang sengaja datang untuk berbicara dengan sang putra.


Satya tersadar dari khayalannya yang menyesatkan. Dia menoleh ke arah sang ibu lalu tersenyum sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Mama. Sejak kapan, Mama di sini?" tanyanya.


"Sejak beberapa menit lalu. Siapa yang sudah membuat anak Mama sebahagia ini hm?" tanya Bu Widya dengan senyuman menggoda sang putra.


"Apaan, sih Ma. Aku gak lagi jatuh cinta, dugaan, Mam sama," sahut Satya yang tak ingin sang ibu tahu bahwa Mei yang sudah membuatnya jatuh cinta.


"Oh. Yakin nih gak mau jujur sama, mama?" Bu Widya masih berusaha mengorek isi hati sang putra.


"Ma. Aku selalu jujur sama, Mama lagian aku udah dewasa, mama jangan terlalu kepo, ah," ucap Satya lagi.


"Itu tahu udah dewasa. Kenapa belum kasih mama menantu?" ucap Bu Widya.


Satya terdiam. Rupanya dirinya salah berbicara hingga sang ibu membawanya dalam pembahasan yang selalu dia hindustan. Satya memang selalu menghindar saat sang ibu menanyakan tentang menantu, dirinya tidak punya calon untuk dikenalkan pada sang ibu dan lagi saat ini dirinya sedang dalam misi. Misi merebut hati Mei dari Darren.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2