
"Aaakhh! Panas!" teriak Cleona sambil mengibaskan tangan dan meniup-niup dadanya. Bukannya membantu Cleona yang melepuh kulitnya, para pengunjung justru menertawakan Cleona. Mereka menonton dan menertawakan Cleona, seakan-akan Cleona adalah seorang badut yang tengah beraksi.
Cleona berusaha seorang diri, mengambil banyak tissue di atas meja, kemudian berusaha mengeringkan tumpahan kopi panas yang membuatnya merasakan perih.
Seorang pria yang sebelumnya membuat Cleona terjatuh tampak berdiri, pria itu mendekati Cleona. Kemudian membisikkan sesuatu di telinga Cleona, Cleona yang marah serta takut reflek mendorong pria kurang ajar itu sekuat tenaga, hingga terjatuh dan menimpa teman-temannya yang lain.
Hidangan satu meja pun berjatuhan dan menimpa mereka. Beberapa pria itu termasuk yang membuat Cleona terjatuh juga ikut menggelepar kepanasan. Sementara Cleona langsung mengambil langkah pergi karena takut dilukai lagi. Namun, langkah kakinya justru dihentikan oleh manajer restoran yang meneriaki namanya.
Cleona menghela napas, kemudian membalikkan badan dan menundukkan wajahnya. Hari ini ia sudah melakukan masalah besar, manajer restoran pasti akan memarahinya dan meminta ganti rugi.
Cleona tak kuasa menahan tangis saat memikirkannya, ia datang bekerja untuk mendapatkan uang dan makan. Tapi, yang terjadi justru sebaliknya. Makanan-makanan mahal yang sudah berhamburan. Bila harus mengganti rugi, gajinya setahun pun tak akan cukup untuk menggantinya.
"Kenapa selalu kamu karyawan yang membuat masalah!?" bentaknya membuat Cleona kaget dan takut, air matanya semakin mengalir deras.
"Kita tidak mau tau, kalian harus mengganti rugi atas luka yang kami terima. Kalau tidak, kami akan menuntut restoran ini!" tegas pria yang membuat Cleona terjatuh. Pria itu mendapatkan luka bakar di lehernya. Dan empat dari sahabatnya juga mendapat luka akibat dijatuhi beling.
Satpam restoran bergegas membawa korban ke rumah sakit atas perintah sang manajer. Tentu saja sang manajer memilih bertanggung jawab daripada kehilangan nama baik restorannya.
__ADS_1
"Ikut saya!" Cleona mengekor di belakang manajernya hingga tiba di ruangan. Cleona menyeka air mata, lalu menatap sang manajer yang tengah menghitung biaya kerugian.
"Ini adalah jumlah kerugian yang harus kau bayar, ini sudah termasuk biaya rumah sakit untuk lima orang korban yang terluka karena ulahmu," Cleoan menerima selembar kertas berisi dua digit yaitu sebesar lima puluh juta rupiah. Cleona membulatkan matanya sempurna, seluruh tubuhnya ikut bergetar, sedangkan dadanya terasa sesak dan air mata pun tak kuasa Cleona tahan.
"Pak, saya tidak punya uang sebanyak ini. Apakah bisa saya membayarnya dengan bekerja di restoran ini?" tanya Cleoan dengan air mata yang mengalir deras dari kedua sudut matanya.
"Ck! Bekerja di restoran? Kau dipecat! Restoran ini tidak butuh karyawan tidak becus sepertimu! Dan kerugian harus tetap dibayar!" bentak sang manajer membuat hidup Cleona semakin tragis.
Uang sejumlah lima puluh juta rupiah, Cleona bahkan tak bisa membayangkan seberapa banyaknya uang tersebut. Entah dengan cara apa ia harus membayarnya.
"Apakah ada cara lain, Pak? Saya mohon berikan sedikit saja keringanan," Cleona memohon, ia benar-benar tak lagi punya harga diri.
"Satpam!" panggilnya.
"Iya, Tuan."
"Seret wanita ini keluar!" titahnya.
__ADS_1
"Tidak perlu, Pak. Saya akan pergi sendiri," Cleona menyerah dan pada akhirnya langsung pergi setelah mengganti pakaian.
Hari mulai gelap, Cleona berjalan gontai di pinggir jalan raya. Air matanya terus mengalir, Cleona memeluk erat perutnya karena merasa sangat kelaparan. Hari ini Cleona bekerja dan berharap mendapatkan uang untuk membeli makanan.
Namun, ia justru mendapat hutang dan bahkan kehilangan satu-satunya pekerjaan yang selama ini ia andalkan untuk membayar sewa kontrakan juga SPP sekolah.
Langkah kaki Cleona berhenti di sebuah warung pinggir jalan. Dengan terpaksa Cleona menggunakan uang yang wali kelasnya berikan untuk membeli sebungkus mie instan.
"Maaf, Bu. Uangnya Cleoan pinjam dulu," tutur Cleoan sambil membawa sebungkus mie instan yang ia beli barusan. Sampai di kontrakan, Cleona langsung menyeduh mie instan dan langsung melahapnya ditemani air mata yang mengalir.
Setelah perutnya tenang, Cleoan segera bangkit menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Cleona melucuti pakaian dengan tatapan kosong. Saat menyiram tubuhnya dengan air, saat itu pula Cleona baru merasakan perih pada kedua gundukannya.
"Aw! Perih sekali Tuhan."
.
.
__ADS_1
.