Duren Bangsawan

Duren Bangsawan
Bab 12 ~ Mencari Pekerjaan


__ADS_3

"Astaga!" wali kelas Cleona sontak kaget melihat bagaimana Cleona disiksa hingga tak berdaya.


"Bagaimana keadaanmu sekarang, Nak?" tanyanya khawatir, video langsung ia hentikan karena tak sanggup melihatnya.


"Sekarang sudah lebih baik, Bu."


"Astaga, Nak. Bagaimana bisa kamu melewatinya," rasa empati wali kelasnya begitu tinggi terhadap Cleona.


"Dengan adanya video itu, apakah Cleona bisa menuntut tanggung jawab dari Kak Tisya dan kedua temannya?" tanya Cleona to the point. Wali kelasnya pun terdiam. Sesungguhnya ia sangat ingin membantu Cleona. Namun, ia tak percaya pada hukum di negerinya.


"Orangtua Tisya adalah penanam saham paling tinggi di sekolah kita. Berurusan dengannya, artinya kita harus siap berurusan dengan sekolah. Kamu tahu kedudukannya? Kamu tidak akan mendapatkan keadilan apa pun bila melaporkan masalah ini ke pihak sekolah, karena mereka tak mungkin mau kehilangan penyokongnya. Mereka pasti akan melakukan segala cara untuk menutupinya," terang sang wali kelas.


Ia begitu paham bagaimana jalannya peraturan tak kasat mata di sekolah elit itu. Dan kejadian seperti yang Cleona alami bukanlah yang pertama kali. Sang wali kelas tak ingin Cleona menjadi korban berikutnya.


Sampai di pembahasan itu, Cleona mengerti bahwa sekuat apa pun bukti yang ia punya, tak akan ada pengaruhnya sama sekali.


"Kalau melaporkannya ke polisi bagaimana, guru?" tanya Cleona. Ia masih berharap ada keadilan untuknya. Tisya hanya ingin mendapatkan ketenaran dari lomba itu. Berbeda dengan Cleona yang sangat membutuhkan hadiah dari lomba lari tersebut.


"Hukum adalah uang, Nak." Cleona terdiam sambil menundukan wajahnya dalam. Ia berusaha membendung air mata agar tak lolos begitu saja.


"Dengan bukti yang kuat ini, ada kemungkinan Tisya dan dua temannya akan mendapatkan hukuman. Tapi, ibu khawatir kamu akan kehilangan nyawa. Keluarga mereka bukan sembarang orang. Bukannya ibu tidak mau membantumu. Tapi, Ibu hanya mengkhawatirkanmu karena kita tinggal di negera yang kejam, mereka tidak peduli pada orang kecil seperti kita." Cleona hanya diam, dia mendengarkan dengan baik.


"Terima kasih pencerahannya, Buk. Cleona tak akan memperpanjang masalah ini," berat Cleona mengucapkan keputusannya. Tapi, Cleona akan tetap menyimpan video tersebut.


"Tuhan selalu bersamamu, Nak. Dia tidak akan menutup mata melihatmu tersiksa. Ibu yakin kamu kuat, kamu bisa."


***


Pulang dari rumah wali kelasnya, Cleona berjalan gontai menyusuri kota besar yang dipadati kendaraan. Cleona memutuskan untuk mencari pekerjaan pengganti agar ia dapat terus melanjutkan hidupnya.

__ADS_1


Entah sudah berapa restoran dan cafe yang Cleona hampiri. Namun, tak satu pun yang mau menerimanya sebagai karyawan paruh waktu.


Cleona istirahat sebentar di salah satu kursi karena merasa sangat lelah dan juga lapar. Sebelumnya Cleona sudah membeli sebuah roti, Cleona melahapnya dengan cepat. Tidak kenyang memang, tapi setidaknya ia tak akan kelaparan lagi.


Cleona menghela napas, bangkit dari duduknya dan kembali melanjutkan perjalanan untuk mecari perkejaan. Sangat sulit mendapatkan pekerjaan, karena hal itulah Cleona mampu bertahan di restoran sebelumnya. Meski pun ia selalu mendapatkan perlakuan tak baik dari atasan maupun karyawan lainnya.


"Berikanlah aku pekerjaan, Tuhan. Orang-orang mengatakan bahwa kau akan memberi apa yang dibutuhkan bukan yang diinginkan. Mendapatkan pekerjaan adalah kebutuhanku saat ini, Tuhan. Aku mohon tolonglah aku," Cleona berdoa dalam hati.


Yang terpenting baginya saat ini adalah mendapatkan pekerjaan agar ia bisa membayar kontrakan, membayar spp sekolah, melanjutkan hidupnya, dan juga untuk membayar hutangnya. Ia benar-benar membutuhkan pekerjaan.


Sesulit apa pun hidupnya, Cleona tetap semangat untuk berjuang. Ia masih ingin tetap hidup seberat apa pun ujian yang Tuhan berikan padanya. Karena itulah Cleona memilih tidak memperpanjang masalahnya dengan Tisya.


Cleona bisa menghancurkan masa depan Tisya, sedangkan Tisya tak hanya bisa menghancurkan masa depan Cleona. Tapi, ia juga bisa merenggut nyawa Cleona sekali pun.


"Hei! Kalau jalan jangan lihat ke bawah!" bentak seseorang yang tak sengaja Cleona tabrak.


"Maaf, Kak. Maaf saya tidak sengaja," mohon Cleona tapi wanita berpakaian minim yang ia tabrak langsung pergi begitu saja usai memarahinya.


Langkah kaki membawa Cleona masuk ke dalamnya. Cleona terperangah melihat betapa mewahnya tempat hiburan itu. Tapi, tiba-tiba kepala Cleona terasa pusing saat mencium aroma alkohol yang sangat menyengat.


Karena masih siang bolong, tempat itu terlihat sepi. Hanya ada beberapa pria dan wanita dewasa yang tengah minum sambil mengobrol ringan. Cleona menghentikan langkahnya karena bingung harus ke mana lagi.


Seorang pria berpakaian formal mendekati Cleona lalu bertanya, "Ada perlu apa?" sebenarnya Cleona tak suka karena tatapan mata pria yang menghampirinya, terus tertuju pada dua gundukannya yang paling menonjol.


"Apa di tempat ini masih menerima karyawan, Tuan?" tanya Cleona mencoba peruntungan.


"Kamu ingin bekerja di tempat ini? Kamu serius?"


"Saya serius, Tuan." jawab Cleona yakin. Pria itu menatap Cleona dari atas sampai bawah.

__ADS_1


"Mari ikut saya," ajaknya dan Cleona pun mengekor hingga tiba di sebuah ruangan. Pintu ruangan dibuka, sang pria mempersilahkan Cleona masuk. Meski ragu, tapi Cleona tetap masuk ke dalam ruangan. Ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan.


"Siapa dia?" tanya seorang pria paruh baya yang duduk di kursi singasananya.


"Nona ini ingin melamar sebagai karyawan, Tuan." lapornya.


"Kau boleh pergi."


"Baik, Tuan." pria itu pun pergi meninggalkan Cleona.


"Berapa usiamu?"


Cleona menelan saliva lalu menjawab, "Usia saya enam belas tahun, Tuan."


"Apa kau tahu apa saja persyaratan untuk menjadi karyawan di klub malam ini?" Cleona menggelengkan kepalanya.


"Syarat untuk menjadi karyawan di klub malam ini hanya ada tiga. Pertama, kami tidak menerima karyawan di bawah umur yaitu lima belas tahun ke bawah. Itu artinya kau lulus syarat pertama."


"Syarat kedua dan ketiganya apa, Tuan?" tanya Cleona tak sabaran. Apa pun itu, asalkan tidak menjual diri, Cleona pasti akan memenuhinya.


"Yang kedua, harus sopan dan ramah terhadap pelanggan."


"Saya pernah bekerja di sebuah restoran, Tuan. Soal ramah dan sopan saya pasti bisa diandalkan," tegas Cleona meyakinkan.


"Lalu, apa persyaratan yang ketiga, Tuna?" lanjutnya lagi.


Sebelum menjawab, pria paruh baya itu tersenyum miring, "Syarat yang ketiga adalah yang paling penting, syaratnya adalah ....


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2