Duren Bangsawan

Duren Bangsawan
Bab 40 ~ Pulang


__ADS_3

Beberapa hari dirawat intensif di rumah sakit, kondisi Cleona sudah mulai membaik. Ia sudah bisa pergi ke kamar mandi seorang diri dan bahkan sudah kuat menggendong baby d.


Meski terkadang rasa sakit sesekali datang, tapi Cleona tetap bahagia karena dapat berkumpul lagi dengan bayinya.


Pulang dari rumah sakit nanti, ia akan membuat hidupnya dan juga bayinya bahagia dengan uangnya sebesar dua milyar yang ia punya.


Dan hari itu adalah hari terakhir kondisi Cleona diperiksa. Dokter mengatakan ia sudah sembuh dan lukanya juga sudah kering, Cleona sudah diperbolehkan pulang.


Tapi, ia masih harus mengonsumsi beberapa obat. Tak lupa Cleona meminta dokter untuk memastikan obat yang ia konsumsi aman selagi ia menyusui bayinya.


Di dalam mobil milik Castin, Cleona duduk di samping Castin. Ia duduk sambil menggendong baby d yang tengah terlelap. Beberapa menit kemudian, baby d tiba-tiba terbangun lalu berceloteh tak jelas dan hanya Cleona yang mengerti.


"Apa yang dia katakan?" tanya Castin.


"Dia ingin susu, Tuan."


"Oh, susui saja," jawab Castin tak mengalihkan pandangan dari Cleona. Sementara Asisten Helder yang mengemudi langsung mengamankan kaca spion.


"Tuan tidak boleh melihat."


"Kenapa tidak boleh?" raut wajah Cleona langsung berubah.


"Jadi, Tuan ingin melihat?"


"Iya. Eh ... Maksudku tidak," ralat Castin belum juga mengalihkan pandangannya.


"Kalau begitu tuan jangan melihat," tekan Cleona dan Castin pun langsung mengalihkan pandangan ke jendela mobil.


Melihat itu, Cleona pun mulai mengeluarkan pepaya jumbonya, baby d yang kelaparan segera melahapnya dengan rakus.


"Aw!"


"Kenapa?" tanya Castin reflek langsung menoleh, dan lagi-lagi pepaya menjuntai itu membuat tubuhnya membatu dengan senjata air yang berdiri menegang.


"Tuan!" teriak Cleona langsung menutup dadanya dengan telapak tangan.

__ADS_1


"Lagian kamu kenapa teriak? Kirain terjadi sesuatu, tenang saja aku tidak melihat pepayamu sama sekali," bohong Castin membela diri.


"Baby d menggigitku."


"Apa sakit?" tanya Castin.


"Tidak terlalu."


"Tidak sakit kenapa teriak?"


"Kaget, Tuan."


Meski Castin tak lagi melihatnya, tapi Cleona tetap menyusui baby d sambil menutupi dadanya dengan telapak tangan. Beberapa menit kemudian, baby d pun sudah terlelap di atas pangkuan Cleona.


"Sudah, Tuan." ucap Cleona, Castin kembali menoleh ke kiri sambil meregangkan otot lehernya.


Saat mengalihkan pandangan pada Cleona, tatapan mata Castin justru tertuju pada pepaya jumbo milik Cleona yang tercetak di balik kain tipis tanpa bra.


"Berapa usiamu?" Castin memaksa matanya untuk menatap bayinya saja.


"Enam belas tahun, Tuan."


"Enam belas tahun, Tuan," jawab Cleona lagi.


"Masih sekolah?" lanjut Castin kembali mengintrogasi.


Cleona diam tak menjawab, lalu ia pun menggelengkan kepala dengan raut yang sedih.


"Tidak apa-apa, saya mengerti." Castin mengira Cleona dikeluarkan dari sekolah karena hamil di luar nikah.


Castin diam dan tak lagi bertanya, begitu pun dengan Cleona yang langsung mengalihkan pandangannya ke luar jendela.


"Tuan, saya mau dibawa ke mana? Ini bukan jalan pulang ke rumah saya," saat menatap ke luar jendela, Cleona baru menyadari bahwa jalan yang dilalui bukankah jalan pulang ke rumahnya.


"Memang bukan ke rumahmu karena ini adalah jalan menuju mansionku," jawab Castin dengan santainya.

__ADS_1


"Saya harus pulang ke rumah saya sendiri, Tuan!" Cleona langsung panik.


"Baiklah, katakan di mana rumahmu?"


"Kontrakkan saya di—" Cleona tak menyelesaikan kalimatnya karena baru menyadari kalau dirinya telah diusir.


"Di mana?" ulang Castin, Cleona langsung menundukkan wajahnya dalam. Castin mengerutkan dahi heran.


"Jadi kita ke mana dulu, Tuan?" tanya Asisten Usher yang mengemudikan mobil.


"Mansion."


"Baik, Tuan."


Beberapa menit di perjalanan, mobil Castin berhenti di depan pintu utama mansionnya yang luas persis seperti istana di negeri dongeng.


Pengawal yang berjaga di pintu utama langsung membukakan pintu mobil, Cleona ke luar dengan sangat berhati-hati.


"Duduklah," Castin mengeluarkan kursi roda dan meminta Cleona duduk di atasnya.


"Saya baik-baik saja, Tuan. Tidak perlu menggu—"


"Kalau kamu tiba-tiba jatuh, maka baby d yang akan lebih terluka," ucap Castin mengingatkan.


"Baiklah, Tuan." Cleona pun terpaksa duduk di kursi roda demi keamanan baby-nya. Setelah memastikan Cleona duduk dengan aman, Castin mulai mendorong kursi roda.


"Pepaya sebesar itu sudah pasti berat, ditambah lagi dengan babyku, pasti sangat—"


"Tuan bicara apa?" potong Cleona yang samar-samar mendengar gumaman Castin.


"Tidak apa-apa."


.


.

__ADS_1


.


Author Said : Yang sudah baca sampai bab ini, pasti lagi nungguin adegan petik pepaya, duren dibelah, ya, kan😏. Hayo ngaku🧐. Dah hapal Otor mah😌🤸


__ADS_2