
"Cleona, kamu—" Castin terdiam mematung kala melihat penampilan Cleona yang sempurna. Tak hanya Castin yang terdiam mematung. Tapi, Cleona pun juga sama. Cleona mengerutkan dahinya heran kala tak sengaja menatap sesuatu yang menonjol di balik celana Castin.
"Pria ini terlalu mesum," batin Cleona langsung mengalihkan pandangan matanya. Sangat berbahaya bila selaku dekat dengannya, Cleona takut suatu hari senapan Castin akan khilaf dan melahapnya hidup-hidup. Membayangkannya saja mampu membuat Cleona ketakutan.
"Ehem, kita berangkat sekarang," ajak Castin melangkah lebih dulu.
"Tuan," panggil Cleona, Castin membalikkan badannya.
"Apa?" tanya Castin singkat.
"Baby D bagaimana?" tanya Cleona.
"Dia aman bersama pelayan Gina," balas Castin meyakinkan Cleona.
"Baiklah," jawab Cleona segera mengekor di belakang Castin hingga tiba di luar mansion. Beruntung Cleona memilih heels yang hanya memiliki tinggi sekitar dua senti saja. Kalau tidak, ia pasti akan kesulitan berjalan.
"Masuklah," Castin membukakan pintu mobil untuk Cleona.
"Terima kasih, Tuan." Cleona masuk lalu beringsut memberikan Castin ruang untuk duduk di sebelahnya. Castin membantu Cleona yang kesulitan memasang safety belt, Cleona menundukkan wajah agar tak menyentuh dengan wajah Castin yang hanya berjarak lima senti meter darinya.
"Jalan," titah Castin kepada Asisten Helder.
__ADS_1
"Baik, Tuan." jawabnya segera tanpa gas dengan kecepatan sedang.
"Pepayamu tidak sakit lagi?" tanya Castin kala tergoda dengan pepaya Cleona yang ditekan oleh safety belt, hingga bentuknya yang indah semakin jelas menggoda.
"Tidak sakit lagi, Tuan. Tapi, boleh tidak berhenti menyebutnya dengan sebutan pepaya," protes Cleona membuat Castin menatapnya serius dengan dahi yang berkerut seakan tengah berpikir keras.
"Lalu apa? Payu dara terlalu vulgar, lebih baik pepaya saja, pepaya jumbo. Sebutan pepaya jumbo sangat cocok untukmu," balas Castin yang tak bisa move on dari pepaya jumbo milik Cleona.
Cleona tak merespon ucapan Castin, ia tampak tak menyukai apa yang sudah Castin ucapkan barusan. Melihat itu, Castin menghela napas berat lalu berkata, "Baiklah, aku tidak akan menyebutnya pepaya jumbo lagi," imbuh Castin pada akhirnya mengalah dan tak akan menyebutkan dua kata terlarang yang tidak Cleona sukai itu.
"Terima kasih, Tuan," kata Cleona tulus.
"Tuan!"
***
Beberapa menit perjalanan, mobil pun mulai berhenti tepat di depan gerbang beton istana yang besar, megah dan mewah bak tembok raksasa yang berada di China.
Di luar gerbang raksasa dijaga ketat berpuluh-puluh bahkan ratusan pengawal istana yang berpakaian khusus lengkap dengan senjata M-16 yang membuat mereka tampak menakutkan.
Cleona bingung kenapa Castin membawanya ke tempat yang tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang seperti dirinya.
__ADS_1
"Tuan," panggil Cleona mematung tubuhnya dan kesulitan berekspresi. Cleona takut bila ia bergerak sedikit saja, maka peluru sudah menembus organ intim dari tubuhnya.
"Apa?" tanya Castin tetap santai.
"Kita mau ke mana, Tuan. Apa tidak nyasar? tanya Cleona heran sambil menatap sekeliling.
"Ke rumah orangtuaku," jawab Castin dengan santainya. Jawaban santai itu sukses membuat Cleona membulatkan mata sempurna. Tidak mungkin orang tua yang Castin maksud adalah raja dan ratu Oesteria. kalau itu bener, maka Castin adalah seorang pangeran.
"Berarti ... Tuan adalah seorang—"
"Selamat datang, Tuan Bangsawan!" seru seorang pengawal dan diikuti oleh pengawal lainnya.
"Tu-tuan Bang-sawan ....
.
.
.
Kalau komentarnya tembus 100, Othor usahakan update lagi hari ini🙈
__ADS_1