
Cleona berjalan gontai menyeret kedua kakinya menyusuri jalanan pulang menuju kontrakannya. Langkah demi langkah terasa begitu berat, air mata yang mengalir, keringat yang membasahi tubuh, penampilan lusuh serta ekspresi wajah yang pilu membuat Cleona tampak kian menyedihkan.
Siapa yang tidak sedih bila berada di posisinya? Gadis sebatang kara, tak punya satu pun Keluarga, teman, apalagi orang yang mengasihinya. Miskin, tidak ada keahlian apa pun yang dapat dibanggakan, pemilik tubuh dengan ukuran tak biasa, punya asi, punya bayi, menjadi objek bulliying, dan masih banyak lagi lainnya. Dan kemungkinan daftar kemalangan itu masih akan terus bertambah.
Kehebatan Cleona hanya satu, yaitu tidak menyerah walau diuji seberat apa pun. Dia adalah gadis yang tangguh, yang bisa berdiri di atas kakinya sendiri, meski sering terjatuh tapi ia selalu bisa bangkit lagi. Beruntung kisah pilu itu hanya ia yang merasakan, kalau orang lain, kemungkinan sudah lenyap dari muka bumi.
Dikeluarkan dari sekolah membuat Cleona merasa begitu sedih. Bagaimana tidak? Perjuangannya untuk bersekolah tidaklah mudah. Tidak sedikit uang yang ia relakan untuk membayar biayanya.
Bahkan Cleona rela kelaparan berhari-hari demi membayar biaya SPP sekolah. Ia bekerja tak kenal lelah dan setelah berhasil masuk pun, nyalinya kembali diuji dengan bullying yang dialami. Tapi, Cleona tetap bisa bertahan.
Namun, perjuangan berat itu harus berhenti detik itu juga. Tepat di kelas dua, padahal tinggal setahun lagi dia akan lulus. Usahanya, tetesan keringat, bahkan tetesan darahnya selama dua tahun menjadi sia-sia hanya dalam hitungan detik.
Padahal, Cleona sangat berharap kehidupannya bisa berubah dengan bersekolah. Tapi pupus sudah harapan itu, Cleona sudah dikeluarkan dari sekolah secara tidak hormat. Dia meninggalkan nama buruk yang sepertinya akan dikenang selamanya.
"Cleona!" panggil seseorang dari arah belakang. Cleona mengenal suara itu, ia langsung menyeka air mata yang membanjiri pipinya.
"Cleona," suara itu semakin dekat.
__ADS_1
Cleona membalikkan badan, "Iya, Buk," jawab Cleona dengan suara seraknya, tebakannya tak salah. Pemilik suara lembut itu adalah wali kelas yang wajahnya terlihat begitu khawatir.
Ketika sudah berada tepat di hadapan Cleona, wali kelas itu memperlihatkan wajah Cleona dengan serius. Tentu saja ia dapat melihat raut kesedihan di wajah sendu Cleona. Tanpa berkata apa pun, wali kelas langsung memeluk Cleona dengan erat.
"Menangislah kalau bisa membuatmu lega," tuturnya sambil menepuk pundak Cleona dengan lembut.
Cleona membalas pelukan hangat itu dengan erat, ia sangat terharu karena bisa merasakan hangatnya dipeluk seorang ibu. Seumur hidupnya, Cleona tak pernah merasakan kehangatan itu. Benar-benar dapat membuatnya merasa aman dan nyaman.
Cleona memeluk wali kelasnya dengan isakan tangis yang semakin pecah. Di dalam kehangatan itu, Cleona menumpahkan segala kesedihannya, ia tidak lagi menahan kesedihan itu. Wali kelas pun ikut sedih dengan kisah hidup muridnya yang begitu tragis, persis seperti dirinya dahulu.
Cukup lama Cleona terisak dalam pelukan hangat wali kelasnya. Hingga ia merasa lelah dan tangisannya pun reda. Wali kelas langsung melepaskan Cleona dari pelukan menenangkan itu.
"Apa sudah lebih baik?" tanyanya lembut, Cleona mengangguk sebagai jawaban, ia belum puas menikmati pelukan hangatnya.
"Mari duduk dulu," wali kelas menuntun Cleona duduk di sebuah kursi yang terdapat di pinggir jalan. Cleona duduk dengan menundukan wajah, ia malu memperlihatkan mata bengkaknya.
"Ini untukmu," wali kelas meletakkan beberapa lembar uang ke dalam genggaman tangan Cleona. Cleona pun langsung mengangkat kepalanya.
__ADS_1
"Tidak per—"
"Kamu tidak bisa menolak. Ini adalah bantuan dari ibu, tenang saja untuk kebutuhan sehari-hari, ibu masih punya gaji suami. Kamu dan bayimu lebih membutuhkannya," terangnya membuat Cleona semakin bersedih. Ia terharu karena masih ada seseorang yang peduli padanya.
"Terima kasih, Buk. Suatu saat nanti entah kapan pun itu, Cleona pasti akan membalasnya," jawab Cleona masih terisak.
"Ya sudah, kamu yang semangat ya. Jangan pernah menyerah, selalu menjadi gadis kuat yang selama ini ibu kenal. Ibu yakin, kamu pasti bisa melewati semuanya hingga menemukan pelangi setelah badai," tutur sang wali kelas mengusap kepala Cleona dengan lembut. Kemudian langsung pamit karena harus kembali mengajar.
Usai kepergian wali kelasnya, Cleona kembali melanjutkan langkah kakinya, langkah demi langkah Cleona jalani hingga tibalah ia di kontrakannya. Berdiri sekitar tiga meter dari kontrakkan, Cleona dibuat tercengang kala melihat semua pakaiannya sudah berada di luar.
"Dizon!"
.
.
.
__ADS_1