
"Iya, kiri dan 20," ulang Cleona polos. Castin mengangguk dan kembali menggandeng Cleona menuju ruang makan yang berada cukup jauh dari ruangan saat ini mereka berada.
Setelah berjalan separuhnya, Cleona tiba-tiba menghentikan langkah kakinya. "Ada apa?' tanya Castin.
"Apa masih jauh, Tuan? Punggung dan pinggang saya sudah nyeri," lirih Cleona tampak sangat kelelahan karena beban yang selalu ia bawa. Belum lagi pakai ketat yang saat ini melekat di tubuhnya.
"Kenapa lelah? Kamu tidak sedang pakai heels, kan?" Castin langsung memeriksa kaki Cleona.
"Bukan karena heels, Tuan."
"Lalu?"
"Karena—" Cleona malah menundukkan wajahnya.
"Oh, karena pepaya jumbo."
"Tuan," Cleona masih tak menyukai penggilan itu.
Castin tersenyum kecil, kemudian langsung mengangkat tubuh Cleona ke udara.
"Tuan, apa yang tuan lakukan? Turunkan saya!" teriak Cleona tapi Castin abaikan. Saat sampai di ruang makan, barulah Castin menurunkan Cleona.
"Akhirnya kalian berdua datang juga, kemarilah, Sayang," tanpa ragu sang ratu Oesteria langsung mendekat lalu menyeret Cleona dengan antuasiasnya. Castin mengekor di belakang mereka.
"Duduklah," terlalu tegang membuat Cleona tampak seperti robot yang langsung duduk ketika dimintai duduk.
"Astaga Castin, jadi seperti ini modelan wanita yang kamu cari. Pantas saja putri-putri dari kerajaan lain yang mama kenalkan selalu kamu tolak. Seleramu tinggi begini, langsing tapi semok, seksi dan montok," ujar sang ratu sambil menggeleng kepala menatap Castin. Kemudian kembali menatap Cleona dari atas sampai bawah. Sang ratu bernama lengkap Diona Tamara Afson itu terlihat kagum memandang wajah cantik dan tubuh seksi Cleona.
"Apa semua ini asli, Sayang?"
"Iya, Nyonya." jawab Cleona mengangguk.
"Tenang saja, Mama. Aku tidak akan merusak keturunan, wanita yang menjadi pilihanku aman dari operasi plastik, filler ataupun implan. Aku sudah membuktikannya sendiri," jawab Castin membanggakan diri. Sementara Cleona sudah memerah wajahnya karena menahan malu.
"Mama tahu itu," sahut ratu Diona kembali fokus pada Cleona.
"Mama yakin kamu adalah anak yang baik, Sayang," lanjut ratu Diona mengusap lembut kepala Cleona. Cleona hampir meneteskan air mata karena tak menyangka kalau sang ratu Oesteria adalah seorang ibu yang sangat baik dan mau menerima dirinya apa adanya.
"Gadis yang malang, Castin pasti terlalu brutal seperti ayahnya. Mama harap kamu tidak terluka, Sayang," lanjutnya lagi dengan ekspresi iba.
__ADS_1
"Aku tidak begitu, Ma," timpal Castin membela diri.
"Halah, di lift saja kamu hajar juga!" balas ratu Diona murka.
"Hanya atas, Ma."
"Sama saja." Cleona mengerjabkan mata berkali-kali bingung apa yang Castin dan Mamanya perdebatkan.
"Tapi, lakukan saja terus, ya. Mama mendukung kalian berdua, cucu laki-laki sudah ada dan cucu perempuan belum ada. Sudah lama Mama menginginkan cucu perempuan, Mama harap kalian mau memberikan mama cucu perempuan," tuturnya bergantian menatap Castin dan Cleona. Cleona menelan saliva bersusah payah.
"Tenang saja, Ma. Pasti akan Castin usahakan," balas Castin dengan santainya, sementara Cleona memucat seketika.
"Tapi, apa benar hubungan kalian sudah sampai di tahap itu? Kamu benar-benar normal, Castin?" tanya Ratu Diona tiba-tiba ragu kala bertemu langsung dengan Cleona. Dari sudut pandangnya, Cleona tampak seperti gadis baik dan tidak mungkin menyerahkan diri kepada seorang pria begitu saja. Apalagi ia selalu beranggapan bahwa putranya adalah pria impoten.
"Mama test saja dia."
"Mama coba ya. Cleona sayang, coba jawab pertanyaan Mama, ya. Apakah Castin benar-benar sudah mengobok-obok kamu?"
Cleona terdiam, ia tak mengerti dengan kata mengobok-obok. Sementara Castin menggelengkan kepala dengan bahasa planet yang Mamanya gunakan.
ketika mengingat pesan Castin, Cleona pun langsung menjawab iya dengan lantang.
"Langsung ke pertanyaan saja, Ma." desak Castin geram.
"Diam kamu!" bentaknya.
"Pertanyaan kedua, Castin punya tanda lahir di bo kongnya, di bo kong bagian manakah tanda lahir itu berada?"
"Kiri," jawab Cleona dengan pipi merah merona. Ratu Diona tersenyum gembira.
"Pertanyaan terakhir, Castin sukanya malam atau pagi?" serunya lagi.
"Du ... Dua pu—"
"Kapan saja! sekarang juga mau!" potong Castin tiba-tiba. Hampir saja Cleona menjawab dengan jawaban dua puluh. Karena sebenarnya jawaban itu bukanlah jawabannya. Castin mengira sang mama akan bertanya ukuran senapannya. Namun, ternyata ia salah.
"Ck! Sudah mama duga, di lift saja kamu hajar," lanjut ratu Diona membuat Castin menghela napas lega, sementara Cleona tampak kebingungan.
"Selamat malam kakak dan kakak ipar!" sambut Anna yang baru saja muncul dengan membawakan dua gelas minuman khusus, kemudian meletakkannya di hadapan Castin dan terakhir di atas meja di hadapan Cleona yang duduk di samping mamanya.
__ADS_1
"Terima kasih, Putri Anna," ucap Cleona merasa tak enak hati.
"Sama-sama, Kakak ipar," jawab Anna sopan dan ramah.
"Minuman apa ini? Tidak mengandung racun?" tanya Castin ragu.
"Iya. Minuman itu mengandung racun biar kakak langsung menghilang dari muka bumi ini dan aku bisa segera menikah," ketus Anna dengan ekspresi tak sukanya.
"Pacar saja tidak punya," ledek Castin segera meneguk minuman tersebut. Cleona juga turut meminumnya karena takut putri Anna tersinggung.
"Sudah-sudah, kenapa kalian berdua selalu saja bertengkar? Anna duduklah, kita mulai makan malam," ungkap ratu Diona geram.
Mereka berempat mulai melahap makan malam mereka. Cleona sangat menikmati makanan lezat yang pelayan hidangkan khusus untuknya. Namun, tiba-tiba saja ia merasa kepalanya seperti berputar-putar.
"Kakak ipar, kakak kenapa?" tanya Anna tersenyum licik. Melihat itu, Castin langsung bangkit dari duduknya, lalu menghampiri Cleona.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Castin lembut.
"Kepala saya pusing, Tuan." lirih Cleona pelan.
"Castin, segera bawa Cleona ke kamarmu. Mama akan panggilkan dokter," titah ratu Diona khawatir dan Castin pun langsung menggendong Cleona untuk dibawa ke kamarnya yang berada di lantai atas.
Setelah Castin telah masuk ke dalam lift, ratu Diona dan Anna putrinya saling menatap dan bertukar senyum karena senang rencana mereka berhasil.
"Rencana kita berhasil, Ma!" seru Anna.
"Cleona Chaves, bagaimana pun caranya, gadis itu harus menjadi menantu mama," ucapnya tersenyum penuh makna.
***
"Ahh, Tuan. Pa ... nas ....
.
.
.
__ADS_1
Selamat hari senin, jangan lupa Votenya😘