
Keesokan harinya, Cleona pulang sekolah dengan berlarian karena khawatir terjadi sesuatu kepada bayinya yang ia tinggalkan sendirian di kontrakan.
Sampai di kontrakan, Cleona menghela napas lega kala melihat bayinya masih berada di dalam keranjang. Sang bayi mungil terlihat duduk di keranjang dengan memegang botol dot yang asinya tinggal setengah.
Sang bayi tertawa menggemaskan ketika menyambut kepulangan Cleona. "Ibu tidak bisa fokus belajar karena memikirkan keadaanmu, ibu senang karena kamu baik-baik saja. Kamu memang anak yang baik," puji Cleona langsung mengendong bayinya sambil menciumnya gemas.
Karena merasa lapar, Cleona kembali menurunkan bayinya ke tempat sebelumnya. Ia mengambil sebungkus roti kemudian melahapnya hingga habis, bayinya juga ikut makan bersamanya hingga asi dalam botol dotnya habis tak bersisa, tapi sang bayi tetap terus menghisapnya.
"Habis, ya? Sebentar, ya, ibu ambilkan alat penyedot ASInya dulu," Cleona bangkit, menyiapkan alat yang akan ia gunakan untuk menyedot asinya. Tak lupa Cleona juga mencuci botol dot bayinya.
Setelah itu, Cleona langsung membawanya ke tempat semula. Cleona mengambil bayinya, kemudian ia susui di payu dara sebelah kiri, sementara yang sebelah kanan akan ia sedot menggunakan alat lalu dimasukkan ke dalam botol dot.
"Setelah adanya kamu, payu daraku tidak terasa sakit atau perih lagi seperti sebelumnya. Terima kasih Tuhan, apa bayi ini kau titipkan sebegai hadiah keberuntungan untukku? Kalau begitu kamu akan aku beri nama Dizon yang artinya hadiah dari Tuhan."
Seakan mengerti apa yang Cleona katakan, bayinya seketika tersenyum sumringah kala senang mendapatkan nama indah yang Cleona berikan. Setelahnya, Dizon kembali melanjutkan menghisap asi.
"Kamu menyukainya, hem?" goda Cleona, Dizon pun menepuk-nepuk tangannya gembira.
Usai menyusui bayi Dizon hingga terlelap, Cleona segera bangkit dan meletakkan kembali bayi Dizon ke dalam keranjang khusus bayi yang sudah Cleona rancang se aman mungkin.
"Ibu berangkat kerja dulu, ya. Kamu jangan nakal, oke," Cleona mengecup kening, kedua pipi, hidung dan juga bibir bayi Dizon. Setelahnya, Cleona pun segera pergi untuk bekerja sebagai seorang pemeran pengganti.
__ADS_1
Tiba di halaman gedung FD Entertainment, Cleona langsung masuk ke dalamnya, "Kamu baru datang, jam berapa ini?" bentak seorang perempuan yang sebelumnya menjadi juri.
"Maaf, Buk. Saya ke sininya jalan kaki, jadi agak—"
"Tidak perlu banyak bicara!" sentaknya langsung berjalan cepat mendahului Cleona. Cleona pun langsung mengekor di belakangnya hingga tiba di pelataran parkir.
"Apa lagi yang kamu tunggu? Cepat masuk!" desaknya yang sudah berada di dalam mobil. Cleona pun segera masuk ke dalam mobil yang dihuni dengan staf lainnya, yang kebanyakan adalah laki-laki. Cleona merasa tak nyaman dengan pandangan mata mereka yang terus tertuju padanya.
Semua staf rata-rata berpakaian serba hitam dengan logo FD Entertainment, baik yang laki-laki maupun perempuan. Kecuali Cleona karena ia adalah pemeran pengganti.
Bila staf laki-laki terus menatapnya dengan pandangan menginginkan, staf perempuan justru sibuk dengan ponsel mereka masing-masing.
Sebenarnya Cleona adalah gadis yang gampang bergaul dengan siapa pun, hanya saja rasa insecure membuatnya tak mampu berbuat apa pun. Cleona merasa tak pantas untuk berteman dengan mereka semua.
Turun dari mobil, semua pekerja sibuk dengan tugas mereka masing-masing. Mulai dari cameraman, penata rias, dan lainnya. Karena itu adalah hari pertama bagi Cleona, ia pun tampak kebingungan harus melakukan apa. Saat ini Cleona hanya mengekor di belakang juri sebelumnya yang kemungkinan akan menjadi bosnya.
Perempuan itu membawa Cleona hingga tiba di halaman kastil. Langkahnya berhenti setelah menemui seorang pria dengan mengenakan topi flat cap yang menjadi ciri khas seorang sutradara.
"Mana pemeran pengganti yang kau janjikan?" tanyanya mendesak.
"Ini, Pak." jawab perempuan itu mandoring Cleona hingga berdiri tepat di depan sang sutradara.
__ADS_1
"Kerja bagus, sesuai dengan yang aku inginkan," pujinya.
"Sekarang cepat bawa dia dan ganti bajunya, jangan lupa kenakan make up. Wajahnya tidak terlalu mirip tidak apa-apa," titahnya mendesak dan Cleona pun langsung diseret hingga masuk ke sebuah tenda khusus.
"Kalian semua urus dia," titah perempuan itu dan langsung pergi meninggalkan Cleona seorang diri.
"Sekarang cepat ganti bajumu dengan pakaian ini," Cleona menerima pakaian terbuka itu dengan ragu.
Meski ragu, tapi ia tak punya pilihan lain. Cleona pun segera masuk ke ruangan ganti dan langsung memasang pakaian dengan cepat. Begitu selesai, Cleona segera keluar dari ruang ganti.
"Cepatlah kemari!" desak sang penata rias meminta Cleona duduk di kursi depan meja rias.
"Baik." jawab Cleona langsung berjalan cepat.
SREK!
Cleona membulatkan matanya sempurna kala baju bagian depannya tiba-tuba sobek.
"Kau! Apa kau tahu berapa harga pakaian ini?"
.
__ADS_1
.
.