Duren Bangsawan

Duren Bangsawan
Bab 64 ~ Menantuku!


__ADS_3

"MANA MENANTUKU!?" teriak sang Mama, Castin reflek menjauhkan ponsel dari telinganya. Cleona langsung menundukkan wajahnya dalam, kala tak sengaja mendengar teriakan itu.


"Bawa pulang menantuku malam ini juga!"


Tutt!


Panggilan langsung dimatikan sepihak. Castin menghela napas kasar.


"Kamu dengar apa kata mamaku?" tanya Castin dan Cleona langsung menganggukan kepala sebagai jawaban.


"Kamu siap?" tanya Castin lagi, Cleona langsung menengadah dengan tatapan mata yang menunjukkan kalau ia tak mengerti apa yang Castin maksud.


Melihat ekspresi Cleona, Castin pun kembali berkata, "Kamu siap menjadi menantu mamaku?" tanya Castin sejelas-jelasnya. Asisten Helder yang mendengar itu seketika terlonjak kaget dan langsung menyudahi aksi pengobatannya.


"Sekolah saya bagaimana, Tuan?" tanya Cleona masih ragu walau sebelumnya ia sudah sepakat untuk setuju.


"Itu bukan masalah besar," balas Castin cepat.


"Kalau saya sampai hamil bagaimana, Tuan?" tanya Cleona turut kaget dengan pertanyaan yang ia ajukan sendiri. Cleona menundukkan wajahnya dalam, memukul mulutnya berkali-kali dan juga mengumpat dirinya sendiri. Bagaimana ia bisa berpikir sepercaya diri itu? Dan kejadian ini bukan yang pertama kali.


Castin tersenyum simpul, "Tenang saja, tidak akan sampai hamil. Aku juga masih ingin fokus membesarkan putraku," sahut Castin membuat Cleona merasa tenang.


"Jadi bagaimana? Kamu tidak masalah menikah denganku?" tanya Castin kembali memastikan. Cleona menganggukkan kepala perlahan. Cleona bingung harus senang atau sedih. Tapi, Cleona berharap ia tidak salah melangkah, Cleona berharap banyak pada Castin. Mengingat Castin selalu berbuat baik padanya meski agak sedikit mesum.


Tiba di mansion, Cleona langsung bergegas menemui baby d yang rupanya sudah terbangun. Cleona yang masih kesakitan langsung menyusui baby d saat itu juga.

__ADS_1


Sementara Castin langsung menuju kamar untuk segera mandi air dingin, guna meredam hasratnya menggebu-gebu. Usai mandi dan bersiap, Castin memilih menyibukkan diri di ruang kerja, berharap dapat melupakan bayangan pepaya jumbo yang ia se sap.


Saat baby d telah terlelap, Cleona memindahkannya ke ranjang khusus bayi. Cleona kembali duduk di pinggir ranjangnya, Cleona merasa lega karena tak lagi merasa kesakitan. Cleona berbaring di kasur guna mengistirahatkan tubuhnya yang terasa lelah dan letih.


Tok, tok, tok!


Sore menjelang malam Cleona dibangunkan oleh ketukan pintu kamar. Cleona pun segera bangkit lalu membukakan pintu, "Selamat sore, Nona. Maaf mengganggu," sapa seorang pelayan yang berdiri di barisan paling depan.


"A-ada apa, ya?" tanya Cleona bingung dengan rombongan pelayan yang membawa banyak paperbag juga kardus-kardus mewah.


"Ini semua adalah pakaian, tas, sepatu, heels, make up dan segala keperluan Nona. Untuk itu, izinkan kami menyusunnya ke dalam kamar," terangnya jelas.


"Se-sebanyak itu?" tunjuk Cleona hampir tak percaya.


"Mssuklah," akhirnya Cleona memberi izin para pelayan masuk.


Cleona duduk terdiam di pinggir ranjang, sementara para pelayan sibuk keluar masuk kamarnya, menyusun dan menata segala macamnya. Cleona kebingungan harus melakukan apa? Melihat banyaknya pakaian beserta aksesoris yang disusun membuat kepalanya tiba-tiba pusing.


"Nona, mari ikut kami," ajak beberapa pelayan lain yang baru saja masuk ke dalam kamar Cleona.


"Ikut ke mana?" tanya Cleona tak mengerti.


"Mandi, Nona," jawab salah satu dari mereka, kemudian langsung menyeret Cleona masuk ke dalam kamar mandi tanpa meminta persetujuan lebih dulu.


Cleona pun pasrah saat para pelayan melakukan tugas mereka masing-masing. Mulai dari melepaskan pakaian, mencukur semua rambut halus di tubuhnya, memotong kuku tangan dan kaki, diluluri plus pijat, kemudian menyabuni hingga tubuh Cleona benar-benar bersih. Cleona mereka perlakukan serta manjakan bak seorang putri dari kerajaan.

__ADS_1


Meski yang melihat tubuhnya adalah pelayan wanita, dan itu pun hanya tiga orang. Tapi, tetap saja Cleona merasa malu dan tak nyaman. Namun, apa boleh buat, para pelayan hanya menjalankan perintah. Sementara Cleona tak bisa berteriak histeris karena itu akan membangunkan baby d yang baru saja terlelap.


Setelah dimandikan, Cleona merasa tubuhnya benar-benar ringan tanpa beban. Rasa lelah dan letih yang semula ia rasakan langsung menghilang. "Mari, Nona," ajak pelayan menggandeng Cleona masuk ke dalam walk in closet yang dipenuhi pakaian serta aksesoris mewah lainnya, Cleona dibuat terpesona.


"Saya akan pakai gaun ini?" tanya Cleona sambil menunjuk gaun berwarna putih polos dengan desain yang begitu elegan.


"Iya, Nona. Ini adalah gaun yang Tuan Castin pilih sendiri," terang sang pelayan. Cleona menganggukkan kepala mengerti, ia merasa sedikit lega karena gaun indah itu cukup tertutup dan sopan. Cleona pun tak masalah ketika pelayan mulai mengenakan gaun itu ke tubuhnya.


Meski gaun yang Castin pilihkan adalah gaun tertutup dan sopan. Namun, tetap saja tampak seksi saat melekat di tubuh ideal Cleona. Gaun elegan itu tak hanya mampu membuat lekukan tubuh Cleona tampak semakin indah.


Tapi, juga memancarkan kecantikan alami seorang Cleona, walau hanya dengan sapuan make up yang tipis dan ringan. Belum lagi rambut indah yang dibuat bergelombang. Penampilan Cleona malam itu adalah yang terbaik.


"Cleona, kamu—


BERSAMBUNG ....


.


.


.


Maaf, ya, Guys. Agak slow update, othor lagi ada kesibukan🙏🏻


Novel ini belum tamat, ya, Guys. Jadi, masih terus berlanjut. Ada suatu alasan kenapa novel ini Othor tag Tamat dan juga alurnya agak lambat. Sebenarnya Othor udah curhat di bab ini, tapi udah Othor hapus karena babnya tidak lulus riview gara-gara curhatan itu😔. Jadi, mohon dukungannya💞

__ADS_1


__ADS_2