
Cleona mengangkat wajahnya perlahan, dan betapa kagetnya ia saat melihat Castin tercengang menatapnya tanpa mengedipkan mata sedetik pun. Cleona menutupi bagian sensitif dari tubuhnya yang terlihat, ia sudah menebak akan seperti apa ekspresi Castin.
"Sialan!" bentak Castin langsung berdiri dari duduknya.
Srekk!
Tirai langsung para pelayan tutup. "Astaga, Nona. Kenapa Tuan Castin berteriak membentak?" tanya pelayan ketakutan.
"Sudah aku katakan kepada kalian semua. Dia tidak suka saat aku berpakaian terbuka," lanjut Cleona geram.
"Kalau begitu baiklah, Nona. Kamu sudah mengerti selera Tuan Castin!" balas sang pelayan kembali mengerumuni Cleona.
Srekk!
Tirai kembali terbuka, dress selutut yang tak terlalu seksi melekat di tubuh ideal Cleona. Waran merah sangat kontrak dengan warna kulitnya yang putih bersih. Penampilan Cleona sangat mempesona. Auranya begitu kuat, lihatlah bagaimana Castin bangkit dari duduknya.
"Apa yang istimewa dari gadis pepaya ini? Kenapa dia bisa membuatku begini?" batin Castin terus menatap Cleona dengan mata membulat sempurna.
Tak lagi tahan dengan kecantikan dan kemolekan tubuh Cleona yang membuatnya cenat-cenut, Castin pun langsung menarik pergelangan tangan Cleona, hingga tubuh kenyal Cleona menempel dengan tubuh kerasnya.
"Bungkus semua pakaian yang ada di Mall ini! Oh ya, jangan lupa bungkus yang seksi juga," titah Castin lalu menyeret Cleona dan membawanya pergi.
"Mau ke mana lagi, Tuan?" tanya Cleona menahan diri saat Castin lagi-lagi menyeretnya paksa.
"Seragam sekolah, bukankah kau ingin sekolah?" Castin menatap Cleona memastikan.
"Iya, Tuan. Saya mau sekolah," balas Cleona cepat dengan mata berbinar bahagia.
__ADS_1
Cleona merasa tubuhnya melayang di udara saat Castin menyeretnya hingga masuk ke dalam lift di mall tersebut.
"Tidak perlu ikut!" cegat Castin melarang Asisten Helder yang ingin ikut masuk ke dalam lift.
"Baik, Tuan." jawab Asisten Helder sambil membungkukkan badannya. Hal yang sama juga pengawal lain lakukan.
Pintu lift tertutup, Castin menekan angka dua lima, yang artinya mereka akan naik menuju ke lantai dua lima. Kemungkinan di sanalah tempat toko khusus yang menjual seragam sekolah.
"Akh!" ringis Cleona tiba-tiba. Ia langsung melepaskan tangan dari genggaman Castin, lalu menekan dadanya lembut.
"Kenapa?" tanya Castin dengan raut wajah khawatirnya.
"Tidak apa-apa, Tuan," jawab Cleona pelan, tapi wajahnya jelas terlihat seperti sedang menahan rasa sakit.
Ting!
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan, Nona?" sapanya ramah sambil membungkukkan badan.
"Seragam sekolah yang pas di tubuhnya," Castin menunjuk Cleona, pandangan sang pelayan langsung tertuju pada bagian dada Cleona yang menonjol.
"Apa yang kau lihat?" bentak Castin murka, pelayan seketika bergetar tubuhnya. Tanpa Castin sadari, ia bahkan cemburu pada seorang wanita.
"Maaf, Tuan. Saya sedang memikirkan seragam yang pas untuk Nona," jawab sang pelayan gugup.
"Ada?" sahut Castin bertanya.
"Tidak ada, Tuan. Kami harus ukur dan jahit khusus lebih dulu," jawabnya seramah mungkin.
__ADS_1
"Lakukan," titah Castin singkat.
"Baik, Tuan." Cleona kembali dibawa pergi. Kali ini Castin juga ikut, ia ingin melihat ketika tubuh Cleona diukur.
"Baju Nona basah," imbuh pelayan itu ketika mengukur lingkar dada Cleona. Cleona diam tak menjawab, ia malu untuk mengatakan yang sebenarnya. Sementara Castin tahu kenapa baju bagian depan itu basah.
"Sudah?" tanya Castin.
"Sudah, Tuan. Hari ini juga kami akan langsung menjahitnya," jawabnya ramah.
Castin tak merespon, tapi ia kembali membawa Cleona masuk ke dalam lift menuju lantai lima belas. Castin akan membawa Cleona makan lebih dulu sebelum pulang.
"Aw!" ringis Cleona langsung menjatuhkan tubuhnya, beruntung Castin menangkapnya cepat.
"Kau kenapa?" tanya Castin langsung panik.
"Sa-sakit, Tu-an ... Aw!"
"Apanya yang sakit?"
"Payu ... dara ....
.
.
.
__ADS_1