Duren Bangsawan

Duren Bangsawan
Bab 47 ~ Duda Perjaka


__ADS_3

"Bagaimana? Aku masih normal apa tidak?"


"Astaga! Kau mengalami—"


"Apa? Jangan membuatku kaget!" desak Castin geram.


"Haha ... Kaget, ya?" Dokter Calvin justru senang melihat ekspresi kaget sekaligus takut di wajah tampan Castin.


"Berhenti bermain-main, Calvin!" bentak Castin murka.


"Aku bercanda, Castin. Senapanmu normal, tidak perlu khawatir," tutur Calvin melangkah dan kembali ke tempat duduknya.


"Jadi maksudmu aku harus tersiksa karena dia terus berdiri?" tanya Castin kesal. Ia langsung bangkit dari berbaringnya, lalu menatap tajam Dokter Calvin yang duduk di singasananya.


"Tinggal tembakkan saja dan kau tidak akan lagi tersiksa. Begitu saja apa susahnya? Apa perlu aku ajarkan padamu bagaimana caranya?" geram Dokter Calvin.


"Memangnya kau tahu, duren dokter PERJAKA?" tanya Castin menebalkan kata perjaka.


"Hei, tidak perlu diperjelas, kita sama-sama duda perjaka," balas Dokter Calvin langsung meraih ponsel dan menghubungi sahabatnya yang berpengalaman yaitu Duren CEO, siapa lagi kalau bukan Devil Amore—sang cassanova pemburu cinta.


"Hallo, ada apa?" tanyanya dengan suara tersengal-sengal.


"Ini masih pagi Tuan CEO," Dokter Calvin menggelengkan kepala tak habis pikir.


"Anak SD juga tahu ini pagi. Katakan ada apa? Aku sedang sibuk," balasnya tak peduli, suara-suara erotis seorang wanita terus terdengar.


"Ck! Sibuk?" umpat Dokter Calvin kesal.


"Malam ini di bluehouse," lanjut Calvin langsung memutuskan panggilan karena tak mau suara-suara di seberang sana merusak kinerja otaknya di pagi itu.


"Malam nanti kita bertemu lagi, sekarang pergilah karena sebentar lagi pasienku akan datang," usir Dokter Calvin membuat Castin langsung bangkit dan siap akan pergi.


"Akan kukirim kau ke pedalaman Afrika!" ancam Castin sebelum pergi.

__ADS_1


"Kau belum jadi raja, Pangeran Castin," balas Dokter Calvin dengan nada suara yang tinggi agar terdengar.


BRAK!


Suara pintu yang Castin tutup dengan sekuat tenaga.


"Dan aku harap kau tidak berambisi untuk menjadi raja, karena itu tidak akan mungkin."


Author pura-pura tak tahu : Why?🤔.


Duren Dokter : Pssttt🤫.


Readers Tercalangeo : Banyak amat misterinya😢.


Author solehit : Biar kalian jadi penasaran-penasaran gimana gitu🏃🤾🤸🏋️


***


Haruskah ia benar-benar melampiaskan hasrat dan nafsunya yang bergejolak kepada Cleona yang jelas-jelas masih di bawah umur. Sementara untuk menikah tidaklah semudah itu baginya yang adalah seorang calon raja.


"Aku bukan pedofil!" umpatnya dalam hati.


"Menurutmu bagaimana, Helder?" tanya Castin sambil berjalan cepat usai keluar dari ruangan Dokter Calvin.


"Bagaimana apanya, Tuan?" tanya Asisten Helder yang tak tahu apa pun.


"Lupakan!" Asisten Helder menggaruk tengkuknya yang gatal.


Castin berjalan menjauh dari ruangan Dokter Calvin, sementara Cleona juga berjalan cepat menuju ruangan Dokter Calvin sambil membawa nomor antrian.


Dan tepat di belakang Castin dan Asisten Helder, ada Cleona yang datang dari arah berlawanan. Walau hanya berjarak sekitar tiga meter, tapi keduanya tak saling menyadari.


Cleona yang baru saja datang langsung memberikan nomor antriannya kepada seorang suster yang berjaga di pintu masuk ruangan Dokter Calvin. Setelahnya, Cleona pun dipersilahkan masuk untuk menemui Dokter Calvin.

__ADS_1


"Sial!" umpat Castin langsung membalikkan badan.


"Ada apa, Tuan?" tanya Asisten Helder heran.


"Dompetku tinggal," kesal Castin berjalan kembali menuju ruangan Dokter Calvin.


"Biar saya ambilkan, Tuan?" tawar Asisten Helder.


"Tidak perlu," balas Castin melangkah dengan terburu-buru hingga sampai di depan pintu ruangan Dokter Calvin.


Tanpa mempedulikan apa pun, Castin langsung membuka pintu dan ....


.


.


.


Pov Ketemu Castin : Ngereog



Pov ketemu Cleona : Rapi, Kalem, Cool, Macho, Tampan, Jantan.



Pov Ketemu Readers : Periksa di bagian mana, Sayang?



OTHOR DAH TAHU SELERA KALIAN😌


MANA HADIAH BUAT OTHOR, NIH🧐

__ADS_1


__ADS_2