
Siang menjelang sore, semua murid dikumpulkan di lapangan, guru mulai menjelaskan rute yang akan dilewati agar mereka menyelesaikan misi. Semua murid mulai berlarian. Masalah lari Cleona adalah juaranya karena memang dia atlit lari. Payu dara yang besar tak menjadi penghalang baginya. Lihatlah bagaimana Nana kewalahan mengimbangi Cleona.
"Cleo!" panggil Nana berteriak, Cleona yang sadarkan diri, segera memperlambat larinya ketika menoleh ke belakang hanya ada Nana, murid lainnya ketinggalan sangat jauh.
"Jangan terlalu bersemangat," ujar Nana ketika Cleona sudah sejajar dengannya.
"Iya, Maaf. Aku sudah lama tidak lari bebas begini."
"Kenapa kamu suka banget lari, sih? Kalau aku lebih baik olahraga beladiri, lari tipis-tipis saja yang penting lincah."
"Entahlah, aku merasa plong ketika berlari. Semua beban hidup seakan menghilang," jawab Cleona yang turut berlari tipis.
"Oh begitu, kalau aku cari masalah dapat mengurangi beban hidup," sahut Nana membuat Cleona menghentikan larinya.
"Kenapa berhenti?" tanya Nana heran.
"Jamku, Na. Jam tangan yang diberikan Castin tadi pagi hilang. Bagaimana ini? Cleona menunjukkan pergelangan tangannya yang telah kosong. Ia tampak sangat kehilangan karena barang yang Castin berikan sangat berarti baginya.
"Aku pasti menjatuhkannya, di mana ya?" Cleona memeriksa sekelilingnya.
"Sudah, Cleona. Jam tangan yang tuan Castin berikan adalah alat yang dapat melacak keberadaanmu. Astaga, bagaimana rasanya dicintai oleh seorang pangeran? Andai dokter Calvin juga begitu padaku." ujar Nana menggelengkan kapala untuk menyadarkan dirinya dari bayangan dokter Calvin.
"Tenang saja, Cleo. Tuan Castin pasti tidak akan marah," bujuk Nana.
"Alat pelacak? Memangnya tetap bisa dilacak walau di sini tidak ada sinyal?" tanya Cleona tak percaya.
"Tentu saja, Sekarang kita harus kembali," ajak Nana yang punya firasat tak baik.
__ADS_1
"Loh, kenapa kembali? Bukannya kita harus berlari ke sana? Di sana misinya agar kita bisa memang," Cleona menunjuk ke arah depan sana.
Jeeeddeerrrr!
"Akh!" teriak Cleona kaget.
"Tuh, dengerin suara petir itu. Semua murid juga tidak terlihat, sepertinya mereka semua sudah kembali karena hujan akan turun," terang Nana cepat.
"Kalau begitu ayo cepat kita pergi, aku takut," Cleona langsung menyeret Nana.
"Mau ke mana kalian?!" kemunculan beberapa pria berpakaian serba hitam mengepung Cleona dan Nana.
"Sial!" umpat Nana langsung mengamankan Cleona di belakangnya.
"Siapa kalian?!" bentak Nana mulai mengambil ancang-ancang. Tangan dan kaki panjangnya siap pada posisi.
"Tetap berada di sisiku, Cleo!" teriak Nana. Cleona pun mengiyakan, beruntung ia atlit lari. Walau tidak bisa balik menyerang seperti Nana, tapi setidaknya Nana dapat melindunginya dengan baik.
Cleona begitu terpukau akan aksi Nana yang dapat dengan mudah mematahkan tangan dan kaki para orang-orang yang menyerang. Nana Begitu lincah, dengan kedua tangan panjang, ia dapat melumpuhkan beberapa musuh dalam satu jurusan.
"Kita pergi sekarang!" teriak Nana karena para musuh sudah ia tumbangkan. Mendengar itu, Cleona pun menyeret Nana, mereka berlari sangat kencang menjauh dari orang-orang yang menyerang.
"Cleona, Nana! Darimana saja kalian berdua?!" kedatangan Cleona dan Nana disambut panik oleh beberapa guru.
"Maaf, Bu, Pak," balas Cleona tetap tenang, berbeda dengan Nana yang menatap tajam guru yang membentaknya dan Cleona.
"Ya sudah, cepat kembali ke tenda kalian!" titahnya, Cleona dan Nana segera masuk ke tenda mereka. Sementara murid lainnya sudah berada di dalam tenda mereka masing-masing.
__ADS_1
Sampai di dalam tenda, Nana langsung menutupnya. Sementara Cleona membuka tas dan mengeluarkan kotak p3k yang ia bawa.
"Kamu baik-baik saja, kan, Cleo?" tanya Nana khawatir.
"Aku baik-baik saja, Na. Tapi kamu terluka. Kemarikan tanganmu," pinta Cleona tahu bahwa pergelangan tangan Nana tergores pisau karena melindunginya.
"Terima kasih, Cleona."
"Terima kasih juga karena sudah melindungiku, aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau tidak ada kamu."
"Melindungimu dengan nyawaku, adalah keharusan."
"Jangan dengan nyawamu, itu sangat menakutkan."
"Haha...."
***
"Ya, tertawalah, itu baru permulaan."π
.
.
.
Mau update lagi, gak?π. Kalau tembus 100 komen author update lagi dehππ
__ADS_1