
"Asalkan buang di luar," jawab Dokter Calvin dengan santainya.
"Apa maksudmu, Calvin? Tidak ada istilah keluar di dalam. Keluar ya keluar, dalam ya ke dalam. Jangan membingungkan," protes Castin tak mengerti.
"Soal ukuran langsung konek, giliran yang begini lemot," Dokter Calvin memutar bola mata jengah.
"Maksudnya begini, kau boleh melakukannya pada gadis itu. Tapi, jangan sampai gadis itu hamil. Di usia enam belas tahun kehamilan sangat berisiko, fatalnya bisa menyebabkan kematian ibu dan janin," terang Dokter Calvin menjelaskan.
"Sepertinya—"
"Sepertinya apa?"
"Sepertinya gadis itu sudah pernah hamil. Aku ingat dia dikeluarkan dari sekolah karena hamil di luar nikah," ungkap Castin dengan raut wajah yang tampak kecewa.
"Benarkah?" sahut Elmer memastikan.
"Iya," jawab Castin membenarkan.
"Hem, gadis yang malang," balas Dokter Calvin kasihan.
"Tapi, apa tidak ada cara lain untuk menenangkanku? Aku merasa tidak tega menyentuh gadis itu sebelum menikahinya," Meski hati dan nafsunya tidak sejalan, tapi sebagai seorang calon raja, Castin merasa punya tanggung jawab untuk menjaga imagenya.
"Kau mau menikahi gadis itu?" tanya Elmer dan Calvin bersamaan.
"Memangnya tidak boleh?" tanya balik Castin.
"Bukannya tidak boleh. Tapi, apa kau sudah tahu seperti apa latar belakang gadis itu?" Dokter Calvin menjawab.
"Aku tahu itu, aku juga akan menunggu hingga penyelidikan selesai dan pelaku penculik putraku terungkap," Delix menjawab dengan santai.
__ADS_1
"Baguslah kalau begitu. Besok aku akan datang ke mansion dan membawa seorang psikiater untukmu," sahut Dokter Calvin.
"Psikiater?"
"Tentu saja. Hyperseks lebih baik ditangani oleh ahlinya."
"Maksudmu aku hyperseks?"
"Iya atau tidak, lihat saja besok."
***
Castin pulang ke rumah sekitar pukul sebelas malam. Saat tiba, Castin menuju kamarnya lebih dulu untuk membersihkan diri. Usai mandi dan telah rapi dengan piyama tidurnya, Castin pun segera turun ke lantai dasar.
Castin melanjutkan perjalanan menuju ke kamar Cleona untuk menjemput putranya, karena malam itu Castin ingin tidur bersama dengan putra semata wayangnya.
Tok, tok, tok!
"Siapa?" tanya Cleona yang baru saja meletakkan dan membaringkan baby di dalam ranjang bayi berukuran besar, luas dan mewah.
"Aku," jawab Castin di luar sana. Mengenali suara itu, Cleona langsung menutup pintu ranjang baby d. Kemudian melangkah cepat menuju pintu dan langsung membukanya.
"Ada apa, Tuan?" tanya Cleona pada Castin yang berdiri di ambang pintu.
"Membawa putraku, tidur bersamaku," kata Castin lugas. Cleona pun langsung memberi jalan pada Castin, kemudian mengekor di belakang Castin yang berjalan cepat menuju ranjang baby d.
"Kapan di tidur?" tanya Castin pada Cleona yang berdiri di sampingnya dengan pakaian lusuh yang sudah berubah warna.
Castin langsung mengalihkan pandangan, bukan karena baju lusuh yang membuat mata sakit. Melainkan karena dua pepaya jumbo yang tercetak sempurna di balik kain tipis yang melekat di tubuh seksi Cleona.
__ADS_1
"Baru saja tidur, Tuan," jawab Cleona.
"Mana ASI-mu?" tanya Castin kembali menoleh pada dua pepaya Cleona yang selalu menggoda.
"Masih di sini, Tuan," jawab Cleona sambil menutup kedua gundukannya dengan telapak tangan.
"Kenapa belum dipindahkan ke botol dot? Apa mau aku membawa kamu secara langsung?" tanya Castin geram. Cleona langsung menggelengkan kepalanya cepat.
"Kalau begitu cepat sedot asimu dan pindahkan ke botol dot," lanjut Castin memberi perintah kepada Cleona. Cleona mengangguk sambil menatap Castin dengan raut wajah ketakutan. Cleona masih belum bergerak karena malu bila Castin masih berada di dalam kamar yang sama dengannya.
"Apalagi yang kamu tunggu? Apa mau aku menyedotnya langsung?" Cleona langsung pergi menuju ranjang, kemudian mengambil alat penyedot asi yang baru dibelinya siang tadi.
Cleona menatap kedua alat berbentuk cekung itu dengan raut wajah kebingungan, "Apa lagi?" tanya Castin yang kini sudah ada tepat di hadapan Cleona.
Cleona reflek mengangkat wajah sambil berkata, "Saya tidak tahu cara menggunakannya, Tuan."
"Bukankah ada buku petunjuk?" tanya Castin.
"Ada, Tuan. Tapi, bahasa Inggris, saya tidak mengerti."
"Berikan padaku," pinta Castin dan Cleona langsung menyerahkan buku petunjuk tersebut kepada Castin.
Castin membacanya sebentar, lalu meletakkannya kembali ketika sudah mengerti cara mengenakannya. "Tuan mau apa?" tanya Cleona reflek menutupi kedua gundukannya.
"Tentu saja memasangnya. Jangan buang-buang waktuku, cepat buka bajumu!"
.
.
__ADS_1
.