
Keesokan harinya, Castin terbangun pagi sekali. Seperti biasa ia sama sekali tak tertidur semalaman karena bayangan tubuh Cleona selalu membayanginya.
Beruntung Calvin sahabatnya akan datang bersama dengan seorang psikiater yang telah dijanjikan. Castin tak sabar ingin diperiksa dan disembuhkan dari bayangan tubuh Cleona yang benar-benar menyiksanya.
Kebetulan hari itu adalah hari sabtu, artinya Castin tak akan pergi ke perusahaan atau ke mana pun. Seharian, Castin benar-benar hanya akan berada di rumah untuk beristirahat.
Usai mandi dan mengenakan pakaian santai, Castin segera keluar dari kamar, menuju ruang makan untuk melahap sarapan yang telah dihidangkan.
"Mana gadis pepaya?" tanya Castin pada kepala pelayan Gina.
Kepala pelayan Gina yang mengerti maksud tuannya langsung menjawab sambil membungkukkan tubuh dengan sopan, "Masih di kamarnya, Tuan."
"Panggil," titah Castin kembali melahap omelettenya.
"Baik, Tuan."
Beberapa menit kemudian, Cleona pun tiba sambil menggendong baby d. Castin memberi perintah kepada kepala pelayan Gina untuk menjaga putranya sebentar, karena Cleona akan sarapan.
"Duduklah," titah Castin, Cleona yang memang sudah kelaparan sejak semalam, langsung saja menjatuhkan tubuhnya di kursi. Cleona terperangah melihat banyaknya makanan lezat yang tersaji di atas meja.
"Makanlah," semula Cleona ragu, tapi ia langsung meraih satu roti isi dan melahapnya dengan terburu-buru. Castin dibuat tercengang.
"Pelan-pelan," protes Castin, Cleona patuh dan melahap rotinya dengan perlahan sesuai perintah Castin.
"Kau mau sekolah?" tanya Castin tiba-tiba tanpa menoleh pada Cleona.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan Castin, Cleona langsung menghentikan makannya, kemudian menaikkan wajahnya menatap Castin dengan mata berkaca-kaca.
Kembali sekolah? Memang tidak pernah terpikirkan lagi oleh Cleona saking mustahilnya. Selain mustahil, Cleona juga merasa trauma, Cleona takut menghadapi untuk bulliying yang sering ia terima. Akan tetapi, jauh dari dalam lubuk hati, Cleona sangat ingin melanjutkan kembali sekolahnya.
"Apa mungkin, Tuan?" tanya Cleona ragu. Tentu saja ragu, ia sudah dikeluarkan secara tak terhormat. Tidak mudah baginya untuk kembali melanjutkan sekolah, meski di sekolah yang lain sekali pun.
"Apa yang tidak bisa aku lakukan? Katakan padaku di mana sekolahmu sebelumnya?" tanya Castin berusaha menahan pandangan matanya agar tak turun ke bawah. Karena kalau sudah turun ke bawah, maka Castin akan kesulitan berkonsentrasi karena pikiran mesumnya akan beraksi.
"Bolehkah saya memilih sekolah yang lain, Tuan?" pinta Cleona penuh harap. Ada banyak trauma yang Cleona dapatkan dari sekolah sebelumnya, ia tak ingin mengulang masa-masa kelam itu.
"Kenapa?" tanya Castin.
"Saya merasa tidak cocok dengan sekolah itu. Kalau bisa, saya mau bersekolah di tempat yang biasa saja, Tuan," balas Cleona menundukkan wajahnya dalam.
"Gadis polos seperti dia, aku yakin dia hamil di luar nikah karena kecelakaan," batin Castin yang hanya tahu bahwa Cleona dikeluarkan dari sekolah karena hamil di luar nikah. Andai Castin tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada Cleona, maka kemungkinan sekolah itu hanya akan tinggal nama.
"Tapi saya takut, Tuan."
"Memangnya di sekolahmu ada setan? Apa hewan buas? Mereka sama-sama manusia sepertimu, bukan? Untuk apa takut pada manusia? Kamu hanya perlu menunjukkan keberanian dan kepercayaan dirimu. Kalau sudah, maka merekalah yang akan berbalik takut kepadamu," terang Castin panjang kali lebar, Cleona mendengarkannya dengan baik.
Castin benar, Cleona akui selama ini ia sangat lemah, sudah saatnya ia menunjukkan keberanian dan juga kepercayaan diri. Bukankah saat ini ia sudah punya sokongan? Castin sangat kaya, bahkan memberikannya kartu hitam ajaib. Apalagi yang perlu Cleona takuti.
"Baiklah, Tuan. Saya akan kembali ke sekolah sebelumnya. Terima kasih banyak atas bantuannya," ucap Cleona dengan tulus.
"Pilihan yang bagus, sekarang cepat habiskan sarapanmu," titah Castin dan Cleona kembali melanjutkan sarapannya.
__ADS_1
Usai sarapan, Castin menuju kamar Cleona, kepala pelayan Gina membawa putranya yang tengah terlelap. Setelah meletakkan baby d di dalam ranjangnya, kepala pelayan Gina pun langsung pamit pergi.
"Mana alat sedot ASI-nya?" tanya Castin pada Cleona yang duduk di ranjang.
"Ada, Tuan," jawab Cleona mengeluarkannya dari dalam laci.
"Ini, Tuan." Castin menerimanya, kemudian membawanya ke atas ranjang.
"Bra-nya?" tanya Castin lagi.
"Ada, Tuan." jawab Cleona pelan dengan kedua pipi yang sudah semerah tomat.
"Ambil dan kenakanlah," titah Castin.
"Di sini, Tuan?" tanya Cleona reflek menutup mulut dengan kedua telapak tangan, Cleona mengumpat lidahnya yang asal bertanya tanpa disaring dulu.
"Di kamar mandi, kalau mau di sini juga tidak apa-apa."
.
.
.
__ADS_1