Duren Bangsawan

Duren Bangsawan
Bab 08 ~ Alat Penyedot ASI


__ADS_3

"Pergi kamu!" Cleona kembali tersungkur di lantai sebuah hotel usai diusir oleh seorang petugas, hanya karena Cleona ingin meminta copy'an video ketika ia dibully oleh Tisya dan dua temannya.


"Apa yang terjadi?" tanya suara baritone yang membuat Cleona berpikir karena seakan mengenali suara yang bersumber dari arah belakangnya itu.


"Siswa perempuan ini menginginkan video rekaman cctv hotel, Tuan." lapornya.


"Kau boleh pergi," usirnya kemudian memutari Cleona dan berjongkok untuk menyamai tinggi tubuhnya dengan Cleona.


"Gadis manis, apa kamu baik-baik saja?" pria itu mengulurkan telapak tangannya kepada Cleona.


Sementara Cleona sudah ketakutan, ia segera menengadah. Benar saja, pria di hadapannya kini adalah pria yang sama yang hampir menabraknya. Cleona menolak bantuan Devil, ia lebih memilih berusaha bangkit seorang diri walau kesulitan.


"Kenapa takut padaku? Aku tidak akan memakanmu. Apa karena pandangan mataku yang tidak bisa dikondisikan ini?" Cleona menundukkan wajahnya, kemudian membalikkan badan siap untuk pergi.


Namun, langkahnya berhenti ketika Devil menahannya, "Lepaskan saya, Tuan." pinta Cleona terdengar pilu.


"Kamu mau rekaman cctv?" Cleona tak lagi peduli, ia menepis kasar tangan Devil, lalu kembali melangkah kakinya.


"Hotel ini milikku. Ikut aku kalau kau rekamannya. Tenanglah, aku tidak akan memakanmu," ungkapan Devil sukses menghentikan langkah kaki Cleona.


Cleona langsung membalikkan badan, dia sangat membutuhkan rekaman cctv itu. Melihat Cleona yang mendekat, Devil tersenyum simpul. Ia juga mendekat, lalu menyeret lembut pergelangan tangan Cleona hingga tiba di ruangan cctv. Cleona kembali bertemu dengan pria yang mengusirnya tadi.


"Rekaman di bagian mana yang kamu inginkan?" tanya Devil pada Cleona yang raut wajahnya terlihat masih ragu.


Cleona sebenarnya tak ingin menerima budi seseorang karena takut dimanfaatkan. Apalagi yang membantunya adalah seseorang dengan tatapan yang seakan menginginkan dirinya. Cleona tak ingin terjebak. Akan tetapi, dia membutuhkan rekaman cctv itu untuk mendapatkan keadilan.


"Di belakang gedung, Tuan." jawab Cleona pada akhirnya memilih menerima bantuan Devil.


"Perlihatkan padaku," titah Devil dan bawahannya langsung memutar rekaman cctv di gedung belakang hotel. Betapa kagetnya Devil kala menyaksikan rekaman itu, ia sangat kaget melihat bagaimana Cleona disiksa hingga tak berdaya.

__ADS_1


"Kamu terluka?" Devil mendekat ingin memeriksa tubuh Cleona. Tapi, Cleona reflek menjauh. Devil pun tetap menjaga jarak aman agar Cleona tak lagi ketakutan padanya.


"Berikan rekaman itu," titah Devil dan bawahannya langsung menyalin rekaman pada sebuah flashdisk. Setelah mendapatkan rekamannya, Devil mengulurkannya kepada Cleona.


Cleona kembali ragu untuk menerimanya, "Anggap saja ini permintaan maaf karena aku telah menabrakmu kemarin," Cleona menatap bola mata Devil lama, seakan mencari kejujuran di mata itu.


"Ambilah, dapatkan keadilan untukmu. Aku yakin kamu bisa. Setelah ini, aku anggap kita impas karena aku tidak akan merasa bersalah lagi karena menabrakmu," lanjut Devil terdengar begitu meyakinkan.


Cleona pun langsung merebut flashdisk itu cepat, kemudian berlari pergi tanpa sempat berterima kasih. Bukankah katanya impas. Setidaknya, ia tak dimanfaatkan dan dijebak.


Cleona menyimpan flashdisk di tempat yang aman. Besok akan dia serahkan kepada wali kelasnya, karena hanya wali kelas lah satu-satunya guru yang Cleona percaya. Selebihnya, satu pun tak ada yang Cleona percayai.


Sebelum pulang ke rumahnya, Cleona mampir ke apotik lebih dulu, untuk membeli alat penyedot ASI yang kemarin sempat tertunda untuk ia beli.


Setelah apotik sepi, barulah Cleona mendekat. "Kak, apa ada alat penyedot ASI?" tanya Cleona pelan karena malu. Beruntung penjaga Apotik meresponnya dengan baik.


"Berapa harganya, Kak?" tanya Cleona.


Sementara Cleona kaget mendengar harganya. "Ada yang lebih murah lagi, Kak?" tanya Cleona.


"Ada, sebentar saya carikan." Cleona sabar menunggu sambil melirik ke belakang, kiri dan kanan.


"Ini, Dek."


"Berapa harganya, Kak?" tanya Cleona lagi.


"Ini yang paling murah, Dek. Harganya lima balas ribu."


Cleona menatap pilu selembar uang terakhirnya, yang hanya berjumlah sepuluh ribu, "Uang saya kurang, Kak. Nanti saya datang lagi, ya, Kak. Saya cari tambahannya dulu. Permisi," ucap Cleona langsung membalikkan badan akan pergi.

__ADS_1


"Tunggu, Dek!" tahannya.


"Iya, Kak." sahut Cleona.


"Kalau boleh tahu, penyedot ASI ini untuk siapa?" tanya penjaga Apotik pelan karena takut Cleona tersinggung.


"Untuk Ibu saya, Kak." bohong Cleona.


"Kalau begitu ambilah, diskon jadi sepuluh ribu untuk ibu kamu."


"Beneran, Kak?" tanya Cleona antusias.


"Tentu saja."


Hari itu Cleona cukup senang karena penjaga Apotik sangat baik kepadanya. Setidaknya di dunia ini masih ada orang baik, Cleona merasa sangat senang.


Cleona berjalan pulang dengan membawa sebuah alat penyedot asi yang akan ia gunakan agar ia tak lagi tersiksa karena payu dara yang membengkak dan sakit.


Di Apotik.


"Apa yang dibeli gadis SMA tadi?"


.


.


.


Duren CEO (Devil Amore)

__ADS_1



__ADS_2