
"Di kamar mandi, kalau mau di sini juga boleh," lanjut Castin sengaja menggoda. Seandainya Cleona adalah gadis yang bar-bar. Maka, Castin sendiri yang akan gila karena merasakan sesak dan pusingnya.
"Di kamar mandi saja," balas Cleona langsung pergi ke kamar mandi sambil membawa bra khusus yang ia simpan di dalam lemari.
Di dalam kamar mandi, Cleona menatap pantulan tubuhnya di cermin. Cleona merasa sangat malu saat membayangkan di mana Castin mengajarkannya memompa ASI, bukankah itu sangat memalukan?
"Cleona," panggil Castin di luar sana.
"Iya, Tuan." sahut Cleona langsung meraih baju lusuh dan langsung memakainya. Setelah itu, Cleona pun keluar dari kamar mandi dan berjalan cepat menuju Castin yang masih duduk di atas ranjang.
Saat Cleona tiba, alat dot dan lainnya sudah Castin siapkan, Cleona hanya tinggal meletakkan kedua alat di payu daranya. "Lepas dulu bajumu, bra tadi agak tertutup juga, kan? Tidak perlu malu padaku." Castin lupa kalau bukan Cleona yang akan malu, melainkan senapannya yang tak sabar untuk bertempur di medan perang.
"Menikah nanti pepaya itu juga akan menjadi milikku, ini adalah proses latihan secara bertahap," lanjut Castin dalam hati.
Atas perintah Castin, Cleona pun segera melepaskan bajunya. Castin hampir saja pingsan kalau tidak segera mengalihkan pandangan. Meski bra itu agak tertutup dan berbeda seperti bra pada umumnya.
Namun, tetap saja belahan dada, ukuran yang sempurna, perut yang datar, pundak putih mulus, semua bagian yang terekspos dapat membuat Castin tak tahan akan hasrat yang terus bergejolak.
"Tempelkan alat ini ke payu daramu, bagian ini adalah tempat pu tingnya," jelas Castin tanpa menoleh dan berpura-pura mengalihkan pandangan pada putranya.
"Sudah, Tuan."
Castin terpaksa menoleh pada Cleona yang seksi, ia berusaha menahan diri agar tak khilaf seperti semalam. Lihatlah bagaimana ia terus mengubah gaya duduk, ja kun yang turun naik, serta keringat dingin yang membasahi wajah rupawannya. Castin benar-benar menahan diri.
"Baiklah, aku akan memulainya," jawab Castin langsung menekan angka sembilan.
"Aaakh!" teriak Cleona langsung terbaring di kasur karena kesakitan.
__ADS_1
Castin yang kaget, reflek langsung menekan tombol off alat sedot asi, kemudian menghampiri Cleona yang sudah tak lagi kesakitan.
"Kamu kenapa?" tanya Castin khawatir sambil membantu Cleona kembali duduk.
"Sa-kit, seperti ter-tarik, Tuan," jawab Cleona terbata.
"Seperti tertarik!" sahut Castin kaget dan reflek akan memeriksanya.
"Tuan mau apa?" Cleona langsung menjauhkan dirinya ketika Castin ingin menyentuh payu daranya lagi.
"Apa luka? lecet? Atau berdarah? Itu tidak boleh terjadi," balas Castin dengan wajah paniknya.
"Tidak apa-apa, Tuan. Sudah tidak sakit lagi, saya sudah baik-baik saja," terang Cleona membuat raut wajah Castin kembali tenang.
"Hampir saja aku kehilangan pepaya sebelum merasakannya," gumam Castin mengelus dadanya lega.
"Maksud Tuan?" tanya Cleona yang samar-samar mendengar ucapan Castin.
"Saya baik-baik saja, Tuan."
"Syukurlah, sekarang akan aku mulai dari mode satu," ucap Castin dan Cleona langsung menganggukkan kepala cepat. Ia ingin mengakhiri adegan itu sesegera mungkin. Sangat memalukan bagi seorang Cleona. Kalau ia tahu pompa asi elektrik sesulit itu digunakan, maka Cleona akan lebih memilih pompa asi yang biasa dan murah saja.
"Kamu siap?" tanya Castin.
"Siap, Tuan." tegas Cleona menghela napas dalam karena takut merasakan sakit seperti sebelumnya.
"Baik, aku mulai," Castin mulai menekan tombol dengan tulisan mode satu.
__ADS_1
"Bagaimana? Apa masih terasa tertarik? Sakit tidak?"
"Ada rasa tertarik, tapi tidak sakit," jawab Cleona jujur.
"Kalau begitu aku tidak akan menaikkan level/mode nya. Di buku panduan juga tertulis saran menggunakan mode pertama saat penggunaan pertama kali. Aku benar-benar lupa dan tidak sengaja menyakitimu," Castin masih merasa bersalah.
"Saya tidak apa-apa, Tuan."
Saat sudah mendapatkan satu botol dot penuh dan besar, Castin pun langsung menyudahi karena khawatir pada kondisi Cleona.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Castin sedikit ngilu saat melihat betapa banyaknya cairan ASI yang Cleona keluarkan untuk putranya.
"Se-dikit le-mas, Tu-an," lirih Cleona dengan wajah pucatnya.
Cleona ingat dahulu ia tak pernah merasa lemas dan kelelahan saat memompa ASI mau sebanyak apa pun itu. Tapi, entah kenapa akhir-akhir ini Cleona sering merasa lelah. Bahkan, saat melakukan hal-hal ringan seperti menggendong baby d. Namun, sepertinya hal itu terjadi karena ia hanya hidup dengan satu ginjal.
Castin langsung melepaskan alat penyedot asi yang Cleona berikan padanya. Castin yang khawatir langsung mendekati Cleona yang tampak tak berdaya.
"Kamu kenapa?"
"Sa ... Saya ....
.
.
.
__ADS_1
Othor Demam campak, Guys๐ช. Selain degan (kelapa muda) apalagi ya biar keluar campaknya, kalau ada yang tahu minta sarannya, ya, Guys๐. Demam tapi tetap nulis demi kalian loh๐ Othor minta votenya aja, Guys. Biar semangat nulisnya๐.
Makasih dukungan ikhlasnya, semoga kalian diberikan kesehatan. Calangeo semuanya ๐๐๐๐