Duren Bangsawan

Duren Bangsawan
Bab 39 ~ Duren vs Pepaya


__ADS_3

"Saya mau menyusui," jawab Cleona menahan rasa malu demi bayinya.


"Apa?" sahut Asisten Helder kaget, bagaimana ia tidak kaget. Sekarang tidak hanya tuannya yang terikat dengan Cleona, tetapi juga putra mahkota berikutnya.


"Kau punya Asi?" tanya Castin mengerutkan dahi.


"Iya."


"Helder, kau keluarlah," usir Castin.


"Baik, Tuan." Jawab Asisten Helder langsung keluar dari ruangan dengan ekspresi yang masih tercengang. Tak lupa Helder juga membawa pengasuh sebelumnya.


Saat ini tinggallah Cleona, Castin dan baby D. "Tuan juga," usir Cleona.


"Aku tak akan melihat, sekarang lakukanlah," Castin tak pergi keluar dari ruangan, tapi ia langsung membalikan badannya. Castin tak ingin kehilangan bayinya untuk yang kedua kalinya.


Castin semakin dibuat heran dengan bayinya yang begitu senang serta nyaman akan kehadiran Cleona. Castin kehilangan bayinya selama beberapa minggu, bayinya terkenal begitu rewel dan sulit akrab dengan siapa pun. Sulit Castin percaya kalau putranya begitu ketergantungan terhadap Cleona hanya dalam waktu yang singkat.


"Apa Tuan yang menabrak saya?"


"Lebih tepatnya Asisten Helder lah yang menabrakmu karena dialah yang mengemudikan mobil. Tapi, yang salah adalah aku, karena aku yang memintanya menaikkan kecepatan mobil."


"Terima kasih karena sudah membawa saya ke rumah sakit."


"Sudah seharusnya."


"Oh iya, Tuan. Tas saya ada di mana?" tanya Cleona pada Castin yang membelakanginya.


"Nanti akan aku tanyakan kepada asistenku."


"Sudah, Sayang?"


"Sayang?" tanya Castin seketika salah tingkah.

__ADS_1


"Sudah kenyang, ya?" tanya Cleona pada baby D.


Castin pun langsung membalikkan badan karena mengira Cleona sudah selesai menyusui bayinya.


"Tuan!" bentak Cleona langsung menutup dadanya yang masih terbuka.


"Maaf." Castin mengerjabkan mata berkali-kali sambil menggelengkan kepalanya agar kembali waras. Namun, bayangan pepaya jumbo yang menjuntai menggoda terus mendatanginya.


Sementara Cleona langsung menutup bajunya. "Sudah?" tanya Castin tanpa menoleh.


"Sudah." jawab Cleona pelan dan Castin langsung membalikkan badan. Castin cukup kaget melihat interaksi Cleona dan baby D.


"Da da da da," jawab baby D menggemaskan. Castin tercengang.


"Kalau sudah, sekarang bobok, ya."


"Ya ya ya ya," jawabnya patuh dan langsung memejamkan mata, Castin ternganga Melihatnya, baby D yang tadinya begitu rewel, kini begitu penurut dan patuh kepada Cleona.


Melihat bayinya yang terlelap, Castin pun mendekat. Namun, tangannya langsung Cleona tepis ketika Castin ingin mengambil bayinya.


"Tuan mau apa?" tanya Cleona tak mengizinkan Castin mengambil bayinya. Kasihan dengan kondisi Cleona yang belum sepenuhnya pulih, Castin lebih memilih keluar dan membiarkan putranya bersama Cleona.


***


"Sekarang bagaimana, Tuan?" tanya Asisten Helder.


"Pepaya jumbo terjuntai tadi yang bagaimana!" sahut Castin tanpa sadar.


"Hah? Maksud, Tuan?"


"Kamu bertanya apa tadi?" ulang Castin.


"Sekarang apa yang akan Tuan lakukan?

__ADS_1


"Memangnya apa yang akan aku lakukan?" tanya balik Castin.


"Tuan sudah terikat dengan gadis itu," Asisten Helder mengingatkan.


"Terus?" dengan santainya Castin duduk di kursi yang ada di sana.


"Kalau pejabat lain tahu, mereka pasti akan memaksa Tuan untuk menikahi gadis itu," balas Asisten Helder.


"Lalu?" Castin mengeluarkan ponselnya, lalu memeriksa beberapa email yang masuk.


"Tuan ... tidak mungkin menikahi gadis itu, bukan?"


"Kenapa tidak mungkin? Bukankah dia juga berdarah bangsawan?" sahut Castin masih tetap santai, Asisten Helder dibuat tercengang.


"Tuan mau menikahi gadis itu?"


"Bukankah aku harus bertanggung jawab? Kalau masalah sekecil ini aku tidak bisa bertanggung jawab, bagaimana aku bisa bertanggung jawab atas rakyatku?" Asisten Helder benar-benar terdiam.


"Cari tahu siapa sebenarnya gadis Pepaya itu," titah Castin.


"Baik, Tuan."


"Tunggu ... Pepaya?" lanjut Asisten Helder bingung.


"Gila!" kesal Castin langsung bangkit lalu melangkah pergi sambil memukul pelan kepalanya. Asisten Helder menatap kepergian tuannya dengan ekspresi heran.


Author said : Duren Jadi Gila Karena Pepaya Jumbo Menjuntai🙊🙃


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2