Duren Bangsawan

Duren Bangsawan
Bab 72 ~ Fakta Tantang Cleona


__ADS_3

"Tidak mungkin ... Dia masih—" Castin membulatkan mata sempurna kala kaget dengan kenyataan di depan matanya kini. Castin kembali maju mendekati Cleona yang tadinya ia jauhi. Dengan perlahan Castin membuka lebar kedua paha Cleona, lalu memeriksa bagian inti berwarna pink itu dengan sangat teliti.


"Astaga! Dia benar-benar masih perawan!" tegas Castin tercengang, tulang-tulangnya tiba-tiba melemas, hasrat yang tadinya menggebu-gebu seketika sirna. Bahkan, senjata senapannya juga ikut tumbang saking kagetnya.


Castin menatap pemandangan indah itu dengan perasaan tak karuan, entah kenapa Castin merasa bersalah. Merasa bersalah bukan hanya karena kelakuannya saat ini, melainkan karena tuduhannya kepada Cleona yang ternyata adalah kesalahan besar.


Castin mengusap wajah dan rambut kasar seraya memandangi pemandangan indah itu sambil berkata, "Untung baru pucuk kepala. Syukurlah, hampir saja aku menerobosnya," ucap Castin bernapas lega sambil mengelus dada. Castin sangat bersyukur kala melihat bagian inti Cleona yang masih tersegel.


Castin segera turun dari ranjang, lalu mengenakan pakaiannya dengan cepat. Castin membiarkan Cleona yang terus menggeliat tak karuan dengan tubuh polos yang menggoda.


Castin tak menghiraukan Cleona, ia meraih ponsel di atas nakas, lalu menghubungi Dokter Nara yang tak lain adalah Asisten Dokter Calvin. Castin sengaja menghubungi dokter Nara karena yakin bahwa dokter Calvin tak akan mau membantunya.


"Hallo, Tuan Castin. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya dokter Nara di seberang sana.


"Kamu di mana?" tanya Castin guna memastikan dokter Nara tidak sedang bersama dengan dokter Calvin.


"Di rumah, Tuan." jawab dokter Nara jujur.


"Baguslah. Katakan padaku apakah kau punya pil atau apa pun itu yang dapat menurunkan gairah ****?" tanya Castin to the point.


"Ada, Tuan. Kalau sedang dalam kondisi yang sangat terdesak, tuan bisa menggunakan pil hipertensi kalau ada. Coba tuan cek di dalam kotak p3k karena di sana saya sudah menyiapkan segala jenis pil dan obat," saran dokter Nara yang memang bertugas mengurus persediaan obat dan lain-lain di istana utama mau pun istana kedua.


"Baiklah," Castin langsung memutuskan panggilan sepihak, lalu berlari menuju nakas, mengambil kotak p3k, mengacak-acak isinya hingga akhirnya berhasil menemukan pil khusus hipertensi.


Tanpa berlama-lama, Castin mengeluarkan sebutir pil, mengambil segelas air putih di atas nakas. Kemudian membantu Cleona meminumnya. Meski kesulitan, tapi pada akhirnya Castin berhasil membuat Cleona menelan pil tersebut.


Castin duduk di pinggir ranjang, menatap pemandangan indah di depan matanya dengan seksama. Pemandangan indah tubuh Cleona memang tak pernah gagal menggodanya.

__ADS_1


Namun, Castin berusaha untuk tetap menyingkirkan nafsu itu. Yang paling mengganjal saat ini adalah rasa bersalahnya terhadap Cleona.


Beberapa menit waktu berlalu, Cleona terlihat mulai tenang. Tak lagi menggeliat bak cacing kepanasan seperti sebelumnya. Castin menarik selimut, lalu menutupi seluruh tubuh polos Cleona.


Setelah diselimuti, Cleona benar-benar telah tenang meski belum sadarkan diri. Sepertinya karena kelelahan Cleona langsung menutup mata dan terlelap sangat nyenyak.


Huff ....


Castin menghela napas panjang.


"Aku tidak tahu harus senang atau sedih, Cleona. Aku benar-benar bodoh karena hampir saja menyia-nyiakan berlian yang indah luar dalam seperti dirimu," sesal Castin menatap Cleona dalam.


"Berdarah bangsawan dengan mahkota suci yang masih terjaga. Kamu sangat misterius. Apa lagi yang tidak aku ketahui tentangmu?" ada begitu banyak pertanyaan yang membuat Castin begitu penasaran akan sosok Cleona yang sebenarnya.


Sepersekian detik kemudian, Castin bangkit lalu berpindah menuju sofa. Malam itu Castin terpaksa tidur di sofa untuk menjaga kewarasannya agar tak khilaf.


"Iya, Tuan." jawab Asisten Helder di seberang sana.


"Kau di mana?" tanya Castin memastikan lebih dulu, takut sang asisten sedang bersama dengan adiknya, Anna.


"Di kamar tamu, Tuan. Nona Anna melarang saya pulang," terangnya.


"Anna di mana?"


"Barusan sudah pergi, Tuan."


"Apa informasi tentang Cleona belum kamu dapatkan?" tanya Castin langsung ke inti pembahasan.

__ADS_1


"Ada beberapa laporan dari pengawal yang saya terima. Kemarin saya sudah mengirimkannya ke email tuan. Tapi, laporan yang didapat bukan tentang misteri nona yang sebenarnya," jelas Asisten Helder yang rupanya sudah mengirimkan laporan data tentang Cleona.


"Bagus, tetap cari tahu sosok Cleona yang sebenarnya. Cari tahu juga tentang jahitan operasi di perutnya serta cek dua milyar miliknya. Bila sudah ditemukan, langsung kirimkan laporannya padaku," balas Castin.


"Baik, Tuan."


Setelah mengakhiri panggilan, Castin bergegas membuka email. Bukan di ponsel, melainkan di komputer yang ada di ruang kerja yang masih berada di kamarnya, hanya bersekat dinding saja.


Duduk di kursi di hadapan komputer, Castin mulai membuka email yang dikirimkan oleh Asisten Helder. Ketika ia klik, muncullah beberapa data lengkap tentang Cleona.


Mulai dari nama, tanggal lahir, statusnya sebagai murid sebatang kara, alamat tempat tinggal yang dilengkapi dengan gambar kontrakkan, serta beberapa fakta lainnya seperti alasan dikeluarkannya Cleona dari sekolah.


Berdasarkan data yang di dapat dari sekolah, Cleona dikeluarkan dari sekolah karena mempunyai seorang bayi serta menjadi aktris film dewasa.


CRACK!....


Komputer malang itu seketika tergeletak di lantai dalam keadaan pecah belah usai Castin jatuhkan dengan kasar. Castin bangkit dengan wajah merah padam dan urat leher yang mengencang.


Castin keluar dari ruangan kerja, kemudian kembali ke sofa dan segera merebahkan tubuhnya di sana. Castin berusaha meredam emosinya, entah kenapa ia begitu murka membaca alasan dikeluarkannya Cleona dari sekolah. Karena sudah termakan emosi, Castin tak sempat membaca lanjutan dari email yang Asisten Helder kirimkan.


"Hamil di luar nikah, aktris film dewasa. Yang benar saja, mana mungkin ada wanita hamil yang jelas-jelas masih virgin," oceh Castin dengan suara yang ia tahan agar tak mengganggu istirahat Cleona.


Castin memilih menyusul Cleona yang telah lebih dulu terlelap, Castin tak mau ambil pusing, ia akan langsung menanyakan segalanya kepada Cleona esok hari. Termasuk fakta tentang Cleona yang memiliki asi.


***


Keesokan paginya.

__ADS_1


"Aaaakkkhhh!....


__ADS_2