Duren Bangsawan

Duren Bangsawan
Bab 98 ~ Menikah Sekarang!


__ADS_3

Castin tak beranjak dari ruang rawat inap di mana Cleona tengah terbaring lemah di atas sebuah brankar. Castin tetap di sana sepanjang waktu. Meski jawaban dokter selalu sama, tapi Castin tak henti terus bertanya kapan Cleona akan sadar.


Sore menjelang malam barulah Cleona sadarkan diri, Castin sangat senang dan bahagia. Ia menyambut Cleona dengan penuh suka cita. Namun, ekspresi wajah Cleona yang datar membuat Castin merasa sangat khawatir.


Seringnya menjadi korban pelecahan membuatnya trauma. Dokter mengatakan kalau selama ini Cleona terus menahannya, tapi kejadian di camping adalah puncaknya. Di mana Cleona tak lagi dapat menahan.


Cleona memandang ke sembarang arah, tatapannya lurus ke depan. Mata sembabnya sesekali berkedip pelan lalu meneteskan air mata. Castin mengepalkan tangan hingga urat-uratnya mengencang, wajahnya memerah, dengan tatapan mata penuh amarah. Rasanya hukuman yang ia berikan kepada banyaknya pelaku tak membuatnya merasa puas.


"Aku pastikan trauma ini adalah terakhir kalinya, setelah ini aku tidak akan membiarkan seorang pun menyakitimu. Aku berjanji dan bersumpah akan melindungimu dengan NYAWAKU."


Castin menekan kata nyawa, ia benar-benar serius dengan sumpahnya. Apa pun yang terjadi ia akan melindungi Cleona dengan nyawanya.


Mendengar sumpah Castin, air mata Cleona mengalir semakin deras. Castin mengusapnya lembut sambil berkata, "Jangan menangis, Sayang. Mereka belum menyentuhmu sama sekali. Kamu adalah seorang Cleona yang suci dan bersih, terima kasih karena lalu menjaga dirimu untukku."


Castin senang karena Cleona tak ketakutan padanya seperti yang dokter katakan. Sepertinya elusan Castin mampu membuat Cleona merasa tenang dan aman hingga akhirnya kembali terlelap.


"Pasti sangat lelah. Istirahatlah, aku akan menjagamu," Castin masih mengelus lembut kening Cleona.


Setelah Cleona tidur dengan nyenyak, Castin meraba saku jas kemudian meraih ponselnya. Castin menghubungi sang mama yang masih di luar negeri menemani raja Skylos yang sakit parah.


Sepersekian detik kemudian, panggilan Castin diangkat langsung oleh sang mama tercinta. "Ada apa, Sayang? Tumben telpon mama," tanya ratu Diona.


"Kalau Castin nikah sekarang bisa, Ma?"

__ADS_1


"Uhuk!" terdengar suara sang ratu terbatuk-batuk di seberang sana.


"Mama baik-baik saja?"


"Kau ini! Hampir saja Mama mati karena kaget," kesal ratu Diona mengumpat putranya sendiri.


"Jadi bagaimana, Ma? Bisa, kan?" lanjut Castin lagi.


"Besok mama dan papa pulang. Tunggu sampai besok, jangan menikah sekarang," tahan ratu Diona.


"Ya tidak sekarang juga, Ma."


"Tadi kamu bilang sekarang," balas ratu Diona geram.


"Kondisinya sudah mulai membaik, Sayang. Tapi, papa dan mama akan membawanya ke Oesteria karena di sini terlalu berbahaya," jelas ratu Diona sedih.


"Bagaimana tidak bahaya, musuh di dalam selimut. Bukannya dijaga, aku yakin mereka malah sedang menunggu berita kematian raja Skylos," sambung Castin yang tahu kronologi raja Skylos.


"Karena itulah papa dan mama sepakat untuk membawanya ke Oesteria, setidaknya dia lebih aman."


"Baiklah, Ma. Castin tunggu kedatangannya besok."


"Sipp, Sayang."

__ADS_1


***


Keesokan harinya.


"Kak Castin," Castin reflek langsung bangun kala mendengar suara sendu Cleona yang memanggilnya.


Castin kira ia hanya berhalusinasi, tapi ternyata Cleona benar-benar memanggil namanya. Castin sangat senang karena itu artinya kondisi Cleona sudah membaik. Trauma yang ia alami sudah dilupakan berkat bantuan dokter. Meski hanya sementara, karena kalau sampai Cleona mengalami pelecahan lagi, maka trauma itu akan kembali lagi.


"Iya, Sayang. Bagaimana perasaanmu? Apa sudah lebih baik?" tanya Castin dengan wajah khawatirnya, ia memperbaiki anak rambut Cleona dengan penuh perhatian.


"Baby d mana?" tanya Cleona dengan ringisan wajah.


"Baby d aman, Sayang. Ada banyak pelayan yang menjaganya, tapi kamu kenapa, Sayang?" tanya Castin khawatir kala melihat Cleona seperti menahan sakit.


"Pa-payu-daraku sakit," jawab Cleona terbata. Cleona terbangun dan kesakitan karena payu daranya yang membengkak.


"Astaga, aku tidak membawa alat pompa asi. Apa aku bantu saja seperti di lift waktu itu?" respon Castin secepat kilat. Adegan panas saat di dalam lift sepertinya sudah menari-nari dalam benaknya.


"Apa tidak ada cara lain? Tidakkah dokter dapat membantu?" tanya Cleona sudah tak tahan.


"Kita di rumah sakit kerajaan, Sayang. Dokter di sini semua laki-laki," bohong Castin. Rumah sakit kerajaan lebih canggih daripada rumah sakit ternama di kota. Semuanya ada di sana, termasuk dokter wanita dan alat pompa asi.


"Kalau begitu tolong aku," pinta Cleona dengan air mata yang sudah mengalir.

__ADS_1


"Dengan senang hati, Sayang."


__ADS_2