
"Pepaya?" tanya Dokter Nara yang tak mengerti.
"Maksudku payu daranya, tadi dia hampir pingsan setelah disedot ASI-nya," ralat Castin menerangkan.
"Oh begitu, mari saya periksa dulu payu dara Nona." Cleona mengalihkan pandangan pada Castin. Castin langsung membalikan badan.
Cleona pun membuka bajunya, dan dokter mulai memeriksa payu dara Cleona, "Apa yang terjadi, Nara? Tadi sempat tertarik," tanya Castin penasaran, ia masih membalikkan badannya.
"Baik-baik saja, Tuan. Hanya sedikit lecet, tapi sudah saya oleskan salep," jawab Dokter Nara usai memeriksa payu dara Cleona. Cleona langsung memasang kembali bajunya.
"Sudah?" tanya Castin.
"Sudah selesai, Tuan." jawab Dokter Nara dan Castin membalikkan badan menatap Dokter Nara.
"Benarkah baik-baik saja?" tanya Castin lagi.
"Benar, Tuan. Tapi, lain kali saya sarankan sedot asi secukupnya saja, jangan sampai benar-benar kering. Saya akan berikan suplemen pelancar asi," terang Dokter Nara yang sibuk menyiapkan suplemen khusus untuk Cleona.
"Ini suplemennya, di minum tiga kali sehari setiap habis makan," jelasnya. Cleona langsung menyambut suplemen dalam bentuk pil itu.
Usai memberikan suplemen, dokter Nara pun langsung pamit, Castin mengantarkan Dokter Nara hingga sampai di pintu.
"Tadi sudah makan, bukan? Langsung minum saja suplemennya," titah Castin dan Cleona pun melakukannya.
"Sekarang istirahatlah, jangan pikirkan apa pun. Pokoknya kamu harus selalu sehat," pesan Castin sebelum pergi. Cleona hanya menganggukkan kepala. Cleona paham perhatian yang Castin berikan hanya demi ASI, bukan dirinya. Beberapa menit kemudian, Cleona benar-benar terlelap karena ngantuk bercampur lelah.
__ADS_1
Sore hari itu barulah Cleona terbangun dari tidurnya yang panjang. Cleona bangkit, kemudian langsung menuju kamar mandi guna membersihkan tubuhnya. Usai membersihkan diri, Cleona menuju lemari, membukanya, lalu mengambil dan bergegas mengenakan pakaiannya yang lusuh.
"Pasti karena suplemen yang dokter berikan," keluh Cleona yang kebingungan karena ASI-nya terus mengalir lebih deras dari biasanya.
"Aku harus sedot ASI-nya lebih dulu, sebelum membengkak dan sakit," gumam Cleona menuju ranjang sambil membawa alat penyedot asi. Setelah diajarkan oleh Castin, Cleona yakin ia sudah bisa menggunakannya.
Tok, tok, tok!
Namun, suara ketukan pintu mengurungkan niatnya, Cleona pun bangkit dan berjalan menuju pintu, lalu membukanya.
"Maaf karena kedatangan saya sudah mengganggu waktu istirahat, Nona," mohon pelayan Mumu sopan.
"Tidak mengganggu sama sekali, Kak. Kalau boleh tahu ada masalah apa, ya?" tanya Cleona penasaran.
"Tuan Castin meminta saya untuk memanggil Nona," jawab pelayan Mumu.
"Mari saya antar," ajak Pelayan Mumu.
"Baiklah," Cleona mengekor di belakang pelayan Mumu hingga tiba di ruang keluarga.
"Tuan memanggil saya?" tanya Cleona berdiri di hadapan Castin yang duduk di sofa dengan segala ketampanannya.
"Apa kamu tidak punya pakaian lain?" tanya Castin tanpa merespon pertanyaan Cleona sebelumnya lebih dulu.
"Ada, Tuan. Saya simpan dalam lemari di kamar," jawab Cleona polos.
__ADS_1
"Maksudku pakaian yang lain, yang lebih layak," balas Castin.
"Ini layak, Tuan," sahut Cleona sambil memperlihatkan pakaian yang melekat di tubuhnya, pakaian yang Cleona kenakan memang sangat memprihatinkan. Sudah berubah warna dan bahkan sobek di beberapa bagian.
"Ikut aku," ajak Castin, tapi Cleona menahan kakinya agar tak turut melangkah ketika Castin menggenggam pergelangan tangannya, akan membawanya pergi.
"Ke mana, Tuan?" tanya Cleona ragu.
"Akan aku tunjukkan padamu mana saja pakaian yang layak dan mana yang tidak layak," sahut Castin menatap Cleona serius.
"Baby d?" tanya Cleona lagi.
"Aman. Lagipula asimu juga masih banyak," kali ini Cleona pun pasrah dan tak dapat lagi menolak ketika Castin menyeretnya hingga masuk ke dalam mobil.
"Ke mana, Tuan?" tanya Asisten Helder yang berganti profesi sebagai supir.
"Mall."
.
.
.
__ADS_1
A : Tampan amat sih bang, heran dah😒. Buatnya gimana, sih?🤔.
C : Lihat sendiri nanti kalau udah adegan Panen Pepaya, Bajak Sawah😌