
Aaakhh!
Pekik Cleona saat tak sengaja menginjak ujung handuk mini yang melingkar di tubuhnya. Karena tak bisa menjaga keseimbangan, Cleona pun terjatuh dan mendarat tepat dalam pelukan Castin dalam keadaan telan jang bulat.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Castin menatap Cleona khawatir, perasaan khawatir yang teramat sangat membuatnya tak menyadari bagaimana kondisi tubuh Cleona saat ini.
"Sa-saya—" Cleona menunduk untuk memeriksa keadaan tubuhnya. Akan tetapi, ia justru dibuat tercengang kala melihat tubuh polosnya yang berada dalam gendongan Castin. Castin mengerutkan alis heran, karena penasaran apa yang membaut Cleona tercengang, Castin pun ikut menoleh ke bawah.
"Tidak!" teriak Cleona langsung menutup mata Castin dengan kedua telapak tangannya.
Alhasil, Castin tak sempat melihat pemandangan indah tersebut. Namun, ia dapat merasakan tangannya yang langsung bersentuhan dengan kulit tubuh Cleona yang halus. Karena hal itu Castin sudah mendapatkan jawaban kenapa Cleona kaget. Sekelebat bayangan indah tubuh Cleona mulai menari-nari di benaknya, Castin menelan saliva bersusah payah.
"Bagaimana aku bisa melihat jalan kalau mataku kamu tutup?" protes Castin yang masih punya banyak tenaga untuk menggendong Cleona sampai kapan pun. Namun, ia tak dapat melihat hingga tak bisa melakukan apa apa.
"Turunkan saya, Tuan. Tapi jangan melihat," pinta Cleona.
"Mataku kamu tutup, Cleona?" geram Castin.
"Ya sudah, turunkan saya," pinta Cleona lagi dan Castin pun langsung menurunkannya secara perlahan.
Cleona berdiri di hadapan Castin, ia berjinjit untuk menyamai tingginya dengan Castin, agar tetap bisa menutup mata pria yang sedang berusaha menahan hasratnya itu.
"Tuan, tolong membungkuklah sedikit," mohon Cleona dan Castin pun segera melakukannya.
"Biarkan aku menutup mataku sendiri, atau aku bisa membalikkan badanku," saran Castin.
"Begini saja tuan," Cleona tak percaya Castin akan melakukan itu.
Sambil menutupi mata Castin, Cleona berusaha meraih handuk dengan salah satu kaki. Bukannya mendapatkan handuk tersebut, tapi tubuh Cleona justru oleng dan kembali jatuh ke dalam pelukan Castin. Dan kali ini, Castin dapat melihat pemandangan indah itu dengan leluasa.
Cleona reflek mendorong Castin hingga menjauh darinya. Cleona membalikan badan, lalu menutup wajahnya malu. Otaknya mendadak bug, Cleona tak tahu harus melakukan apa.
Sementara Castin menghela napas kasar. Pemandangan rambut panjang bergelombang, pundak yang indah, punggung yang mulus, dan dua bongkahan berukuran tak biasa, serta kedua kaki yang jenjang. Semua pemandangan indah itu mampu membuat Castin terbuai.
Sepersekian detik kemudian, Castin menggelengkan kepala dan berusaha menjaga kewarasannya. Menghela napas berat, Castin pun mulai berjalan mendekat pada Cleona yang membelakanginya. Castin meraih handuk yang tergeletak di lantai, kemudian membalutkannya ke tubuh polos Cleona.
Cleona memegang ujung handuknya erat agar tak lagi melorot, kepalanya menunduk dalam untuk menyembunyikan kedua pipi yang memerah karena malu.
"Jangan seceroboh ini saat bersama pria lain," tegas Castin memaksa.
"Kenakan pakaianmu, aku akan menunggu di luar," lanjut Castin seraya memposisikan dua buah goodie bag berisi dress beserta dalaman sekaligus heels dengan warna senada yang ia letakkan di hadapan Cleona. Setelahnya, Castin langsung keluar dari walk in closet.
__ADS_1
Setelah kepergian Castin, Cleona mengangkat wajah sambil bergumam, "Benar-benar sial."
***
Duduk di sofa kamar, Castin tak bisa menahan bibirnya yang sedari tadi melengkung membentuk senyuman indah. Meski tersiksa dengan hasrat yang terus menggebu-gebu, tapi Castin senang karena sudah menemukan wanita pendamping hidupnya. Castin tak akan menyia-nyiakan wanita sempurna seperti Cleona.
"Benar-benar beruntung."
Beberapa menit kemudian, pintu pun terbuka. Cleona muncul dengan wajah cantik dan natural tanpa polesan make up dan tubuh seksi ideal yang selalu sukses membuat Castin tergoda.
"Siap?" tanya Castin yang juga rapi dan tampan dengan setelan jas seperti biasa.
"Siap, Tuan. Terima kasih untuk pakaiannya," balas Cleona tulus dengan kedua pipi yang masih memerah karena malu. Castin mengangguk lalu menggandeng Cleona menuju lift untuk turun ke lantai dasar.
Setelah sampai di dalam lift barulah Castin melepaskan tangan mungil Cleona dari genggamannya. "Oh iya, pakai ini," ujar Castin seraya melingkarkan sebuah syal ke leher jenjang Cleona.
Cleoan menolah ke samping untuk menghindari kontak mata dengan Castin yang hanya berjarak lima sentimeter dari wajahnya. Setelah selesai, barulah Cleona menatap Castin sambil bertanya, "Ini untuk apa, Tuan?"
"Kalau mamaku bertanya 'kenapa', jawab saja karena merah digigit serangga," balas Castin santai.
"Wanita ini apa tidak bercermin?" batin Castin heran karena Cleona tak menyadari ada banyak tanda kepemilikan di lehernya.
"Kenapa?" tanya Cleona lagi karena tak mengerti.
"Baik, Tuan."
Ting!
Lift terbuka lebar, Castin kembali menggandeng Cleona hingga menuju ke ruang makan yang di sana sudah ada sang mama dan juga adiknya yaitu Anna.
"Akhirnya kakak datang juga," sambut Anna, Castin mengabaikan.
"Bagaimana tidur kalian berdua, Sayang?" tanya ratu Diona ramah.
"Nyenyak, Nyonya," jawab Cleona yang saat ini dituntun duduk oleh Castin. Castin sengaja duduk di samping Anna, sementara Cleona di sampingnya.
"Jangan Nyonya dong, panggil saya Mama," pinta ratu Diona seraya tersenyum menatap Cleona.
"Ba-baik, Ma-ma," ralat Cleona kaku.
"Kaka ipar kenapa pakai syal?" rupanya Anna yang bertanya.
__ADS_1
"Memerah digigit serangga," jawab Cleona sesuai yang Castin perintahkan.
"Ohh," sahut Anna menahan tawa, Castin menatap Anna tajam.
"Apa kepalamu masih pusing, Sayang? Semalam mama sudah hubungi dokter, tapi ternyata ada kecelakaan beruntun, jadi para dokter tidak bisa datang," terangnya membuat alasan.
"Cleona sudah baik-baik saja, Ma." Castin menjawab lebih dulu sebelum Cleona.
"Syukurlah kalau begitu, kita mulai sarapannya." Mereka pun mulai melahap sarapan masing-masing yang sudah tersaji di atas meja.
"Papa belum pulang, Ma?" tanya Castin sambil melahap makanannya.
"Keadaan raja Skylos semakin memburuk, jadi papamu akan menemaninya sampai membaik. Malam ini mama juga akan menyusul. Untuk itu mama titip Anna padamu. Titip Cleona juga, kamu tidak boleh melukainya sedikitpun," pesan ratu Diona menjelaskan dengan ekspresi seriusnya.
Mendengar itu, Castin langsung menoleh pada sang adik di sebelahnya. Anna tersenyum manis, tentu saja ia senang tinggal di istana kedua bersama kakaknya. Karena itu artinya Anna akan sering bertemu dengan Asisten Helder.
"Sialan! Bahaya kalau wanita ular ini tinggal bersamaku, bisa-bisa Cleona ia berikan obat perang sang setiap hari," batin Castin kesal sambil membalas senyuman sang adik dengan tatapan mata elangnya. Namun, bukan Anna namanya kalau takut.
"Baik, Ma. Jangan khawatir." jawab Castin yakin.
"Anna, kamu jangan macam-macam. Ingat, mama penggal kepalamu kalau berani macam-macam," ancam ratu Diona yang mengerti isi kepala sang putri.
"Tenang saja, Ma. Anna masih mau menikah, jadi tidak akan mencari masalah lalu mama penggal," ceplosnya membuat Cleona menahan tawa.
"Jaga adikmu, Castin."
"Baik, Ma," jawab Castin.
Anna tersenyum smirk dengan segala ide liciknya.
.
.
.
Babnya panjang dan gak gantung kan, Guys🙌.
Selamat hari Senin, semangat menjalankan aktivitas🌷. Jangan lupa vote dan komennya yahhh😘
__ADS_1
Dari penampakannya aja udah keliatan kalau duren satu ini benar-benar manis🤤. Setuju gak, nih?🧐