
"Setelah itu, nona mengorbankan ginjalnya untuk menebus baby d,"
Mendengar itu tubuh Castin bergetar hebat, giginya bergemeretak saling beradu, tangannya menyatu erat membentuk tinjuan, air mata terlarang hampir saja menetes. Castin benar-benar tak menyangka dengan kenyataan yang baru saja Asisten Helder jelaskan.
"Kau tahu apa yang harus kau lakukan, Helder?" tanya Castin dengan wajah memerah dan urat-urat leher yang mengencang.
"Mencari penerima ginjal nona," jawab Asistem Helder menebak asal.
"Bukan itu!" bentak Castin hingga suara bass-nya bergema menggelegar, membuat merinding siapa pun yang mendengarnya.
"La-lalu apa, Tuan?" tanya Asisten Helder tak mengerti.
"Siapkan segala sesuatu karena aku harus menikahinya secepat mungkin sebelum keduluan pria lain!" tegas Castin membuat Asisten Helder dan pengawal lainnya tercengang kaget. Ia langsung berbalik badan akan berlalu pergi.
Ketika tiba di ambang pintu, ia menghentikan langkah kaki kala mengingat dua orang sekapannya.
"Siksa mereka berdua, gunakan kayu dan pisau, setelah itu penjarakan! Jangan beri makan dan minum! Letakkan burung bangkai yang kelaparan di dalam penjara mereka!" titah Castin, kemudian langsung pergi.
***
Tiba di mansion, Castin segera turun dari mobil tanpa sempat pengawal membukakan pintu mobil untuknya. Setelah itu, Castin bergegas masuk ke dalam rumah, kemudian berlari menuju kamar Cleona.
"Tuan," ucap Cleona kaget atas kedatangan Castin yang tiba-tiba. Castin tak mengatakan apa pun, ia mendekati Cleona seperti dikejar hantu, membuat Cleona ketakutan dibuatnya.
"Apa yang terjadi, Tuan?" tanya Cleona, namun Castin tiba-tiba saja menyingkap dress yang saat itu ia kenakan. Perlakuan tak senonoh yang Castin lakukan membaut Cleona berontak berusaha melepaskan diri. Akan tetapi tak bisa karena tenaganya tentu kalah jauh dengan tenaga Castin.
__ADS_1
"Apa ini? Jelaskan padaku dengan jujur," pinta Castin sambil menunjuk bekas luka operasi di perut Cleona.
"Lepaskan dulu, setelah itu baru akan saya jelaskan," pinta Cleona dan Castin pun langsung melepaskannya.
"Sekarang jelaskan," tagih Castin dengan mata memerah, keringat bercucuran serta bibir yang bergetar. Cleona bingung apa yang terjadi sebenarnya.
"Luka ini adalah bekas operasi," jawab Cleona dengan ekspresi biasa saja.
"Operasi apa?" tanya Castin dengan mata tajamnya.
"Operasi pendonoran ginjal untuk menebus baby d, Tuan." lanjut Cleona dengan entengnya, tak tampak sedikit pun kesedihan apa lagi penyesalan dari raut wajahnya.
Castin tak menyangka Cleona mengatakannya dengan sangat mudah. Apa dia tidak merasa sedih sedikit pun. Bukankah itu sebuah ginjal? Berani melakukannya, artinya Cleona berani menanggung konsekuensi yang bisa saja ia kehilangan nyawa.
"Tuan, apa tuan baik-baik saja?" tanya Cleona dengan ekspresi kagetnya, baru kali ini ia melihat seorang pria menangis secara langsung di hadapannya.
Bug!
Tulang-tulang di tubuh Castin seakan melemas, ia terjatuh dan bersimpuh di hadapan Cleona. Air matanya masih mengalir, ia sama sekali tak menepisnya.
Bodohlah dengan citra diri yang selalu ia junjung tinggi. Castin merasa sangat rendah dan menjijikkan ketika berdiri di hadapan seorang wanita yang bahkan rela mengorbankan nyawa untuk putranya tercinta.
"Tuan," Cleona turut bersimpuh, ia mendekap Castin dengan erat, takut pria tampan itu tiba-tiba pingsan. Wajah Cleona nampak sangat khawatir dan ketakutan.
"Kenapa kamu melakukannya?" tanya Castin lemah. Cleona mengerutkan alis heran.
__ADS_1
"Kenapa dengan mudahnya kamu mengorbankan nyawa demi seorang bayi yang tidak kau kenali. Bahkan, kau tidak menyalahkan bayi pungut itu. Apa kau tidak sadar penderitaan yang kamu alami adalah karena merawat bayi itu? Kenapa? Kenapa kau begitu baik, Cleona? Kenapa?" tanya Castin dengan bibir yang bergetar. Seorang pengeran sepertinya tunduk di hadapan seorang Cleona.
"Saya melakukannya karena saya menyayangi baby d dengan tulus. Saya adalah seorang manusia yang punya hati, Tuan. Saya tidak tega melihat manusia lain menderita, apalagi dia adalah seorang bayi yang tidak berdosa, dia tidak tahu apa-apa," jawab Cleona masih tegar, ia sama sekali tak menangis.
"Apa harus dengan mengorbankan nyawamu?" sambung Castin dengan nada suara yang meninggi.
"Saya tidak peduli pada diri saya sendiri, Tuan."
"Aku peduli!"
.
.
.
Mohon maaf baru sempat update, Guys🙏🏻😭. Bukannya gak mau update, apalagi males-malesan. Cuma ya namanya manusia, ada masa moodnya bagus, ada pula masa badmood. Kalau lagi badmood, Othor gak mau maksain diri buat nulis. Takut malah jatuh sick atau malah buat cerita ini jadi ngawur gak jelas, terus kalian gak suka. Othor gak mau buat kalian gak suka🥺.
Maafkan curhatannya, ya, Guys🙏🏻
Terima kasih banyak sudah cinta Castin dan Cleona, terima kasih banyak atas dukungan dan pengertiannya. Othor Calangeo kalian semua💞💞😘
__ADS_1