
Tiba di kontrakan, Cleona langsung masuk, menutup pintu kemudian menguncinya dengan rapat. Cleona membalikkan badan dan bersandar di daun pintu. Tubuh Cleona merosot perlahan, ia duduk bersimpuh dengan air mata yang membanjiri pipinya.
"Maafkan aku, Kak Harles. Semuanya terjadi karena kamu, aku membencimu!" teriak Cleona sambil memukul-mukul dadanya sendiri, rasa sakit, nyeri, beserta sakit tak lagi ia pedulikan.
Cleona kembali menyalahkan bentuk tubuhnya yang subur. Bagi Cleona, ukuran tubuhnya yang tak biasa-lah, yang menjadi penyebab penderitanya hingga saat ini. Kalau punya uang lebih, mungkin Cleona sudah melakukan operasi pengecilan payu dara. Andai tubuhnya biasa saja, orang-orang tidak akan mengolok-oloknya, dan kaum pria tidak akan tergoda olehnya.
Cleona reflek mengangkat kepala ketika merasa ada tangan mungil yang mencoba meraihnya. Lengkungan kecil terbit di bibirnya saat melihat betapa menggemaskannya seorang malaikat yang kini tersenyum imut menatapnya.
Tangan mungil itu menepuk-nepuk kaki Cleona yang dapat ia jangkau. Malaikat kecil itu seakan ingin menenangkan Cleona agar tak lagi bersedih. Senyuman manis di bibir mungil dan tingkahnya yang manis, mampu memecah bela tangisan Cleona dan digantikan dengan senyuman yang indah.
"Maaf, aku hampir melupakanmu yang sangat memerlukan Asiku," Cleona mengangkat tubuh mungil baby Dizon, kemudian menggendong dan membawanya hingga ke atas ranjang. Popok baby Dizon yang isinya sangat penuh langsung Cleona bersihkan dan ia ganti dengan yang baru.
Setelah itu, Cleona membawa baby Dizon ke atas ranjang. Keduanya berbaring di sana, Cleona mengeluarkan payu daranya, baby Dizon terlihat antusias karena ia sudah kelaparan.
Siang itu Cleona memutuskan untuk tidak berangkat bekerja karena pikirannya tidak tenang usai kejadian yang menimpanya hari itu.
***
Keesokan harinya, Cleona berangkat sekolah seperti biasa. Tak disangka berita tentang Anan dan Harles begitu cepat menyebar. Cleona merasa lega sekaligus ketakutan saat mendengar cerita dari para murid yang mengatakan kalau Anan tengah dirawat di rumah sakit dalam keadaan kritis.
Cleona senang karena itu artinya Anan masih hidup, tapi di sisi lain Cleona juga merasa takut karena kalau sampai Anan sadarkan diri, maka tamatlah riwayatnya. Tak hanya takut, Cleona juga merasa bersalah pada Harles.
Kabarnya, Harles kembali dikirim ke luar negeri untuk menjalani hukuman yang katanya lebih berat daripada hukuman yang selama ini didapat dari semua kesalahan yang pernah Harles lakukan.
__ADS_1
Cleona duduk di kursinya dengan wajah yang pucat pasi. Semua murid di kelas langsung mengerumuninya, Cleona membatu tubuhnya. "Pasti gara-gara Lo, kan?" seorang murid perempuan langsung mencengkram kerah seragam Cleona.
Cleona menggelengkan kepala sebagai jawaban. "Jelas-jelas Anan ngikutin Lo kemarin, pasti Lo kan penyebab pertengkaran antara Kak Harles dan Anan?" Cleona kembali menggeleng dengan air mata yang sudah mengucur deras.
"Masih belum mau ngaku!" bentaknya membuat tubuh Cleona bergetar.
"Kita habisin aja ja lang pembawa sial ini!" seru murid lainnya memprovokasi.
"Setuju!" sahut yang lainnya.
"Setuju apa?" tanya wali kelas Cleona yang akan memulai pelajaran pagi itu. Semua murid langsung bubar dan kembali duduk di kursi masing-masing.
"Cleona tidak ada hubungannya dengan masalah yang terjadi kepada Anan dan Harles. Jadi, ibu harap kalian tidak menyalahkan Cleona apalagi melukainya. Apa kalian mengerti?"
Siang menjelang sore Cleona menyusuri jalan seperti biasa untuk segera pulang ke kontrakan. Cleona langsung menghentikan langkah kakinya tiba-tiba, karena merasa ada seseorang yang menguntitnya. Cleona membalikkan badan dengan cepat, tapi zonk, tidak seorang pun yang mengikutinya.
Cleona kembali melanjutkan perjalanan dengan langkah kaki yang lebih tepat. Namun, langkah kaki Cleona kembali terhenti saat melewati gudang di mana kemarin ia hampir diperkosa oleh Anan.
Adegan mengerikan itu terputar secara otomatis di kepalanya, Cleona menggeleng, lalu berlari dengan kencang hingga tiba di kontrakan.
Walau sudah berada di dalam kontrakan, entah kenapa Cleona masih merasa ada orang yang menguntitnya. Hal itu membuat Cleona tak tenang. Cleona mengunci pintu dan jendela saat akan menyusui baby Dizon.
Hari itu Cleona akan kembali berangkat bekerja. Cleona terpaksa membawa baby Dizon bersamanya karena takut terjadi sesuatu bila terus ia tinggal. Apalagi perasaannya sedang tidak baik-baik saja.
__ADS_1
Tiba di perusahaan Cleona mendapat amukan besar dari bosnya. Apalagi alasannya kalau bukan karena kemarin ia tidak masuk bekerja. Meski dimarahi habis-habisan hingga baby Dizon menangis, tapi Cleona tetap dibawa menuju lokasi syuting.
Baby Dizon yang terlelap Cleona baringkan di dalam tenda istirahat. Sedangkan ia tengah di make up. Usai di make up, Cleona dipanggil oleh penata busana.
"Ini, ganti pakaianmu dengan cepat!" penata busana melempar sebuah lingerie seksi berwarna merah ke arah wajah Cleona.
"Ini lingerie, Kak." ucap Cleona.
"Memang iya. Apa aku ada mengatakan itu baju renang?" Cleona langsung menggelengkan kepalanya cepat.
"Ya sudah, pakai saja."
"Kenapa harus pakai lingerie, Kak? Bukankah adegan yang harus aku gantikan hari ini adalah loncat dari gedung?"
"Siapa bilang? Adegan yang harus kamu gantikan hari ini adalah adegan ranjang."
"Apa!"
.
.
.
__ADS_1