
"Tuan!" teriak Cleona kaget dan reflek menjauhkan diri sambil menutupi dada seadanya.
"Maaf," ucap Castin langsung bangkit lalu berjalan menuju ranjang putranya dengan langkah yang agak aneh, seperti ada sesuatu yang mengganjal di pangkal paha.
Di sana, jauh dari Cleona, Castin fokus menatap putranya yang tengah tertidur pulas. Namun, ia langsung membalikkan badan menghadap Cleona usai samar-samar mendengar suara isakan.
"Cleona," panggil Castin dari jauh, Cleona tak merespon. Castin pun mendekati Cleona yang bersimpuh di atas ranjang, sambil menutupi wajah dengan kedua telapak tangan.
"Kau menangis," Castin menyentuh tangan Cleona, berusaha menyingkirkannya dari wajah Namun, Cleona tak membuka wajahnya sama sekali, suara isakan tertahan kembali terdengar, Castin dibuat khawatir.
"Aku minta maaf, aku benar-benar tidak sengaja. Sungguh aku belum menyentuhnya sama sekali, hanya sekilas saja, benar-benar sekilas sampai aku tidak merasakan apa pun," terang Castin membela diri.
Cleona masih tak merespon, ia masih menutup wajahnya. Cleona tak tahu harus berbuat apa? Bila biasanya ia dilecehkan oleh orang yang memang membencinya.
Tapi, kali ini ia dilecehkan oleh orang yang ia harapkan baik kepadanya. Cleona menangis karena kecewa, kecewa karena Castin tak sebaik yang ia harapkan.
__ADS_1
Cleona yang sudah tak tahan langsung bangkit dan siap akan berlari keluar dari kamar. Ia berencana akan kabur. Namun, Castin justru menahannya. "Mau ke mana?" tanya Castin dengan suara bass-nya yang tebal.
"Lepaskan! Aku mau pergi!" teriak Cleona histeris dengan air mata yang menggenangi kedua pipinya. Castin dibuat kaget sekaligus merasa bersalah.
OEK!
Teriakan histeris Cleona tentu saja membangunkan baby d yang sebelumnya tengah terlelap. Mendengar itu, Castin langsung melepaskan pergelangan tangan Cleona, lalu berlari menuju ranjang putranya.
Castin menggendong baby d yang terus menangis histeris sambil melambaikan tangannya kepada Cleona yang masih berdiri mematung di tempat sebelumnya. Tampaknya, baby d tak rela ditinggalkan oleh ibu susunya.
"Pergilah, bukankah tadi kamu bilang ingin pergi," usir Castin membuat tangisan putranya semakin histeris. Ia berusaha membujuknya, tapi tentu saja tidak bisa.
Pada akhirnya Cleona mengalah, ia berjalan perlahan menuju Castin. Setelah itu langsung merebut baby d dari pelukan Castin. Andai ia tak bertemu dan juga tak ditabrak oleh Castin, sudah dipastikan Cleona akan hidup bahagia bersama putranya dengan hasil uang menjual ginjalnya. Namum sayang, takdir berkata lain. Castin berhasil menjerat Cleona dengan putranya.
Saat berada dalam pelukan Cleona, baby d langsung terdiam dan tak lagi menangis histeris. Bayi menggemaskan itu seketika kembali tersenyum dan berceloteh tak jelas. Cleona yang semula menangis kini kembali tersenyum.
__ADS_1
Sementara Castin merasa lega. Tentu saja lega, hampir saja ia kehilangan pepaya jumbo miliknya. Putranya memang paling mengerti apa yang papanya butuhkan.
Castin mendekat pada Cleona yang duduk di pinggir ranjang sambil bermain dengan baby d. "Maaf, aku benar-benar tidak sengaja. Sungguh, gerakan tadi hanya reflek saja," ucap Castin tulus. Cleona menatapnya sekilas, kemudian kembali menundukkan wajahnya, ia menepis cepat air matanya yang mengalir.
Tok, tok, tok!
Castin langsung membuka pintu kamar. Pelayan Mumu mengantarkan paket, Castin menerimanya, kemudian langsung membawanya masuk ke dalam kamar.
"Besok saja aku ajarkan, sekarang istirahatlah," Castin meletakkan paketnya ke atas nakas, kemudian keluar dari kamar Cleona. Castin mengurungkan niat untuk tidur bersama putranya.
Sebelum pergi, Castin berdiri beberapa detik di depan pintu kamar Cleona. Castin menoleh ke bawah sambil menghela napas kasar.
"Mandi air dingin lagi."
.
__ADS_1
.
.