
"Adegan yang harus kamu gantikan hari ini adalah adegan ranjang."
"Apa!" Cleona membulatkan matanya sempurna, napasnya seketika terasa sesak saat mendengar adegan yang harus ia gantikan. Cleona tidak menyangka kalau dirinya akan diminta untuk melakukan adegan ranjang. Kalau ia tahu dari awal ada adegan semacam itu, Cleona tidak akan mau menjadi pemeran pengganti sebesar apa pun gajinya.
"Adegan seberbahaya apa pun akan saya lakukan, Kak. Tapi, saya tidak bisa kalau harus melakukan adegan seperti itu, saya benar-benar tidak bisa," jelas Cleona menolak keras adegan ranjang seperti yang penata busana katakan.
"Sok suci amat kamu, sudah punya anak juga. Sudah cepat kenakan dulu lingerie itu, lalu temui pak sutradara dan protes ke dia. Saya mana tahu urusan begitu, tugas saya cuma memastikan kamu memakai busana yang sudah disiapkan," terang sang penata rias memaksa Cleona untuk mengenakan lingerie seksi itu.
"Apa ada lingerie yang tidak terlalu menerawang, Kak?" tanya Cleona ragu untuk mengenakan lingerie seksi yang jika dikenakan maka akan memamerkan lekuk tubuh Cleona yang ukurannya tak biasa.
Bila dikenakan oleh wanita biasa mungkin lingerie itu tidak terlalu seksi karena masih tak jauh berbeda dengan gaun malam pada umumnya. Tapi, beda lagi kisahnya bila sudah melekat di tubuh Cleona yang tak biasa. Pakaian kedodoran saja bisa jadi seksi, apalagi sebuah lingerie.
"Pakai saja dulu, lagian kamu juga pakai dalaman, kan? Sudah sana cepat ganti, saya tidak punya banyak waktu!" Paksanya sambil mendorong Cleona hingga masuk ke dalam ruang ganti.
Di depan cermin seukuran tubuhnya, Cleona berdiri tak nyaman karena saat ini ia sudah mengenakan lingerie yang memperlihatkan setengah dari gundukannya yang menggoda. Lingerie dengan panjang selutut dan tanpa lengan itu mampu membuat Cleona semakin semakin cantik dan mempesona.
"Kenapa lama sekali? Cepatlah!" desak sang penata busana, Cleona pun terpaksa keluar dari ruang ganti.
"Kemarilah," panggilnya mulai memasang aksesoris lainnya seperti kalung, anting dan gelang berwarna senada.
"Payu daramu boleh juga, suntik atau operasi impan?" tanyanya sambil mengenakan kalung di leher jenjang Cleona.
__ADS_1
"Asli, Kak." jawab Cleona jujur.
"Ck! Mana mungkin," ejeknya tak percaya. Cleona hanya diam, tidak penting baginya untuk menjelaskan karena percuma.
Setelah siap dengan busana super seksinya, Cleona diarahkan masuk ke dalam Castil, ketika Cleona datang, semua staf baik laki-laki maupun perempuan membatu dengan mata melotot kala melihat penampilan Cleona hari itu. Staf laki-laki kompak menelan saliva masing-masing, sementara staf perempuan tentu saja memandang iri.
Apalagi Katelyn sang pemeran utama. Ia terlihat kesal karena tubuh Cleona jauh lebih seksi dibandingkan dengan tubuhnya. Padahal ia dan Cleona sama-sama mengenakan lingerie yang serupa.
Berjalan perlahan Cleona berusaha menutupi bagian tertentu seadanya. Tak hanya staf yang tercengang melihat keseksian Cleona, tapi juga sang sutradara yang sedari tadi tak mengedipkan mata bahkan hingga Cleona berdiri tepat di hadapannya.
"Pak," panggil Cleoan tapi sang sutradara masih bengong.
"Pak!" panggil Cleoan lagi dengan volume suara yang tinggi. Akan tetapi, sang sutradara tak kunjung sadarkan diri.
"Ya," jawabnya singkat sambil mengusap tengkuk.
"Ada sesuatu yang ingin saya katakan, Pak."
"Katakan saja," balasnya menelan saliva.
"Adegan apa pun akan saya lakukan, walau adegan itu dapat membahayakan nyawa saya sekali pun. Tapi, saya tidak bisa bila harus melakukan adegan ranjang. Untuk itu, saya menolak untuk melakukan adegan ranjang tersebut, Pak. Saya mohon bantu saya, Pak. Saya benar-benar tidak bisa melakukannya," jelas Cleona lugas.
__ADS_1
"Kau tinggal berbaring saja, selebihnya serahkan padaku," sahut aktor berwajah rupawan yang akan menjadi lawan main Cleona.
"Maaf, saya tidak bisa!" tegas Cleona menolak keras.
"Kau sudah menandatangani surat kontrak, maka kau tidak akan bisa menolak," kata sang sutradara tegas.
"Cris, lakukan tugasmu," lanjut sang sutradara meminta aktor untuk membawa Cleona ke atas ranjang yang sudah disiapkan.
"Oke, Pak," balasnya dengan senyuman licik.
"Tidak! Saya mohon jangan, Pak. Saya tidak mau! Saya mohon!" Cleona berlutut di kaki sang sutradara.
Aktor bernama Cris itu langsung menggendong Cleona ala bridal, ia tak mempedulikan teriakan Cleona. Sang sutradara terlihat puas, karena adegan ranjang yang akan dilakukan memang dengan paksaan.
"Aakh!" teriak Cleoan saat tubuhnya dilempar kasar ke atas ranjang.
"Aku akan memuaskanmu," Cris menyeringai.
"TIDAK!"
.
__ADS_1
.
.