
Tanpa mempedulikan apa pun, Castin langsung membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan praktek Dokter Calvin.
"Kenapa kau kembali?" tanya Dokter Calvin yang kini menyiapkan beberapa alat prakteknya bersama seorang suster.
Castin tak merespon, ia mengabaikan Dokter Calvin dan langsung meraih dompetnya yang terletak di atas meja. Setelah mendapatkannya, Castin pun langsung pergi begitu saja. Dokter Calvin menggelengkan kepala.
Tepat setelah kepergian Castin, barulah Cleona muncul dari dalam sebuah ruangan lain yang masih ada di ruangan luas tersebut. Cleona muncul dengan mengenakan baju khusus, yang di mana terdapat resleting horizontal memanjang, tepat di bagian pepaya jumbonya.
Karena sudah tak mengenakan bra, pepaya jumbonya pun tercetak jelas. Padahal, baju yang ia kenakan adalah ukuran paling besar, tapi saat melekat di tubuh Cleona, maka baju itu tampak sangat ketat.
Siapa yang tak tergoda dengan pesona pepaya jumbo yang menonjol, termasuk seorang Dokter Calvin sekali pun. Tak hanya dokter Calvin. Tapi, seorang suster yang membantunya juga dibuat takjub dengan ukuran pepaya Cleona yang luar biasa. Suster cantik itu langsung menatap kecewa dua apel mininya yang tentu saja sangat jauh berbeda dengan pepaya jumbo milik Cleona.
Dokter Calvin menggelengkan kepalanya, ia berusaha untuk tetap bersikap profesional. Ia akan menganggap Cleona sama seperti pasiennya yang lain.
Dengan ekspresi biasa, Dokter Calvin meminta Cleona duduk di sebuah alat khusus. Kemudian Dokter Calvin duduk tepat di hadapan Cleona. "Apa bisa dibuka," tanya Dokter Calvin bingung karena jelas-jelas bagian depan itu sangatlah ketat.
"Sepertinya bisa, Dokter," jawab Cleona yakin.
Dokter Calvin langsung menoleh ke arah lain. "Kalau begitu bukalah, Nona," titahnya dan Cleona mulai membuka resleting bajunya, kemudian menutupi biji pink-nya.
"Sudah, Dokter."
"Baik, Kita mulai sekarang," sahut Dokter Calvin mulai menutupi bagian dada Cleona, dengan sebuah papan berbentuk cermin buram yang masih terhubung dengan alat yang Cleona duduki.
Suster memberikan sebuah buku berukuran besar dan juga pena. Dokter Calvin mulai meneliti dengan serius benda di depannya, lalu mencatatnya. Setelah Dokter Calvin mengatakan selesai, Cleona pun langsung menutup kembali resleting di dadanya.
Karena pemeriksaan aneh itu telah selesai, Cleona kembali ke ruangan kecil sebelumnya dan segera mengganti bajunya. Begitu selesai, Cleona keluar dan diminta duduk di hadapan Dokter Calvin.
__ADS_1
"Bagaimana, Dokter? Em ... payu dara saya baik-baik saja, bukan?" tanya Cleona malu-malu.
"Untuk saat ini baik-baik saja dan tidak ada masalah yang serius. Tapi, pemeriksaan harus terus dilakukan, minggu depan Nona harus kembali lagi," tutur Dokter Calvin.
"Baiklah, Dokter. Apa saya sudah boleh pulang sekarang?" Cleona merasa gelisah karena meninggalkan baby d terlalu lama.
"Sebentar," Dokter Calvin membuka laci di mejanya, lalu mengulurkan dua benda yang terdiri dari sebuah ponsel baru dengan merek apel digigit, juga satu tablet pil.
"Ambillah," ucap Dokter Calvin membuat Cleona bingung.
"Maksud dokter apa?"
"Ini adalah ponsel untuk Nona, ponsel ini saya pinjamkan agar saya bisa terus memantau kondisi Nona. Untuk pil ini, ini adalah pil khusus yang sudah saya racik sendiri. Pil ini dapat mengurangi produksi asi, saya racik dengan aman dan tidak akan menyebabkan efek samping apa pun," terang Dokter Calvin.
"Maaf, Dokter. Bukannya tidak menghargai bantuan yang Dokter tawarkan, hanya saja saya benar-benar tidak membutuhkannya. Dokter tidak perlu repot-repot begini, dapat melakukan pemeriksaan secara gratis saja itu sudah lebih dari cukup bagi saya. Maaf saya terburu-buru, minggu depan saya akan kembali lagi, terima kasih banyak untuk pemeriksaan hari ini," tolak Cleona dengan halus. Kemudian langsung pergi terburu-buru usai mengucapkan terima kasih.
"Ke mana lagi, Nona?" tanya supir saat Cleona sudah masuk ke dalam mobil
"Ke apotek, Pak," jawab Cleona cepat.
Tak lama berselang, mobil pun berhenti di Apotek mewah tiga lantai. Cleona ragu untuk masuk ke dalam sana. Tapi, supirnya sudah membukakan pintu dan mempersilahkannya masuk.
Sampai di dalam sana, Cleona yang bingung langsung mencari alternatif cepat yaitu menghampiri dan bertanya langsung kepada seorang staf yang bertugas.
"Maaf, Kak. Apa ada alat penyedot asi?" tanya Cleona dengan polosnya.
"Ada, Kak. Sebelah sini," ajak pelayan itu.
__ADS_1
"Silahkan dipilih, Nona. Yang paling bagus adalah merek ini," lanjutnya memberi Cleona rekomendasi alat penyedot ASI paling mahal.
"Yang paling murah saja, Kak. Saya takut kartu ini tidak berfungsi," tutur Cleona sambil memperlihatkan kartu hitam yang membuat staf yang melayaninya hampir pingsan.
"Kekayaan tak selalu terlihat dari penampilan," batin staf itu tercengang.
"Maksudnya, Kak?" tanya Cleona tak mengerti.
"Nona, dengarkan saya baik-baik. Ini adalah kartu sakti, jangankan untuk membeli satu alat penyedot asi paling mahal ini, memborong seluruh isi yang ada di gedung apotek ini, tidak akan membuat uang di dalamnya berkurang barang sedikit pun," terangnya membulat Cleona membulatkan matanya sempurna.
"Benarkah?" tanya Cleona tak percaya.
"Tentu saja, Nona. Ngomong-ngomong, dari mana Nona mendapatkan kartu itu?" tanyanya penasaran.
"Bukan apa-apa, kalau begitu saya mau alat penyedot asi yang paling mahal saja," tutur Cleona dan staf langsung memberikannya kepada Cleona.
Usai mendapatkan barang yang ia cari, Cleona langsung membawanya ke kasir untuk membayarnya.
"Tolong bungkus ini, Kak," pinta Cleona pada sang kasir yang penampilannya begitu menor.
"Ck! Kamu tidak salah beli? Ini barang mahal, orang miskin sepertimu tidak akan sanggup membayarnya."
.
.
.
__ADS_1
Author tumbang, Guys🤒. Maaf baru bisa update sekarang 🙏🏻