
"Menikah denganku saja," ajak Castin to the point.
Cleona terbelalak dengan mulut yang bertanya dengan sendirinya, "Sekarang?"
"Abad depan, ya sekarang lah! Kalau mau menumpang di rumahku, ya kita harus menikah," Cleona masih mengira Castin mempermainkannya.
"Usia saya baru enam belas tahun, Tuan."
"Lalu?"
"Bukankah saya terlalu muda dan Tuan terlalu tua," timpal Cleona dengan polosnya.
"Apa?" bentak Castin kesal.
"Tuan terlalu tua," ulang Cleona lagi.
"Apa aku seperti pria tua di matamu?" raut wajah Castin terlihat sangat tidak suka dikatai tua.
"Bukankah Tuan memang tua?" Cleona masih belum mengerti kalau lawan bicaranya tengah berapi-api. Bagaimana tidak? Selama ini ia selalu dikagumi oleh kaum wanita karena ketampanannya.
Tentu saja Castin shock saat Cleona mengatakan kalau dirinya adalah pria tua. Tidak salah memang, mengingat usianya sudah genap dua puluh delapan tahun, tapi tetap saja Castin tak terima dikatai pria tua.
Castin menghela napas guna menurunkan tingkat emosi yang semula memuncak. "Apa dua puluh delapan tahun adalah pria tua di matamu?" tanya Castin pelan usai berhasil mengontrol emosinya.
"Tentu saja. Selain itu Tuan juga punya seorang putra dan pastinya tuan juga punya seorang istri. Jadi, mana boleh mengajak menikah seorang gadis sepertiku begitu saja," terang Cleona menjelaskan.
"Aku seorang Duda," ungkap Castin sukses membuat Cleona kaget.
"Jadi, Baby d tidak punya seorang ibu," balas Cleona menatap baby d dengan ekspresi sedihnya.
"Tapi, jelaskan kepada saya lebih dulu tentang kenapa Tuan memutuskan untuk menikahi saya secepat itu? Bukankah kita baru saja bertemu, kita bahkan belum mengenal satu sama lain," lanjut Cleona mengajukan pertanyaan yang membuatnya terheran-heran.
Hidupnya seakan sedang di wahana permainan. Tentu saja, bagaimana mungkin ia diajak menikah semudah itu. Cleona paham hidup memang penuh kejutan, tapi bukankah kejutan ini keterlaluan? Kejadian yang terjadi saat ini, kejadian yang datang tidak bisa dikendalikan. Semua yang terjadi di luar ekspektasi dan menang sulit dicerna akal sehat.
"Lucunya, aku harus menikahimu karena aku sudah berjanji," jawab Castin membuat Cleona mengangguk kepala mengerti.
__ADS_1
"Sudah saya duga. Apa janjinya sama seperti di film-film?"
"Ya." jawab Castin cepat. Memang ia akui dirinya bodoh karena telah berjanji akan menjadikan keluarga kepada siapa yang sudah menemukan putranya. Tapi keluarga, bukannya istri.
"Jadi bagaimana?" tanya Castin.
"Saya ... Saya ...."
"Anggap saja pernikahan ini sebuah permainan yang saling menguntungkan. Aku menikahimu karena harus menepati janji dan kamu menikah denganku agar kamu tidak melarat lagi," jelas Castin benar-benar to the point tanpa ada yang ditutup-tutupi.
"Tapi saya tidak memiliki KTP dan bukankah dilarang menikahi dengan gadis di bawah umur seperti saya?"
"Itu bukan masalah besar."
"Saya tidak punya keluarga, saya miskin, saya bodoh, saya juga tidak cantik, saya—"
"Diamlah, aku menerimamu—"
"Apa adanya?" tanya Cleona dengan mata berbinar penuh harap.
"Lalu apa?"
"Aku menerimamu karena terpaksa," seketika Cleona kecewa, ia kira hidupnya akan bahagia karena diajak menikah oleh pengeran berkudanya. Tapi, hidup memang tak seindah itu.
"Apa Tuan benar-benar serius?"
"Kalau aku tidak serius, aku pasti akan mengajakmu berpacaran bukannya menikah."
"Tuan benar juga," balas Cleona berpikir keras.
"Ya sudah kalau begitu. Akan saya lakukan demi—"
"Tetap bersama baby d?"
"Itu yang kedua."
__ADS_1
"Yang pertama?"
"Demi punya sokongan kaya raya dan bisa melindungi saya dari kehidupan seperti sebelumnya," balas Cleona sangat jauh dari perkiraan Castin. Ia kira gadis yang polos akan baik hatinya.
Castin menatap Cleona tak percaya, "Mau kaya, mau miskin, mau cantik, mau jelek, mau polos sekalipun. Tapi, yang namanya wanita tetap saja matre." batin Castin sambil menggelengkan kepalanya.
Andai Castin tahu bagaimana kesulitan yang sudah Cleona hadapi, maka kata matre tidak akan pantas diucapkan untuk gadis yang terus disakiti dan dilecehkan seperti Cleona.
"Deal?" Castin mengulurkan tangannya.
Cleona ragu, tapi ia tak punya pilihan. Cleona berharap pilihannya kali ini tidak salah. Hanya beberapa hari bersama Castin, Cleona dapat merasakan kalau pria itu bukanlah pria yang jahat. Daripada hidup di jalanan, Cleona memutuskan untuk mencoba hidup bersama Castin.
Ya, itu pilihan satu-satunya. Lagian, Baby D adalah putra pria itu, kalau dia pergi maka Cleona akan pergi tanpa Baby d. Demi baby d dan demi melanjutkan kehidupan yang lebih baik, Cleona yakin akan pilihannya untuk menikah dengan Castin.
"Deal!" tegas Cleona menjabat tangan kekar Castin.
.
.
.
Author Said : Kalian sering komen gini "Jangan gantung Thor, kami ini bukan jemuran." Kesimpulannya, bagi kalian gantung itu nggak enak. Tapi, bukankah kalau gantung lebih seru?🤔. Penasaran-penasaran gimana gitu🙊.
Castin Said : Setuju Thor, yang GANTUNG emang seru. Kayak pepaya jumbo misalnya, penasaran-penasaran gimana gitu🌚.
Author Reog : Balik kandang nggk kamu!😤. Saya ciptain kamu buat jadi pria cool, bukan mesum!🤬. Heran dah, susah payah bikin image dingin, tegas, baik, jantan. Ini malah jadi mesum😭.
Duren CEO, Duren Dokter : Sabar Thor, janji nggak GANTUNG.
Author nggak mau dibujuk : 😭😭😭
Duren Polisi : (baru buka mulut mau ngomong).
Author masih ngamuk : Diam!👿
__ADS_1